NURA "Mas, kamu beneran mau pakai jasa MUA?" tanyaku ketika kami sudah berbaring di atas tempati tidur tua dan sederhana, bersiap untuk tidur. "Ya beneran. Kenapa juga bohongan?" "Tapi pakai jasa MUA yang sudah punya nama tidak murah lho, mas. Memangnya kita punya uang?" "Sudah kamu jangan pusing memikirkan masalah bayaran untuk MUA. Itu urusanku." Pandanganku langsung menyipit pada Mas Ari. Jawabannya membuatku teringat akan kecurigaan Bibi Anis. "Mas, kamu tidak mendapatkan uang dengan cara haram kan?" "Ya tidak dong. Kok kamu punya pemikiran seperti itu?" "Terus kenapa uang mas tidak habis-habis? Darimana coba?" "Dari hasil panen sawah, Nur. Kan kamu sudah tau itu." "Tidak habis-habis? Memangnya berapa pendapatan sawah mas setiap tiga bulan sekali itu?" "E... lumayan banyak."

