'Andai sejak awal ia tak marah pada kakaknya. Ah, tidak. Andai sejak awal ia tak pernah tergila-gila pada Adam. Mungkin semuanya tak akan jadi seperti ini.'
'Andai ..., andai sejak awal ia tak menaruh hati kepada Adam, maka dirinya tak akan merengek kepada sang kakak yang berstatus sebagai kakak ipar pria itu. Kakaknya juga pasti tak akan terlibat ke dalam rencana keji yang menjadi alasan di balik kemarahannya saat ini.'
'Dengan begitu ...,hubungannya dengan sang kakak, bahkan dengan semua orang pasti akan baik-baik saja. Lebih dari pada itu ..., sang kakak, calon keponakannya, dan juga kakak iparnya pasti akan baik-baik saja. Mereka tak akan berada di dalam ruangan ICU dengan tubuh dipenuhi berbagai macam alat penunjang kehidupan.'
'Ah, semua ini memang salahnya!' Tak henti-hentinya Hana menyalahkan diri.
"Kalau seperti ini terus, maka kelak kalian pasti akan menyesal!" Kalimat ini ..., entah kenapa selalu terngiang di telinga Hana. Dan percaya tak percaya, kalimat tersebut membuat wanita itu merasa sangat amat bersalah kepada semua orang yang berada di sini.
"Ini salah Hana ...," gumam Hana pelan. Sangat pelan, tapi masih mampu didengar dengan baik oleh beberapa orang yang berada di sekitarnya. Termasuk Adam.
Sejak datang kemari, tak ada yang saling bicara di antara mereka. Baik Adam maupun Hana, mereka sama-sama diam. Seolah sibuk dengan isi pikirannya masing-masing.
"Ini bukan salah--" Baru saja Adam ingin menimpali perkataan sang istri, tapi belum sempat melakukan hal itu, kata-katanya telah lebih dulu disela oleh seseorang.
"Keluarga Nyonya Arini!"
Benar. Perawat lah, yang menyela kata-kata Adam.
Wanita dengan sergam khas itu berdiri tepat di depan pintu ruang ICU dengan wajah ditutupi masker.
"Ada apa, Sus?" tanya Mega cepat. "Saya ibunya," sambungnya kemudian.
Bukan hanya Mega, semua orang yang berada di sana, termasuk Hana dan Adam turut menghampiri sang perawat dengan raut wajah yang sama paniknya.
"Ada yang ingin dokter sampaikan," kata perawat tersebut.
Mendengar hal itu, jantung Hana serasa diremas. Entah kenapa, perasaannya jadi tak enak saat ini.
"Dengan keluarga Nyonya Arini?" tanya seseorang yang baru sekali keluar dari ruang ICU. pria yang berstatus sebagai dokter itu membuka maskernya sambil menghela napas pelan.
"Benar, Dok. Kami keluarganya. Saya ibunya," jawab Mega cepat.
"Baik. Kalau begitu langsung saja saya jelaskan," ujar Dokter tanpa banyak berbasa-basi.
"Pasien kehilangan banyak darah. Oleh karena itu, kami harus melakukan transfusi. Masalahnya, golongan darah pasien cukup langka dan rumah sakit ini tidak memiliki stok darah yang sama. Kami sudah mencoba mencari persediaan darah ke beberapa rumah sakit dan kantor PMI di sekitar, tapi mereka pun, tidak punya. Kami akan tetap berupaya mencari stok darah dari rumah sakit lainnya, tapi pasti membutuhkan waktu lama. Maka dari itu, kami harap para keluarga bisa turut membantu dengan mencari kenalan atau kerabat yang memiliki golongan dar--"
"Pakai darah saya saja, Dok. Golongan darah kami sama!" celetuk Hana tiba-tiba.
'Di saat seperti ini, bahkan meski orang-orang marah padanya, mereka tak akan menolak itikad baik ini. Dia yakin itu! Karena lebih dari apa pun, yang terpenting sekarang adalah nyawa Arini!' Begitu pikir Hana.
