POV Ari
Mendengar yang diucapkan oleh Pak Jono, mataku langsung melebar. Nih, orang bagaimana sih? Langsung kugeser letak ponsel menjadi ke hadapan wajahku sepenuhnya. “Pak sudah dulu ya? Aku baru ingat kalau ada janji dengan teman.”
“Oh, iya, den, iya,” jawab Pak Jono.
Obrolan pun langsung kuakhiri begitu saja. Lalu, aku memberikan senyum pada Nura yang menatapku penuh curiga.
“Sawah mas ratusan hektar di desa?”
Sudah aku duga Nura akan mempertanyakan ini. Pak Jono membuatku ingin menepak bibirnya saja. Bisa-bisanya dia berkata jujur pada Nura. “Ratusan hektar itu sawah seluruh warga desa, bukan sawah punyaku saja. Kalau aku punya tanah ratusan hektar, aku sudah kaya dong. Lagian kalau aku punya sawah ratusan hektar, untuk apa pula aku cari pengalaman lagi kerja di kota. Mungkin hari-hariku akan sibuk dengan mengurus sawah saja.”
Nura angguk-angguk kecil. “Iya juga ya.”
“Ya, sudah. Kalau begitu aku mau keluar dulu sebentar. Aku ada janji dengan teman.”
Aku yang hendak beranjak dari duduk, tiba-tiba tanganku dipegang oleh Nura. Aku menoleh ke bawah dan mendapati istriku yang polos ini tengah menatapku lekat. “Janji dengan teman? Memangnya mas dan teman mas mau kemana?”
“Tidak kemana-mana. Aku hanya mau bertemu dengan temanku itu untuk mengembalikan uangnya yang pernah aku pinjam. Mumpung ada sisa hasil panen yang dikirimkan Pak Jono.”
“O…” Nura melepaskan tanganku. “Ya sudah, pergilah.”
Aku mengangguk senang. Lalu melangkah meninggalkan kamar kami yang sederhana namun sangat aku suka karena hampir setiap malam aku dan Nura memadu cinta di kamar ini. Jujur aku berbohong pada Nura.
Sesungguhnya aku tidak hendak bertemu dengan temanku tapi untuk menelpon Pak Jono lagi di tempat yang agak jauh dari rumah. Setelah mendapatkan tempat yang lumayan sepi, aku menelponnya.
“Halo, den. Ada apa menelpon bapak lagi?” tanya Pak Jono dengan nada bingung.
“Aku menelpon bapak karena mau protes,” jawabku tegas.
“Protes? Memangnya bapak salah apa, Den? Apa jumlah uang yang bapak transfer tadi pagi salah?”
“Bukan. Ini bukan masalah uang pak.”
“Jadi masalah apa?”
“Masalah yang bapak katakan pada Nura istriku. Kenapa bapak bilang kalau sawahku ratusan hektar? Aku kan sudah w******p bapak sebelumnya tolong jangan memberitahu kekayaanku pada istriku itu.”
“Lha, memangnya kenapa, Den? Non Nura kan istri aden?”
“Iya. Tapi aku tidak mengaku sebagai orang kaya kepadanya.”
“Jadi aden mengaku sebagai orang miskin kepadanya?”
“Tidak juga. Aku hanya bilang kalau aku datang dari desa dan aku yatim piatu. Itu saja. Nura sendiri yang mengambil kesimpulan kalau aku orang miskin karena melihat pekerjaanku hanyalah kuli panggul di pasar.”
“Berarti dia adalah gadis yang baik karena mau menerima aden apa adanya.”
“Itu dia. Saat ini aku masih menguji ketulusannya. Karena itu aku belum mau dia tau siapa aku. Lain kali tolong bapak jangan jujur seperti tadi ya pada Nura?”
“Iya, den. Bapak sudah mengerti.”
“Ya, sudah, pak. Hanya itu saja.”
“Iya, den, iya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku langsung menaruh ponsel ke dalam celanaku sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu menuju sebuah toko tas dan sepatu.
Sebelum masuk ke toko itu, aku memarkir motor bututku di pelataran toko. Toko yang ramai karena toko ini pilihannya cukup lengkap. Dan yang datang ke toko ini minimal masyarakat kalangan menengah bukan masyarakat kalangan bawah karena produk yang dijual kualitas premium.
Pada saat aku masuk, seorang pramuniaga langsung mendekati aku. “Cari sepatu atau tas mas?”
“Sepatu dan tas,” jawabku enteng.
“Bisa ke sebelah sana, mas.”
Pramuniaga itu menunjuk sisi ruang sebelah kiri.
“Tapi aku mau lihat-lihat barang-barang yang sebelah sini, mbak. Sepertinya lebih bagus-bagus dari sebelah sana.”
“Memang betul, mas. Tapi yang sebelah sini tasnya di atas satu juta. Kalau mau cari yang di bawah satu juta, cari yang di sebelah sana.”
“Aku kan tidak bilang mau membeli tas di bawah satu juta, mbak.”
Wajah pramuniaga itu langsung berubah merasa bersalah. “Oh, maaf saya pikir….” Dia melirik ke luar. Tentu saja melirik sepeda motor bututku. Beginilah nasib orang yang tampak miskin. Selalu direndahkan. Tapi tak masalah buatku. Toh, saat ini aku memang sedang berperan seperti orang miskin di hadapan keluarga Nura.
Setelah beberapa saat mengamati tas-tas yang dipajang di etalase, pandangannku terhenti pada sebuah tas yang senada dengan pakaian pesta kami nanti. Aku pun menunjuknya. “Aku ingin memegang tas berwarna merah marun itu, mbak.”
“Boleh, mas. Tapi itu harganya lima juta,” jawab pramuniaga itu meragukan uangku.
“Tidak masalah dengan harganya, mbak. Yang penting setelah aku pegang dan aku lihat dari dekat, aku suka. Pasti akan aku beli.”
“Iya, mas. Baik. Tunggu sebentar.”
Pramuniaga itu segera mengambil tas yang aku tunjuk dan kemudian memberikannya kepadaku. Aku menerimanya dengan hati-hati dan kemudian memperhatikannya dari dekat. Tas yang sangat elegan. Aku suka.
“Aku ambil ini, mbak,” ucapku sembari memberikan kembali tas yang aku pegang tadi pada sang pramuniaga yang sejak tadi menemaniku mencari, atau lebih tepatnya mengawasiku.
Mata yang dipasang eyelash itu mengerjap. “Mas beneran mau ambil ini? Mas tidak sedang mempermainkan saya kan?”
“Memangnya aku terlihat sedang mempermainkan kamu mbak?” Aku malah balik bertanya.
“Ti-tidak sih. Saya hanya_”
“Tenang saja, mbak. Pasti akan aku bayar. Uangku cukup untuk membayar tas itu.”
“Baik. Ada lagi, mas?”
“Ya, tunjukkan padaku tas dengan warna yang sama tapi bentuknya berbeda.”
Yang kali ini untuk mertuaku. Aku ingin di pesta itu bukan hanya Nura yang cantik dan mewah, tapi ibu mertuaku juga.”
Dengan ragu, pramuniaga itu mengangguk. Sepertinya dia belum percaya seratus persen kalau aku mampu membayar tas-tas yang aku tunjuk. Wajar sih, saat ini aku memakai pakaian sederhana, sandal jepit, dan motor butut. Penampilanku ini sangat tidak menyakinkan. Karena itu aku tidak keberatan kalau pramuniaga ini ragu kepadaku.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya aku selesai berbelanja di toko ini. Cukup lama karena aku bukan hanya belanja tas tapi juga sandal pesta untuk Nura dan ibu mertuaku.
Uniknya, sangking ragu kepadaku, pramuniaga yang sejak tadi melayaniku, menungguiku membayar di kasir.
“Berapa semuanya, mbak?” tanyaku ke kasir.
“Dua puluh tiga juta empat ratus tujuh puluh satu ribu rupiah,” jawab mbak kasir agak takut mengucapkan harganya. Aku rasa mbak kasir ini ragu seperti mbak pramuniaga. Oya, jumlah segitu karena selain tas dan sandal, aku juga membelikan dompet untuk Nura dan mertuaku.
“Oke, debit ya, mbak?” kataku sembari mengulurkan sebuah kartu debit padanya.
Mbak kasir mengangguk sembari menaruh mesin penggesek kartu di hadapanku. Setelah proses pembayaran, barulah mbak kasir dan mbak pramuniaga tersenyum kepadaku.
“Terima kasih ya, mas,” ucap mereka berdua.
Aku membalas senyum mereka dengan senyum sekilas sebelum akhirnya keluar toko dengan membawa barang-barang yang baru aku beli tadi. Sebelum pulang ke rumah, aku menyempatkan diri mampir ke toko yang menjual sepatu laki-laki. Aku membeli sepatu buat diriku sendiri.
“MasyaAllah, ini bagus sekali tasnya, mas,” ujar istriku sembari menatap tas di tangannya dengan pandangan takjub.
“Iya, tas yang ibu juga sangat bagus,” sahut ibu mertuaku.
“Kamu bisa membeli tas bagus kami uang darimana, mas?” tanya istriku dengan wajah penyelidik. Aku sudah menduga ini bakal terjadi.
Bersambung.