Keputusan Gila

1110 Words
"Hana." Niat Hana untuk memejamkan mata terpaksa diurungkan saat mendengar panggilan dari seseorang. Rasa sesak yang sempat bersarang di dadanya pun, terpaksa ia tenggelamkan lagi dalam-dalam saat melihat siapa orang yang memanggilnya. "Mau apa lagi kalian?" tanya wanita dengan wajah yang masih tampak sangat pucat itu. "Mbak khawatir sama kamu, Hana. Mbak mau lihat kondisi kamu. Begitu pun, dengan Mas Adam. Kami mau memastikan keadaan kamu," jawab lawan bicara Hana yang kini telah masuk sepenuhnya ke dalam ruang rawat wanita itu. Berbeda dari sebelum-sebelumnya, Hana yang mendengar hal itu hanya tampak tersenyum tanpa minat. "Sekarang sudah lihat, kan? Kalau begitu, Mbak bisa pergi! Saya mau istirahat," ujar Hana setengah mengusir. "Mas juga!" sambungnya penuh penekanan. Setelah mengatakan hal itu, Hana menutup kedua matanya erat-erat tanpa memedulikan keberadaan dua orang yang konon sangat mengkhawatirkannya. "Hana ..., Mbak tahu kamu marah sama Mbak. Mbak juga tahu kalau Mbak sudah sangat bersalah sama kamu, untuk itu ..., Mbak minta maaf, Han. Mbak minta maaf." Bukannya pergi, Celine justru kembali mengutarakan permintaan maafnya kepada Hana, wanita yang sampai saat ini masih ia anggap sebagai adik sendiri. "Mbak juga menyesal, Han. Kalau tahu jadinya akan seperti ini, demi Tuhan, Mbak enggak akan meminta Mas Adam untuk menikah lagi. Enggak ...." Celine menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Di detik yang sama, wanita dengan rambut ikal alami sepanjang punggung itu berlutut tepat di samping brankar Hana. Dibiarkannya rambut hitam tebal nan ikal miliknya terurai, menjulur menutupi sisi-sisi wajahnya. "Kalau tahu jadinya akan seperti ini, demi Tuhan, sejak awal Mbak enggak akan memutuskan untuk kembali bersama dengan Mas Adam, Han." "Ini semua salah Mbak, Hana." "Ini salah Mbak yang serakah. Ini salah Mbak yang ...." "Cukup, Mbak!" Hana menginterupsi perkataan Celine dengan nada yang sangat lirih. Sungguh! Wanita itu tampak benar-benar tak memiliki tenaga lagi untuk marah, memaki ataupun membenarkan perkataan Celine. Dia seperti tak sanggup. Dadanya pun, sudah terlihat benar-benar sesak. "Tolong tinggalkan saya. Saya mau istirahat," ujarnya kemudian. Setelah mengatakan hal itu, Hana menekan sebuah tombol yang terdapat di samping brankarnya. "Tolong dengarkan Mbak dulu, Han! Mbak belum selesai bicara," ujar Celine setengah memohon. Adam yang melihat hal ini pun, tampak berusaha menghentikan sang mantan istri. "Cukup, Lin. Jangan seperti ini!" ujarnya mengingatkan. "Kamu enggak lupa kan, sama apa yang kamu bilang tadi?" "Jangan halangi aku, Mas!" Tanpa memedulikan larangan dari Adam, Celine terus mendekatkan dirinya dengan Hana. Berharap dengan begini, wanita itu mau mendengar penjelasannya. "Hana ...., kamu harus dengarkan Mbak dulu, Han." "Cukup, Mbak. Saya mau--" "Mbak akan tinggalkan Mas Adam demi kamu, Hana!" Hana tertegun. Kata-kata yang sebelumnya sudah berada di ujung lidahnya, kini tertelan kembali akibat pernyataan Celine. 'Andai ..., andai kalimat ini ia dengar lebih cepat, mungkin dirinya tak akan merasa sesakit ini.' "Celine! Bicara apa kamu?" Bukan Hana, yang memberikan protes terhadap pernyataan Celine justru Adam. "Enggak! Aku enggak setuju!" tolak pria itu mentah-mentah. "Aku serius, Mas. Aku enggak mau melanjutkan hubungan ini. Aku mau kita--" "MBAK PIKIR SAYA BUTUH BELAS KASIHAN DARI MBAK, HA?" "ENGGAK, MBAK! SAYA SAMA SEKALI ENGGAK BUTUH!" "PERGI KALIAN DARI SINI!" "PERGIII!!!!" teriak Hana berang. Emosinya benar-benar tak terbendung lagi sekarang. Wanita itu benar-benar lepas kendali. 