'Lagi pula, dirinya tak begitu penting di sini. Maksudnya ..., jika dibandingkan dengan Arini, dia tak ada apa-apanya. Kehadiran Arini jauh lebih dibutuhkan oleh semua orang. Sementara dia, ada ataupun tidak ada, sama saja. Tak akan ada yang peduli.'
Setidaknya, itu yang Hana pikirkan, sebelum ....
"Dia tidak bisa, Dok!" Adam yang sejak tadi hanya tampak diam, mulai membuka suara. Pria itu berbicara dengan raut wajah yang tak dapat dijelaskan.
"Saya akan temukan donor. Secepatnya!" tegas pria itu kemudian.
Pernyataannya ini sontak membuat semua orang yang berada di sana menatap bingung ke arahnya. Termasuk Hana.
Entah apa yang ada di pikiran Adam saat ini. Begitu kira-kira, pertanyaan yang berseliweran di kepala orang-orang.
"Baiklah, kalau memang itu yang diinginkan. Maka kami tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, seperti yang saya tekankan sejak awal, pasien sedang dalam masa kritis. Jadi--"
"Enggak, Dok! Enggak perlu menunggu lebih lama lagi. Saya yang akan mendonorkan darah!" tegas Hana tanpa memedulikan tatapan protes dari Adam.
"Saya enggak mengizinkan kamu, Hana!" Adam ikut menegaskan.
"Hana enggak membutuhkan izin dari Mas, asal Mas tahu!" balas Hana sengit.
Sesaat setelah mengatakan hal itu, Hana mengembalikan fokusnya pada sang dokter. Kemudian berkata, "Tolong ambil darah saya, Dok!"
"Ambil seberapa pun, yang dibutuhkan kakak saya!"
"Rayhana!"
"Silakan bicarakan terlebih dahulu. Setelah sepakat, tolong beritahu saya!" putus sang dokter sebelum menutup kembali maskernya.
"Untuk berjaga-jaga, kita harus tetap mencari donor," sambungnya kemudian.
Setelah itu, tanpa mengatakan apa pun, lagi, dokter beserta perawat yang berada di belakangnya kembali memasuki ruang ICU. Meninggalkan sepasang suami istri yang tampak diselimuti ketegangan.
"Hana, kamu beneran mau donorin darah kamu buat Arini, kan?" Pertanyaan tersebut membuat perhatian Hana teralihkan seketika.
Dia yang semula membalas tatapan Adam dengan sengit, kini menatap manik mata sang ibu mertua yang tampak berharap banyak kepadanya.
"Mama tenang saja. Hana akan donorkan darah Hana untuk Kak Arini," jawab Hana tanpa ragu-ragu. Seolah-olah benar-benar yakin dengan keputusannya.
"Enggak! Sudah saya bilang enggak boleh!!!" sergah Adam tiba-tiba dan penuh dengan penekanan.
'Meski tahu kalau Arini membutuhkan donor darah secepatnya, tapi Adam juga tak mau kalau Hana yang menjadi pendonor. Maksud Adam ..., hei! Istrinya itu tidak dalam keadaan yang sehat. Mau dilihat dari segi manapun tetap saja begitu.'
'Bahkan meski wanita itu hanya sibuk mengurung diri di dalam kamar beberapa hari belakangan, tapi Adam yakin betul kalau dia tak pernah tidur. Makan pun, mungkin tidak. '
'Jangan tanyakan dari mana Adam tahu tentang hal ini. Menghadapi sifat kekanakan Rayhana sejak belasan tahun lalu tentu sudah cukup untuk membuatnya hapal betul luar dan dalam tentang wanita itu.'
"Hana akan beritahu dokter, Ma," ujar Hana mantap. Tak dipedulikannya larangan keras yang Adam berikan.
Bagi Hana dan bagi semua orang, tentu keselamatan Arini adalah yang utama saat ini. Jadi, mau Adam melarang atau bagaimana, tetap saja tak akan berpengaruh.
"Rayhana Azzahara!!!" Adam menahan sebelah pergelangan tangan Hana sebelum wanita itu berhasil meninggalkannya. "Saya melarang kamu melakukan hal itu!" tegasnya kemudian.
Namun, bukan Hana namanya kalau akan menurut begitu saja. Apa lagi pada pria yang baru saja menipunya habis-habisan.
"Sudah berulang kali Hana bilang, Hana enggak butuh izin dari Mas!" ujar Hana menegaskan. "Dan Mas Adam enggak memiliki hak untuk mengatur-atur Hana."
"Saya punya hak, Hana!" balas Adam sengit. "Saya ini suami kamu! Jadi, saya berhak atas diri kamu!"
"Mantan suami, lebih tepatnya!"
"Saya enggak pernah menceraikan kam--"
"Saya yang mau bercerai dari Mas!"
"Cukup!"
Perhatian kedua insan yang sibuk berdebat itu seketika teralihkan saat mendapat interupsi dari seseorang. Rena, wanita paruh baya yang sedari tadi harap-harap cemas pada keadaan anak dan menantunya, menatap Adam dan Hana dengan d**a yang mulai naik turun.
"Kesampingkan dulu urusan rumah tangga kalian! Mau bercerai atau enggak, pikirkan itu nanti. Yang penting sekarang, cari donor untuk Arini! Pikirkan keadaannya dan calon anaknya! Karena walau bagaimanapun juga, mereka jadi begini karena ulah kalian!"
Hana tertegun. Meski tak bisa menampik apa yang ibu mertuanya katakan, tapi dia juga tak bisa membohongi diri. Hatinya sakit saat mendengar kalimat tersebut. Dia semakin merasa kalau kehadirannya semakin tak diharapkan di sini. Dirinya tak berarti sama sekali bagi orang-orang di sekitarnya. Batin wanita itu kembali meringis.
"Hana akan beritahu dokter sekarang," ujar Hana dengan raut wajah pias.
Ekspresinya yang seperti itu mencuri perhatian banyak orang. Namun, tak satupun dari mereka berniat untuk menenangkan ataupun menanyakan bagaimana perasaannya. Kecuali ....
"Hana ...."
Langkah Hana seketika terhenti saat mendengar panggilan tersebut. Panggilan yang dilayangkan oleh salah satu orang yang menjadi alasan di balik keterpurukannya selama ini.
Tak ingin tenggelam dalam rasa sakit lagi, akhirnya Hana memutuskan untuk melanjutkan langkah. Menghampiri dokter dan mengatakan tentang keputusannya.
"Adam kecewa sama Mama!" tegas Adam sebelum berlalu dari hadapan semua orang yang berada di sana.
***
Singkatnya, waktu berjalan dengan cukup cepat. Tanpa terasa, proses transfusi darah telah selesai dilaksanakan. Kondisi Hana yang kurang sehat membuat wanita itu tak bisa lepas dari perhatian tenaga medis.
Sebenarnya, setelah melakukan pemeriksaan pun, wanita itu dilarang melakukan proses transfusi, tapi karena dia kukuh ingin mendonorkan darah, maka dokter tak dapat melakukan apa-apa selain menuruti keinginannya. Tentu dengan berbagai pertimbangan.
"Kalau memiliki keluhan, tolong segera beritahu saya ya, Bu," ujar seorang perawat yang menangani Hana.
Hana mengangguk patuh. "Baik, Sus."
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu, ya."
Selepas kepergian sang perawat, Hana berniat memejamkan mata. Kepalanya terasa pening sejak tadi. Dadanya pun, terasa sesak. Entah karena tindakan transfusi sebelumnya atau justru karena rasa sakit yang memang telah bersarang di dadanya sejak tadi.
Ah, Menyebalkan! Hana benci perasaan ini.
-Bersambung-