NURA Mas Ari pulang setelah tiga hari berada di kampungnya. Dia membawa sekarung beras, buah-buahan, dan makanan khas daerahnya. Aku menyambutnya dengan suka cita. Terutama ibu yang kalau sudah melihat beras satu karung, seperti tenang menjalani hari-hari ke depan. “Ini air dinginnya, mas.” Aku menaruh sebotol air dingin yang aku ambil dari lemari es dan sebuah gelas ke atas meja di hadapan Mas Ari sebelum kemudian mengambil duduk di samping pria itu. “Terima kasih.” Mas Ari menuangkan air di dalam botol ke dalam gelas yang aku bawa. Lalu dia meneguknya sampai tandas. Suamiku ini tampaknya sangat kehausan. “Apa kabar kampung halaman, mas?” tanyaku. Berhubung tidak ada pertanyaan, jadi aku tanyakan ini saja. Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa Mas Ari tidak membawaku serta pulang kampu

