SELAMAT TINGGAL!

1192 Words
Tubuh Hana menegang sempurna saat nada bicara yang sangat familier itu menyapa indera pendengarannya. Bersamaan dengan hal itu, tekadnya yang semula sudah sempat bulat untuk meninggalkan kota ini, mendadak ciut. Terlebih setelah mendengar kelanjutan dari perkataan .... "Ke mana kamu mau pergi tanpa memberitahu suami dan keluarga besar kamu, hm?" tanya orang yang tak lain dan tak bukan adalah Adam. Hana tak langsung merespons ataupun menghindari Adam. Sebaliknya, dia hanya diam di tempat, sembari mengencangkan pegangan pada tali ransel yang dikenakannya. "Rayhanna Azzahra!" panggil Adam dengan nada yang cukup tegas. "Sampai detik ini, kamu masih istri saya. Kamu tanggung jawab saya dan saya enggak mengizinkan kamu pergi ke mana pun!" "Sepertinya Mas Adam lupa kalau Hana sudah meminta cerai!" balas Hana setelah sempat terdiam cukup lama. 'Meski tak tahu harus bersikap bagaimana, dan meski niatnya mulai ciut, tetapi dia juga tak ingin menyerah begitu saja.' Begitu pikir Hana. "Ah, satu lagi." Hana yang sedari tadi hanya sibuk menunduk, kini perlahan mengangkat kepalanya. Menatap manik mata pria yang selama ini selalu ia puja-puja. "Jangan bersikap seolah-olah Mas adalah suami yang baik! Enggak akan ada yang tertipu lagi di sini!" "Jadi, lebih baik sekarang Mas pergi! Urusi saja calon istri kesayangan Mas itu!" "Hana!" "Hana capek, Mas. Jadi, ayo kita selesaikan semuanya di sini. Talak Hana dan biarkan Hana pergi. Dengan begitu Mas juga bisa kembali dengan Mbak Celine. Lagi pula, bukannya itu yang Mas mau sejak awal? Sekarang, Hana bahkan enggak menuntut apa pun. Hana hanya mau diceraikan. Itu saja." "Kamu mungkin lupa, tapi saya sudah berulang kali bilang kalau saya punya alasan lain! Dan saya juga enggak akan pernah menceraikan kamu, Hana! Terlepas dari tujuan awal saya menikah dan apakah kelak saya akan kembali dengan Celine atau enggak, kamu akan tetap menjadi istri saya," jelas Adam panjang lebar. Ada keseriusan yang tergambar jelas dalam raut wajah pria itu. Hana sendiri dapat menyadari keseriusan Adam. Jauh di lubuk hati terdalam pun, sebenarnya ada secercah harapan yang kembali tumbuh untuk pria itu. Namun, tidak. Dia tak akan goyah. Dia tak ingin merasakan sakit yang lebih parah dari pada ini lagi. "Hana ..., saya janji, saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Saya juga berjanji akan berusaha memberikan semua yang terbaik untuk kamu. Saya akan membahagiakan kam--" "Setelah semua yang terjadi ini, Mas masih berpikir kalau Hana akan percaya pada perkataan Mas?" sela Hana cepat. Tak sedikit pun, wanita itu memberikan kesempatan untuk Adam menyelesaikan perkataannya. 'Sudah Hana bilang, dia tak akan termakan pada tipu muslihat Adam lagi. Tak peduli, seberapa besar rasa cintanya pada Adam, dia tak akan goyah. Keputusannya untuk bercerai sudah bulat! Tak bisa diganggu gugat!' Batin Hana penuh tekad. "Enggak, Mas! Sekalipun! Hana enggak akan pernah percaya pada perkataan Mas! Jadi, lebih baik sekarang Mas pergi! Jangan pernah ganggu Hana lagi!" tagas Hana untuk terakhir kalinya. Setelah mengatakan hal itu, Hana berniat pergi. Meninggalkan pria yang pernah sangat lama bersemayam di hatinya. Namun, lagi-lagi. Belum sempat benar-benar pergi, langkah wanita itu telah lebih dulu dihentikan oleh pria yang sama. Adam. Dengan sorot mata tajam, serta rahang yang telah tampak mengeras, pria rupawan itu mencengkram sebelah pergelangan tangan Hana. "Selama ini, saya membiarkan kamu pergi tanpa mencari, bukan karena enggak peduli, tapi karena saya ingin memberikan kamu waktu untuk menenangkan diri, sekaligus berpikir, tapi sepertinya apa yang saya lakukan itu sama sekali enggak berguna, ya." "Nyatanya, selama ini kamu enggak pernah berpikir! Kamu masih saja mempertahankan sikap kekanak-kanakan kamu itu!" Adam mulai berang. Pria yang selama beberapa hari ini hatinya selalu dihinggapi rasa bersalah, karena sudah memanfaatkan wanita yang dahulu telah ia anggap seperti adik sendiri itu, kini tampak mulai tak sabar. Ego, rasa kesal, serta perasaan marah akibat dibangkang membuat pria itu tanpa sadar mencengkram lengan sang istri dengan sangat kuat. Hingga .... "Sekarang Hana punya satu alasan lagi untuk menuntut cerai Mas!" tegas Hana pelan. Namun, penuh dengan penekanan. "Mas laki-laki kasar! Lepasin Hana!" protes Hana sembari menggoyang-goyangkan pergelangan tangannya. Menyadari hal itu, sontak Adam melonggarkan cengkramannya. Namun, melonggarkan bukan berarti melepas. Tak peduli, meski Hana memberontak dan memakinya seperti apa, Adam tetap pada pendiriannya. Dia tak akan melepas wanita itu. Tidak untuk saat ini. "Lepas atau Hana teriak?!" ancam Hana dengan raut wajah garang. "Coba teriak! Saya mau lihat, sekeras apa sih, kamu bisa berteriak!" tantang Adam dengan tak kalah garang. "Tolong!!!" Tanpa diduga-duga, Hana benar-benar melakukan ancamannya. Dia berteriak dengan sangat keras, hingga orang-orang yang berada di lingkungan sekitar mengalihkan perhatian ke arah mereka. Namun, bukannya menolong, setelah tahu bahwa yang berteriak adalah dirinya, orang-orang itu justru kembali melanjutkan aktivitas. Mereka seolah-olah tak peduli dan tak berniat menolong sama sekali. "Tolong!!!" Kembali Hana berteriak. Namun, reaksi yang diberikan orang-orang masih sama. Mereka tak peduli. Ada apa ini? Hana jadi dibuat bertanya-tanya dalam hati. Maksud Hana, dia tahu kalau sebagian orang mungkin tak peduli pada urusan orang lain. Namun, orang-orang ini ..., hei! Tidakkah, mereka keterlaluan? Mengabaikan permintaan tolong dari seorang wanita yang sedang mengalami kesulitan. "Kamu lupa siapa saya, Han? Membuat orang-orang memihak pada saya, bukanlah sesuatu yang sulit." Detik di mana kata-kata itu keluar dari mulut Adam, di detik itu juga Hana sadar atas apa yang terjadi. 'Adam ..., pria itu telah merencanakan semuanya.' Hana kembali membatin. "Mas Adam b******k!!!" hardik Hana penuh penekanan. Amarahnya kembali meluap. Lagi-lagi, dia merasa dipermainkan oleh Adam. Brengsek! "Terserah apa katamu. Sekarang, ayo pulang sama saya! Saya enggak punya waktu lagi untuk bermain-main dengan kamu!" tukas Adam tanpa memedulikan pemberontakan Hana. Dengan satu kali tarikan, Adam berhasil membuat Hana mengikuti langkahnya. Setelah sampai di depan mobil, tanpa menunggu apa pun, lagi, pria itu buru-buru mendorong sang istri masuk. Kemudian berlari ke arah kursi kemudi. Begitu lah, akhir dari permainan kucing-kucingan yang dimulai Hana. Adam pikir, setelah ia berhasil membawa istrinya itu pulang ke rumah, dirinya sudah menang. Dia juga berpikir kalau Hana tak akan memiliki kesempatan lagi untuk pergi, karena memang semua orang telah berada di pihaknya. Namun, ternyata ..., tidak. Apa yang terjadi hari itu, nyatanya merupakan awal di balik perpecahan yang sesungguhnya. "Bagaimana bisa jadi seperti ini?!" "Kalian ke mana saja, sih? Kenapa menjaga satu orang saja enggak becus?!" "Arrggghhh!!!!" Adam berteriak murka. *** "Hati-hati di jalan, Nak. Ingat, kalau sudah sampai, cepat kasih kabar." "Iya. Mama tenang aja. Selama Mama enggak kasih tahu Mas Adam dan semua orang. Hana pasti akan selalu kabarin Mama." "Hana pergi ya, Ma. Assalamualaikum." Salam yang terucap dari mulut Hana menjadi akhir dari percakapannya dengan sang mama. Setelah itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, wanita itu masuk ke dalam sebuah mobil yang di dalamnya terdapat beberapa orang. Orang-orang itu adalah rombongan kedua yang baru bertolak hari ini ke daerah pengabdian mereka. Benar. Hana tetap kukuh dengan keputusannya. Dia akan pergi ke pelosok negeri dan mengabdikan diri di sana. Entah sampai kapan. Hana tak tahu apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari. Dia juga tak tahu apakah dia bisa hidup dengan baik atau tidak di tempat antah-berantah itu. Namun, yang jelas ..., Hana tak akan mundur. Dia akan tetap pergi dan mencoba menyembuhkan hati. Syukur-syukur kalau bisa mendapat pengganti dari pria yang selalu membuatnya sakit hati. "Selamat tinggal, Mas. Semoga kelak Mas merasakan sakit yang sama, seperti yang Hana rasakan." -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD