Bab 4 Terjatuh

1087 Words
Kondisi Kinanti semakin membaik, setelah hampir dua minggu menjalani perawatan pasca melahirkan dan perbaikan jahitannya. Wanita itu merasa jenuh di kamar setiap hari tanpa melakukan aktivitas apa pun. Sebab, Kenan melarangnya melakukan banyak pergerakan yang akan membahayakan luka bekas operasinya. Apalagi, di luar sana ada beberapa orang bodyguard suruhan Kenan yang di perintahkan untuk menjaga dan mengawasi Kinanti agar tidak melarikan diri lagi darinya. Kenan menjadi sangat posesif semenjak menemukan Kinanti, ia tidak ingin kehilangan istrinya lagi. Apalagi kini ada seorang anak yang membutuhkan perawatan khusus. Kinanti berusaha turun dari ranjang sambil memegangi perutnya. Meskipun bekas jahitannya sudah mengering dan membaik. Namun, tetap saja rasa nyeri itu masih ada. Butuh beberapa bulan untuk pemulihan dan membuat Kinanti nyaman melakukan pergerakan. Wanita itu merindukan sang putra yang masih menjalankan perawatan khusus pasca terlahir beberapa minggu lalu. Kinanti sesekali meringis ketika perutnya nyeri seperti tertusuk duri. "Aww!" Kinanti berpekik merasakan sakit. Wanita itu terus memegangi perutnya. Keringat dingin membasahi wajahnya. Napas Kinanti sedikit tersengal. Tampak pucat sekali terlihat. Wanita itu berusaha menahannya dan mencoba untuk melangkah. Namun, rasa sakit itu kian menjalar karena tidak sengaja membentur tepi ranjang. Kinanti tidak mampu menahan bobot tubuhnya dan tersungkur di lantai. "Astagfirullah, Kinanti!" Kenan datang hendak memeriksa kondisi Kinanti. Namun, ketika ia membuka pintu mendapati sang istri tersungkur di tengah-tengah nakas dan ranjang. Dengan cepat, pria itu mendekat dan langsung membopong tubuh Kinanti, lalu, merebahkan di atas ranjang. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa bisa terjatuh?" tanya Kenan dengan cemas sambil mengusap lembut kening Kinanti. "A--aku, tadi bangun mau melihat anakku. Perutku terbentur tepi ranjang dan sakit sekali. A--aku tidak kuat menahan tubuhku dan terjatuh," cerita Kinanti dengan terbata karena menahan sakit. "Astagfirullahaladzim. Kau bisa pencet bel memanggil perawat atau aku." Kenan terkejut mendengar penjelasan Kinanti. Pria itu merasa bersalah dan lalai tidak menjaga Kinanti dengan baik. Kekhawatiran mulai melanda. Kenan langsung memeriksa Kinanti, mulai dari mata, denyut nadi, d**a, sampai perut. Memastikan jika kondisi istrinya baik-baik saja. "Aku bisa melakukannya sendiri. Aku baik-baik saja," ucap Kinanti, meski pelan. Namun, terdengar jelas di telinga Kenan akan penolakannya. Kenan menghela napas kasar. Kesabarannya kembali diuji dengan sikap keras kepala Kinanti. Wanita itu terus berusaha bangun dari tempat tidur dan melanjutkan keinginannya melihat buah hati tersayang. "Kinanti, kau ...." "Aku mau melihat putraku," ucap wanita itu sambil berusaha menepis tangan Kenan yang mencegahnya. "Tolong dengarkan aku. Kondisimu belum pulih. Kau tidak bisa pergi sendiri." Kenan terus berusaha mencegah Kinanti. Kedua tangannya memegang pundak Kinanti, mencoba untuk menenangkan wanita di hadapannya tersebut. "Lepaskan aku! Biarkan aku menemui anakku!" Kinanti berkata dengan sedikit keras. Wanita itu terus memberontak dan hendak menepis kedua tangan Kenan dari pundaknya. "Kinanti. Jangan menguji kesabaran-ku." Kenan masih berkata lembut, ia tidak ingin memancing emosi Kinanti. Sesungguhnya, Kenan sangat mengkhawatirkan Kinanti. Namun, Kinanti tidak perduli dengan hal itu. Wanita tersebut terus saja memberontak. "Lepaskan aku! Aku mau menemui putraku!" seru Kinanti terus melakukan pemberontakan. "Oke! Kau boleh menemuinya, tapi harus duduk di kursi roda dan aku yang akan mengantarkan-mu." Kenan pun akhirnya memberikan solusi dan mengizinkan Kinanti bertemu putranya. Tentu, dengan syarat yang harus di setujui Kinanti. "Aku ...." "Deal or not deal?" Kinanti tidak banyak bicara. Hanya anggukkan kecil tanda setuju. Kenan bernapas lega berhasil menenangkan wanita itu. "Ronald! Kemari Lah!" perintah Kenan pada salah satu bodyguard yang berjaga di luar ruangan. "Ada apa, Tuan Kenan?" tanya Ronald saat tiba di dalam ruangan. "Ambilkan kursi roda untuk Nyonya Kinanti!" perintah Kenan kembali. Ronald mengangguk dan langsung berlalu untuk melaksanakannya. Tidak lama kemudian kursi roda itu sudah datang, Kenan pun menggendong Kinanti dan mendudukkan Kinanti di kursi roda dengan sangat hati-hati. Memasang infus pada tiang di samping kursi dan mendorong perlahan keluar ruangan. Kenan mendorong kursi roda menuju ruang perawatan intensif bayi. Setibanya di sana, mereka masuk dan mendekati bayi mungil yang berada di dalam inkubator dengan selang oksigen pada kedua lubang hidungnya, infus di punggung tangan kiri, serta beberapa kabel di d**a anak kecil itu yang terhubung pada monitor perekam detak jantung. Sunyi, hanya suara alat perekam detak jantung yang terdengar cukup menakutkan. Kenan mendorong kursi roda mendekat ke arah bayi mungil tersebut. Kemudian, memasukkan kedua tangan Kinanti pada lubang yang terdapat di tengah-tengah inkubator tersebut. Kinanti memandangi wajah mungil yang tampak teduh itu. Menyentuh wajah lembutnya dan mengusap dengan penuh kasih sayang. Kenan berdiri di belakang wanita tersebut tanpa kata. "Maafkan Mommy, Sayang. Baru menemui-mu sekarang. Kau harus kuat. Jangan takut, Nak. Mommy akan selalu menjagamu." Kinanti berkata pelan sambil menatap wajah putranya. Bulir lembut sebening kristal menetes di kedua pipi lembutnya. Kenan yang melihatnya ikut terenyuh, ia pun tak kuasa menahan air matanya. 'Kinanti, meski kau sangat membenci aku dan keluargaku. Namun, kau menyayangi putra kita. Terima kasih, Sayang karena kau sudah menyayanginya.' Kenan bermonolog dalam hati. Kedua tangannya bergetar saat akan menyentuh pundak Kinanti. Hatinya semakin sakit saat harus mengingat kesedihan sang istri. "Kinanti, sebaiknya kau kembali ke ruangan-mu. Biarkan putra kita istirahat. Demi kesehatanmu juga dirinya," pinta Kenan mencoba membujuk Kinanti. "Aku masih ingin di sini bersamanya. Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri," tolak Kinanti tanpa melepaskan kedua tangan dari wajah mungil putranya. "Aku mohon, Kinanti. Aku janji akan membawamu ke sini lagi nanti. Namun, sekarang kau harus kembali ke ruangan-mu. Kau juga harus istirahat supaya cepat pulih," bujuk Kenan dengan lembut. "Aku tidak mau. Jika kau lelah dan ingin pergi, pergilah, aku masih mau di sini," tolak Kinanti kembali dengan sedikit kesal. "Aku mohon jangan keras kepala. Apa kau tidak ingin cepat pulih dan menjaganya kelak? Jika kau terus keras kepala seperti ini, bagaimana kau bisa menjaganya sementara tubuhmu belum pulih?" Kenan terus membujuk Kinanti. Berharap wanita itu mau menurutinya. Semua ia lakukan demi kebaikan Kinanti dan putranya. Kinanti terdiam sejenak. Mencoba untuk mencerna kalimat Kenan. Bila dipikir-pikir, ucapan Kenan memang benar, jika ia tetap keras kepala, bagaimana bisa kembali pulih dan sehat. Kinanti mengeluarkan kedua tangannya dari inkubator dan mengikuti perintah Kenan meski ia sedikit kesal. Namun, ia juga tidak ingin ribut di depan sang putra karena sikap keras kepalanya. Sesampainya di kamar, Kenan membantu Kinanti untuk duduk di ranjang, meski wanita itu terus menolak. Namun, Kenan tetap melakukannya. Kinanti memalingkan wajah, tidak ingin menatap Kenan. "Bagaimana pun sikapmu padaku, aku tetap akan selalu bersamamu. Tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dariku," ucap Kenan dengan yakin. Kinanti tersenyum kecut. "Jadi, itu alasan kenapa kau meminta anak buahmu untuk menjagaku. Kau takut aku melarikan diri?" ucapnya sambil menoleh dan menatap tajam ke arah Kenan. Kenan terdiam sejenak. Kemudian, membalas tatapan Kinanti. Begitu teduh dan tenang. Kenan berusaha mengontrol diri agar tidak terpancing emosi, meski Kinanti terus menguji kesabarannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD