Beberapa saat sebelumnya.... ARI Aku memperhatikan tamu undangan yang datang. Sepertinya hampir semua hadir. Tentu itu menjadi kesenangan tersendiri bagiku, karena malam ini aku mau membuat pengakuan agar ke depannya tidak lagi ada fitnah. Mungkin mereka semua akan terkejut, termasuk juga Nura. Aku, Nura, dan ibu menyambut para tamu dengan hangat dan menyalami mereka dengan senyuman. Kami mempersilahkan para wanita masuk lebih ke dalam rumah sementara yang laki-laki menempati ruang tamu dan sebagian ruang tengah. Kulirik Nura duduk di dekat Bibi Anis, Bibi Rosa, Sinta, dan ibu-ibu tetangga. Aku tersenyum, karena meskipun selalu mendapat perlakuan tidak baik dari keluarganya dan sempat mengalami fitnah tetangga, dia tampak tidak menyimpan dendam. Istriku memang luar biasa. Aku sendiri

