54. Patah Hati

1529 Words

"Apartemen ini?" tanya Ayah setelah menghentikan mobil. "Iya. Itu, mobil Angga masih ada di sana," tunjukku. Ayah mengikuti arah telunjukku. Tampak berpikir sejenak, lalu menatapku dengan serius. "Kamu yakin, mau cari tau?" "Sebenarnya Sisil memang agak takut, tapi ... Sisil lebih takut lagi jika harus memikirkan masa depan Sisil nanti." Ayah mengembuskan napas. "Ayah mengerti. Jujur aja Ayah kagum sama kamu. Selama ini, kamu bisa menerima diri kamu sebagai perempuan yang didewakan oleh keadaan. Maafkan Ayah, yang enggak bisa membantu banyak dalam perubahan kamu, Sil." Aku tersenyum. "Enggak apa, Yah. Sisil yang harusnya ucapin terima kasih sama Ayah karena sekarang udah mau bantuin Sisil. Gimana, Ayah udah telepon temen Ayah itu?" "Oh, iya. Lupa. Sebentar." Ayah merogoh ponsel dalam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD