Setelah aku membalas seperti itu, Sinta tidak memberi balasan lagi. Tapi kemudian ponselku berdering nyaring. Sebuah panggilan w******p masuk ke ponselku. Kulihat itu adalah panggilan dari Bibi Anis.
Aku ragu untuk menerima panggilan tersebut, karena sepertinya ini ada hubungannya dengan obrolan via pesan w******p antara aku dan Sinta barusan. Tapi jika aku menolak panggilan Bibi Anis, takutnya malah jadi masalah. Semua juga tahu kalau Bibi Anis 'mulutnya besar'.
Akhirnya dengan berat hati, aku terima juga panggilan itu. "Halo, assalamualaikum...."
"Maksud kamu itu apa sih bilang seperti itu pada Sinta? Sudah merasa hebat sekarang sampai tidak mau bantu-bantu lagi? Apa begini namanya keluarga?"
Aku menipiskan bibir. Benar kan tebakkanku. Ini berhubungan dengan obrolan aku dan Sinta sebelumnya.
"Aku tidak bilang tidak mau bantu-bantu lagi, Bi." Aku langsung menjawab. "Aku akan membantu, tapi semampu aku karena aku juga harus jualan. Kalau tidak jualan, kami tidak bisa makan."
"Kan ada ibumu. Apa tidak bisa mulai besok hingga selesai pernikahan kamu bantu-bantu dulu?"
"Bibi kan tau kesehatan ibu bagaimana? Ibu itu tidak bisa terlalu lama duduk. Sebentar-sebentar harus berbaring. Dokter juga melarang ibu untuk kecapekan. Lagian, apa yang harus aku kerjakan di rumah bibi? Setahuku makanan di hari pernikahan Sinta nanti cateringan, kue-kue bibi pesan, terus aksesoris tinggal ngasih saja ke tamu undangan tanpa harus dikemas."
"Ya... ada saja pekerjaan yang bisa kamu kerjakan. Mulai dari sekarang sampai hari H nanti, kami sekeluarga ini sudah sibuk dengan urusan pernikahan. Tidak sempat lagi mengurus rumah dan makanan. Kamu kan bisa bantu-bantu masak sama beresin rumah."
Tanganku refleks menyentuh d**a karena ada yang menghentak dan rasanya ingin sekali marah mendengar jawaban Bibi Anis yang ternyata mau menjadikan aku babu gratisan dari mulai besok sampai setelah pernikahan selesai.
Tidak. Kali ini aku tidak mau jadi orang bodoh seperti sebelumnya. Mas Ari juga akan kecewa jika aku tidak tegas pada mereka.
"Untuk urusan rumah dan makanan di masa sibuk sekarang, lebih baik Bibi suruh saja Mbak Atik. Dia pasti senang sekali jadi pembantu sementara di rumah bibi." Mbak Atik adalah seorang janda yang kerjanya serabutan demi menghidupi ketiga buah hatinya. Kadang orang menyuruhnya menyetrika, membereskan rumah, atau mengasuh anak. Pokoknya tidak menentu. Baginya yang penting mendapat uang secara halal dan tidak merugikan orang lain.
"Kalau memakai jasa Mbak Atik harus bayar dong, Nur. Kamu ini bagaimana sih?"
"Ya bayarlah, bi. Masak gratis. Bibi bicarakan saja sama Mbak Atik berapa bibi sanggup membayarnya dan untuk pekerjaan apa saja. Mbak Atik pasti mau karena dia butuh uang."
"Tapi uang yang bibi pegang sekarang untuk biaya pernikahan. Banyak yang harus bibi bayar."
"Setahuku keluarga Beni memberi banyak uang untuk pernikahannya. Tiga ratus juta kan kalau tidak salah?Kalau hanya menyisihkan untuk Mbak Atik sedikit, pasti bisa, bi."
"Bisa ya mungkin saja bisa. Tapi kamu harus tahu bahwa dari tiga ratus juta itu, mau bibi simpan seratus juta. Ya kali bibi tidak dapat untung. Makanya bibi berhemat untuk biaya pernikahan ini. Berusaha untuk cukup di dua ratus juta saja. Nah karena itu yang beres-beres rumah kamu saja, jadi tidak membayar orang lagi."
Aku menghela nafas panjang untuk menghilangkan sesak setelah mendengar penjelasan Bibi Anis. Bisa-bisanya dia mau cari untung di hari pernikahan putrinya sendiri. Ini mau menikah atau mau jualan sih?
Lalu aku harus bilang apa sekarang?
"Aku akan membantu membereskan rumah bibi. Tapi tidak dimulai dari besok melainkan dari tiga hari sebelum acara sampai satu hari setelah acara. Jadi ada lima hari terhitung dengan hari pernikahan. Kalau dimulai dari besok, aku tidak bisa. Bibi minta tolong sama keluarga yang lain saja kalau tidak mau membayar Mbak Atik."