'Adam dan Celine. Kedua insan itu benar-benar b******k!' Tak henti-hentinya Hana mengutuk dari dalam hati. Adam yang merasa cukup khawatir setelah melihat keadaan Hana berniat menenangkan wanita itu dengan cara memeluknya. Sama seperti yang kerap ia lakukan dulu, setiap kali disuruh menenangkan Hana ketika wanita itu mengalami masalah. Namun, belum sempat niat tersebut terealisasi, pergerakan Adam telah lebih dulu terhenti karena .... "PERGI, MAS!" titah Hana penuh penekanan. "Maaf saya mengganggu. Ada apa, Bu?" Perhatian semua orang yang berada di sana seketika teralihkan ke arah wanita dengan pakaian khas seorang perawat. "Tolong keluarkan mereka, Sus! Saya mau istirahat," pinta Hana dengan nada yang kembali lirih. Bersamaan dengan hal itu, Hana membalikkan tubuh. Kemudian menutup kedua matanya yang terasa panas. 'Dirinya benar-benar merasa hancur sekarang. Bukan hanya perasaan, tapi mental dan harga dirinya pun, ikut dibuat hancur oleh orang yang pernah sangat ia cintai.' "Tolong keluar dengan saya Pak, Bu!" *** Hari demi hari berlalu. Berkat donor darah dari Hana, Arini berhasil diselamatkan. Pun, dengan bayi dan suaminya yang juga dapat diselamatkan berkat tindakan cepat dokter. Tentu tak terlepas dari bantuan Allah SWT. Semua orang merasa sangat bahagia. Tak terkecuali Hana. Melihat kakak dan keponakannya mampu melewati masa-masa kritis, setidaknya bisa mengurangi sedikit perasaan bersalah wanita itu. Namun, meskipun begitu, hingga hari ini tak ada sedikitpun niatan Hana untuk bertemu dengan kakaknya ataupun orang-orang dari keluarganya. Termasuk Adam. Benar, sejak kejadian hari itu, Hana kembali memutus kontak dengan Adam dan keluarganya. Tak tanggung-tanggung, kali ini wanita itu bahkan sampai nekat pergi dari rumah hanya dengan bermodalkan dompet, serta ponsel dan baju seadanya. "Kamu yakin mau ikut, Han?" "Aku enggak pernah lebih yakin dari ini, sebelumnya," balas Hana cepat. Dengan raut wajah yang masih tampak sedikit pucat, wanita itu mengencangkan tali ranselnya. "Coba kamu pikirin lagi, deh. Bukannya apa, masalahnya tempat yang mau kamu tuju itu jauh banget, Hana! Enggak bisa didatangi cuma dengan naik kereta." "Justru karena tempat itu jauh, San! Aku harus pergi ke sana! Aku mau pergi ke tempat yang enggak bisa dikunjungi hanya dengan naik kereta ataupun mobil! Ke tempat yang mustahil dikunjungi oleh siapapun yang kenal sama aku!" Hana menatap wanita di depannya dengan d**a yang mulai naik-turun. Dia mulai jengah dengan pembahasan ini. "Hana ..., aku tahu kamu punya masalah. Aku juga tahu kalau kamu butuh pelampiasan, tapi kupikir kamu harus kasih tahu keluargamu, Han. Atau paling enggak, kamu harus beritahu mereka, kalau keadaan kamu baik-baik aja." "Karena walau bagaimanapun juga, mereka pasti khawatir sama kamu. Apa lagi, kamu punya suami yang--" "Aku enggak mau telat! Rombongan Mas Bima pasti sudah nunggu aku dibandara." Tanpa menunggu kelanjutan dari perkataan sang sahabat, Hana memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Tempat di mana ia mengungsi selama beberapa hari terakhir. "Tapi, Hana--" "Makasih banyak atas tumpangannya ya, Santi. Aku pasti bakal baik-baik aja di sana. Jadi, jangan khawatir. Oh, ya, tolong jangan kasih tahu siapa pun, ke mana aku pergi, ya." "Hana--" "Tolong, San. Sekarang, di dunia ini, cuma kamu yang bisa aku percaya," ujar Hana sembari memegang kedua pundak sahabatnya erat-erat. 'HUH!' Santi, wanita yang telah bersahabat dengan Hana sejak SMA itu hanya dapat menghela napas panjang. Sekarang, dia benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan kegilaan Hana. 'Menjadi relawan memang merupakan tindakan yang terpuji. Namun, pergi ke pelosok negeri tanpa memberitahu sanak saudara dan dengan keadaan yang tak begitu sehat ....' 'Hei! Ini benar-benar gila! Saking gilanya, Santi bahkan sampai tak tahu harus berkata apa lagi.' "Aku pergi dulu ya, San. Assalamualaikum. Jaga diri kamu ba--" "Mau ke mana kamu?!" -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD