Panggil gue Greta!
"Duh, mati gue!" Gadis dengan pipi chubby serta wajah baby face itu terus merapal banyak kalimat sumpah serapah dari semenjak masuk ke gerbang kampus. Bahkan ojek langganan yang mengantarkannya ke tempat ini pun sempat dibuat kalang kabut saat di perjalanan tadi.
"Makanya anak gadis kalau bangun itu pagi! Ini kalau nggak digedor-gedor nggak bangun!"
Omelan omanya juga sudah menjadi sarapan Greta tadi pagi. Padahal, baru hari ini gadis itu telat bangun. Dan baru kali ini pula dia harus mengejar waktu untuk datang ke kampus. Padahal pagi ini adalah kelas di mana dosen yang mengisinya terkenal kejam.
Semua kesialan ini terjadi gara-gara sahabatnya, Sisil. Gadis itu meracuninya dengan drakor romantis yang memang nyatanya tidak bisa membuat Greta berhenti di tengah jalan. Alhasil dirinya rela begadang untuk menyelesaikan cerita yang ternyata berakhir sedih. Greta rasanya ingin mencakar wajah Sisil jika ketemu nanti.
"Gre!" Panjang umur, gadis yang baru saja dibatin Greta muncul dari arah berlawanan. "Ngapa dah, lari-lari?" Sisil malah tampak santai berjalan ke arah Greta yang berusaha memelankan langkah karena kelasnya sudah tidak jauh lagi.
"Kelasnya Pak Ronal, kan? Lo kok nggak masuk?" Greta mengatakan kebingungannya itu sembari mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Lah, lo nggak baca pesan gue?" Sisil mengernyit heran mendapati Greta yang masih menunjukkan wajah bingung.
Greta hanya bisa mengumpat kesal karena pesan Sisil tidak terbaca. Padahal pesan sahabatnya itu masuk dari beberapa menit lalu, dan mengabarkan jika dosen pagi mereka tidak masuk dikarenakan sakit.
"Lagian lo ngapa, dah, lari-lari kayak orang kesurupan gitu?" Sisil terkekeh geli saat menyadari Greta bahkan belum sempat menyisir rambutnya yang setengah basah dan awut-awutan.
"Gue kesiangan gara-gara lo," ujar Greta ketus sembari duduk di koridor kampus. Mengambil sisir serta kaca untuk memperbaiki penampilannya yang ternyata memang tampak seperti orang gila.
"Kok bisa gue?"
"Gara-gara drakor yang lo rekomendasiin, gue begadang sampe subuh." Greta berdecap malas saat Sisil malah tergelak tanpa dosa.
"Gimana, gimana? Bagus, kan, endingnya?"
"Bagus banget Sisil." Greta yang gemas mencubit lengan sahabatnya. Sisil hanya mengaduh dan masih tertawa geli.
"Ya, kan, biar korbannya bukan gue doang."
"Laper gue," ujar Greta saat merasakan perutnya mulai berdemo. Tadi hanya sempat menyeruput sedikit s**u dan setengah potong roti tawar.
"Gue juga belum sarapan, kantin aja dulu, yuk!" Sisil lebih dulu berdiri. Greta yang setuju dengan usul itu segera memasukkan sisir dan juga kacanya ke dalam tas. Keduanya pun berjalan beriringan ke kantin kampus.
*
"Males ah, Sil." Greta sudah berniat meninggalkan kantin saat baru saja sampai di pintu masuk.
"Ih, Greta! Terus mau makan di mana?" Sisil gemas dengan tingkah Greta yang aneh. Namun, tidak perlu bertanya apa alasannya karena gadis itu sudah tahu apa yang menyebabkan sahabatnya ini malas untuk meneruskan langkah ke kantin.
Greta berdecap kesal, lalu menatap malas ke arah gerombolan pemuda yang kini duduk tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Empat sekawan yang disebut geng pangeran tampan itu tampak sedang bercengkerama asik. Di mana di sekitar mereka kini terlihat wajah-wajah mahasiswi yang menunjukkan ketertarikan. Sungguh memuakkan, tetapi bukan itu yang membuat seorang Greta enggan berada di satu tempat sama dengan keempat pemuda yang katanya memiliki wajah tampan itu.
"Udah, deh, Gre. Sekali aja, nggak usah peduliin mereka. Gue beneran laper." Sisil menunjukkan wajah memelas. Greta yang melihat itu hanya bisan menoyor kepala sahabatnya dan segera melanjutkan langkah untuk duduk di salah satu bangku kantin. Berharap ketua geng yang bernama Girda itu tidak melihat keberadaannya.
"Gue yang pesen, deh. Lo mau apa?" tanya Sisil penuh pengertian saat keduanya sudah berhasil duduk di bangku kosong yang letaknya tidak terlalu terlihat.
"Gue soto aja." Sisil mengangguk dan segera melangkah pergi. Namun, langkah gadis itu terhenti saat sosok yang dia yakini akan merusak mood Greta kini berjalan ke arah meja mereka.
"Ngapain be—" Kalimat tanya Greta terputus saat menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok Girda sedang melangkah ke arah mejanya. "Mendingan kita pergi aja, yuk, ah!" Greta sudah berdiri, dan nyaris berhasil kabur. Namun, sosok Girda sudah berdiri menjulang, menghalangi jalannya.
"Mau ke mana, si? Baru juga dateng." Pemuda itu tersenyum amat manis. Tipe senyum yang akan membuat siapa pun akan meleleh, kecuali Greta, catat!
"Bukan urusan lo juga, minggir!" Greta mendelik kesal karena Girda tidak juga menyingkir dari hadapannya.
"Kamu kapan mau bersikap manis sama aku si, Xa?" Girda menunjukkan wajah memelas dan itu sungguh membuat Greta semakin muak. Apalagi saat panggilan berbeda dari lainnnya itu terus saja pemuda itu pakai.
Girda bilang, dia ingin menjadi lain dari pada yang lain, jadi memutuskan untuk memanggil Greta dengan panggilan Alexa. Nama belakang gadis itu juga mirip dengan namanya, Girda Alexander, dan Greta Alexandra. Menurut Girda, nama mereka itu adalah satu pertanda jika mereka adalah jodoh.
"Kalian mau makan, kan?" ujar Girda lagi mencoba mengabaikan tatapan tidak suka yang selalu saja gadis di depannya ini berikan. Cinta sejati butuh perjuangan, dan sekarang Girda sedang memperjuangkan untuk mendapatkan hati Greta. Semakin susah, maka dirinya akan semakin bersemangat karena merasa tertantang.
"Sekarang Sisil pesen aja, biar aku yang traktir."
Sisil sudah menunjukkan senyum girang, sementara Greta langsung memberi sahabatnya itu peringatan untuk tidak menerima tawaran itu, atau persahabatan mereka berakhir sampai di sini.
"Nggak usah, deh, Kak, makasih. Kita mau cari makan di tempat lain aja," ujar Sisil yang merasa sedikit kesal karena tidak jadi mendapat sarapan gratis.
"Minggir!" ujar Greta sekali lagi bersiap untuk menginjak kaki pemuda itu, andai saja Girda tidak juga menyingkir.
*
"Payah lo, Gre, harusnya kan bisa makan gratis kita," gumam Sisil sembari menyuap nasi sotonya ke dalam mulut. Akhirnya mereka makan di kedai soto depan kampus yang buka dari pagi.
Greta berdecap malas, lalu menuang sambal ke mangkuk sotonya. "Udah, deh, nggak usah kayak orang miskin, gue yang traktir."
Sisil langsung merekahkan senyuman saat mendengar kalimat itu. "Serius loh, jangan dibatalin."
"Iye, bawel!"
Sisil tergelak, dan langsung menyeruput minumannya saat nyaris tersedak. "Tapi itu, si, Kak Girda nggak bakalan berhenti ngejar, kalau nggak lo kasih kesempatan."
Greta enggan menyahut, karena pembahasan semacam ini sudah sering mereka lakukan.
"Lo beneran nggak ada sedikit pun rasa tertarik sama dia, ya?" Sisil sering bingung kenapa Greta terlihat anti sekali dengan Girda. Padahal pemuda itu sangat tampan, juga terkenal pintar.
"Buat apa cowok keren tapi caper?" Greta tidak menyukai kepribadian Girda yang seolah selalu merasa yakin bisa mendapatkan gadis mana pun yang diincarnya. Dan saat menargetkan dirinya, Greta yakin pemuda itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Merasa yakin tidak akan mendapat penolakan. Namun, sayangnya ini bukanlah cerita novel. Dirinya tidak akan mudah tertarik pada pemuda hanya karena ketampanannya.
"Coba aja lo tertarik sama dia, ceritanya pasti berakhir manis kayak novel." Sisil menerawang dengan senyum mengembang.
Greta berdecap malas, dan memilih untuk tidak menanggapi ucapan Sisil. Sekali lagi dia tekankan, kalau kisahnya dengan Girda tidak akan berakhir ke mana pun seperti kisah novel yang berawal dari benci jadi cinta.
"Eh, Gre, jadi ke toko buku, kan?" Sisil yang paham Greta tidak mau melanjutkan pembahasan soal Girda memilih mengganti topik.
Greta sudah ingin mengangguk, tetapi urung saat notifikasi ponselnya berbunyi dan memunculkan pesan dari omanya.
Oma : Gre, jangan lupa hari ini om kamu pulang.
"Nggak bisa, Sil. Hari ini gue mesti jemput om gue di bandara."
"Yah, Gre," keluh Sisil. Greta hanya bisa mengangkat bahu karena tidak mungkin menolak titah omanya yang mengharuskannya ikut menjemput omnya yang baru saja selesai mengenyam pendidikan S2-nya di Australia.