“Terima kasih diskonya, Mas.” Gayatri mengambil uang kembalian, lalu memasukkannya kedalam pouch. “Gak apa-apa, kan Ibu pelanggan tetap kami. Kami yang terima kasih banyak karena ibu sudah setia makan di sini,” ujar pemilik rumah makan. Gayatri bukan tidak memperhatikan, dia melihat dengan jelas Dirga yang tengah memandangi interaksi Gayatri dan pemilik warung makan. Dia keluar tanpa memedulikan Dirga melenggang pergi menjejak bebatuan yang sengaja disusun di halaman rumah makan. “Gayatri, sayang, tunggu. Aku mau ke kantor lagi, ini bunganya bawa.” Dirga menyodorkan empat tangkai mawar yang dia pegang. “Bawa pulang aja, Mas, sekarang aku sudah gak butuh mawar lagi,” tolak Gayatri. Satu kata. Gemas. Itulah yang Dirga rasakan saat ini. Lama-lama kelakuan Gayatri bikin lelaki itu kesal