"Kamu kok perhitungan sekali sih, Sin? Padahal Sinta menikah sekali untuk seumur hidup. Kok ya tidak mau berkorban dulu tidak menjaga warung. Kita ini satu keluarga. Dan keluarga harus saling membantu."
Ingin sekali aku menjawab ucapan Bibi Anis dengan mengulas masa lalu yang pahit. Kata 'membantu' tak pernah diperuntukkan untuk keluarga kami yang miskin. Pada saat aku SMP, setelah ayah meninggal, ibu jatuh sakit selama bertahun-tahun. Tak ada satu pun dari keluarga besar kami -termasuk Bibi Anis- yang membantu biaya pengobatan ibu. Alhasil aku yang masih sekolah, pontang-panting kerja keras mencari uang. Dan akhirnya, aku putus sekolah. Hanya bisa memilik ijazah SMP saja.
Bahkan aku masih ingat bagaimana aku memohon pada Bibi Anis untuk meminjamkan uang namun hasilnya nihil. Katanya, ibuku tidak sakit melainkan tidak bisa move on dari kematian ayah. Jadi tanpa berobat pun harusnya ibu bisa sembuh asal ada kemauan dari dalam diri sendiri untuk sembuh. Kalau pun iya ibu sakit karena tidak bisa move on dari kematian ayah, tak ada salahnya sebagai keluarga membantu dengan meminjamkan uang kan?
Bila mengingat itu, hati ini pedih sekali. Tapi aku tidak mau jadi orang yang penuh dengan rasa dendam. Aku terima takdir dan perlakuan mereka dengan lapang d**a.
"Empat hari cukup bagiku untuk membantu, Bi. Karena aku juga harus cari uang. Ada yang mau bibi sampaikan lagi?" jawabku kemudian.
"Benar-benar kamu, Nur. Tidak menyangka akan perhitungan sampai berat sekali diminta membantu. Pantas saja kamu dan ibumu semakin hari semakin miskin. Tuhan itu tak suka dengan orang yang perhitungan."
Aku tersenyum getir mendengar ucapan Bibi Anis. Padahal aku sudah mau membantu selama empat hari, tapi masih dibilang perhitungan. Lalu bagaimana dengan dia yang tidak pernah membantu keluarga kami? Pantas disebut apa?
Mungkin aku ini orang yang bodoh karena membiarkan diri mendapatkan kalimat-kalimat yang kurang baik dari bibiku. Tak apa. Yang penting tidak terjadi pertengkaran antara kami. Aku sebagai yang muda harus mengalah.
***
Aku baru saja melayani pembeli saat melihat Mas Ari pulang dengan sepeda motor bututnya. Ada plastik berwarna hitam yang dia gantung di stang sepeda motor butut itu. Aku tak menghampiri melainkan menunggu Mas Ari yang turun dari sepeda motornya tersebut dan menghampiri aku.
"Assalamualaikum...," ucap Mas Ari sembari melangkah masuk ke dalam warung kecil kami.
"Wa'alaikumsalam," jawabku. Aku segera mencium tangan kekarnya mau berbau matahari. "Plastik yang mas bawa itu apa?" Aku menunjuk plastik yang dijinjing Mas Ari dengan rasa penasaran.
"Baju couple kita untuk hari pernikahan Sinta."
Mataku melebar. "Mas sudah membelinya?"
"Ya, tentu saja. Untuk apa ditunda? Kalau misalnya kebesaran, kan bisa dikecilkan ke tukang jahit dulu. Kalau membelinya terlalu dekat dengan hari pernikahan, akan sulit untuk diperbaiki."
"Iya, mas benar. Boleh aku lihat mas?"
"Boleh. Nih." Mas Ari mengulurkan plastik yang dibawanya itu padaku.
Aku segera menerima plastik hitam ini dan kemudian membukanya. Yang pertama kali aku lihat adalah lipatan pakaian dengan warna yang sama dengan seragam keluarga untuk pernikahan Sinta. Salah satu lipatan, aku keluarkan dari dalamnya, lalu aku jembrengkan. Aku terkesiap melihat penampakan gaun di tanganku ini. Entah karena aku terlalu kampungan atau bagaimana, gaun ini terlihat sangat cantik dan elegan. "MasyaAllah, gaunnya cantik sekali mas? Aku... belum pernah melihat gaun secantik ini sebelumnya. Mas beli dimana? Harganya pasti mahal?"
Mas Ari mengucek kepalaku yang terbalut hijab. "Tidak mahal kok. Aku membelinya dari temanku. Tempatnya dimana, kamu tidak perlu tau sepertinya. Yang penting pakaian ini tidak hasil mencuri."
Aku mengalihkan pandang dari gaun di tanganku pada Mas Ari. "Tapi mas, apa aku yang kampungan ini memangnya pantas memakainya?"
"Tentu saja pantas. Tidak ada tulisan 'Orang kampungan dilarang pakai gaun ini' soalnya. Jadi ya... bisa dong dipakai kamu."
Aku terkekeh. Mas Ari memang suka bercanda.
Bersambung.