ARI Aku meraih ponselku yang tadi berdering. Aku tatap layarnya. Dahiku seketika mengerut begitu membaca pesan yang tertera di sana. ‘Maaf aku mengganggu, Ri. Ini Beni. Aku bukan marah atau menyalahkanmu. Tapi saat ini rumah tanggaku berada di ujung kehancuran lantaran Sinta iri melihat Nura bersuamikan dirimu yang kaya raya. Sinta membandingkan aku denganmu. Jelas aku tidak bisa memenuhi tuntutan Sinta karena aku hanya seorang PNS sementara kamu adalah seorang pengusaha kaya raya. Jadinya begini sekarang. Sinta tidak bersyukur bersuamikan diriku.’ Aku tertegun membaca pesan itu. Beni bilang tidak menyalahkan aku tapi pesan ini jelas menyalahkan aku. Aneh. “Ada apa, mas? Pesan dari siapa?” Aku mengalihkan pandang dari layar ponselku ke Nura. Aku tersenyum. Tak akan aku beritahu pesan

