Pesona Om Arlan.

979 Words
"Om kamu pakai jaket kulit warna coklat ya, Gre." Greta hanya bisa mengangguk, dan melepas kepergian omanya dengan satu pesan yang sama sekali tidak membantu. Gadis itu terpaksa menunggu kedatangan omnya seorang diri karena omanya harus menemui klien penting. 'ARLAN AGASTYA SYARIF' Satu deret nama yang tertulis pada karton putih. Di mana benda tersebut kini berada di tangannya. Tidak ada foto yang omanya berikan. Padahal Greta sendiri sudah lupa bagaimana wajah om yang sudah lama tidak ditemuinya ini. Dulu Greta tinggal di Bandung, dan orang tuanya jarang sekali mengajaknya menjenguk oma di Jakarta. Sekalinya dia ikut, pasti Arlan sedang tidak berada di rumah. Seingat Greta, Om Arlan kuliah di Jogja untuk mengambil gelar S1-nya. Dan mendapatkan beasiswa untuk S2-nya di Australia. Jadi sepanjang Greta masih bisa mengingat, hanya satu hal yang terbayang di kepalanya. Laki-laki itu memiliki postur tubuh gemuk. Greta terakhir bertemu Arlan sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Seingatnya, Arlan adalah orang yang tertutup dan pendiam. Bahkan dulu Arlan sering marah setiap kali Greta mendekatinya. Dan gadis itu punya julukan untuk adik bundanya yang satu ini. Om gendut yang kaku. Saat orang tua Greta meninggal dua tahun yang lalu, Arlan tidak bisa pulang karena baru saja terbang ke Australia. Jadi, wajar saja kalau Greta benar-benar lupa bagaimana wajah Arlan. Dan sekarang, dengan kejam oma kesayangannya itu menyuruh Greta menjemput Arlan di bandara hanya dengan berbekal kertas dan satu kalimat, 'jaket kulit warna cokelat'. Mata Greta sudah lelah menatap satu persatu orang dengan jaket kulit warna cokelat, dan berpostur tubuh gemuk. Ya Tuhan, matanya bisa langsung minus tujuh kalau begini caranya. Greta pun menyerah. Ia memilih duduk lalu menempelkan kertas itu pada dahinya. Berharap orang itu yang menghampirinya saat melihat nama yang terpampang di atas kertas. Greta terus menghitung dalam hati sambil menopang sikunya di atas paha karena tangannya sudah pegal. Sampai langkah kaki seseorang dengan sepatu boots berjalan tegap ke arahnya. Mata Greta pun mulai memindai sosok tersebut dari bawah. Jeans hitam, kaki ramping. Greta menggelengkan kepalanya saat yakin orang tersebut bukanlah omnya. Lalu, pandangan gadis itu mulai merambat naik, jaket kulit cokelat, badan kekar atletis. Tidak, jaket cokelatnya benar, tetapi badan om-nya tidak sebagus ini, dia itu gendut. Dan ... tab! Langkah itu berhenti persis di hadapan Greta. Dengan gerakan slow motion kepala Greta pun mendongak. Mata gadis itu melebar dengan bibir tertarik membentuk senyum saat yang terlihat di depannya kini adalah sosok laki-laki dengan wajah tampan. "Greta?" Gadis itu mengerjab bingung saat mendengar panggilan itu keluar dari bibir laki-laki yang berdiri menjulang di depannya. Kira-kira, dari mana laki-laki ini bisa mengetahui namanya? Di antara kebingungan yang dirasakannya, Greta mengangguk pelan. "Kok Mas tahu nama saya?" tanya gadis itu seperti orang linglung. Dengan sedikit tidak sabar, laki-laki itu mengambil kertas yang Greta pegang, kemudian menunjukkannya pada Greta yang tampak kebingungan. "Masih ingat mau jemput siapa?" katanya dengan suara berat. Greta lagi-lagi mengangguk. "Om Arlan, tapi dari tadi nggak dateng-dateng," jawabnya polos. Laki-laki itu berdecap kesal. "Kamu pikir yang berdiri di depan kamu ini siapa?" Mata Greta membulat dan otomatis bangkit dari duduknya. Gadis itu berkali-kali mengerjabkan mata, seolah tengah memastikan sesuatu. Sementara laki-laki di depannya sudah mulai terlihat bosan karena sikapnya yang dianggap menyebalkan. "Om Arlan?" tanya Greta ragu sembari memindai sekali lagi sosok tampan tinggi di depannya. “Ini beneran Om Arlan? Kok nggak gendut, si?" gumam Greta lebih ke dirinya sendiri. Laki-laki yang mengaku sebagai Arlan itu kembali berdecap kesal. Bisa-bisanya mamanya menyuruh anak aneh seperti ini untuk menjemputnya. Kalau saja rumahnya tidak baru saja pindah, sudah tentu dia memilih untuk pulang sendiri tanpa harus dijemput seperti ini. "Heh! Udah bengongnya?" ketus Arlan karena Greta masih seperti orang linglung. "Kita naik apa?" "Naik taksi, soalnya mobilnya dibawa oma." "Ya udah tunggu apa lagi? Ayo pulang!" ketus Arlan yang benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Greta. Laki-laki itu melangkah lebih dulu sembari menyeret koper di tangannya. Walaupun masih bingung, Greta mengikuti langkah lebar laki-laki yang mengaku Arlan itu. Sungguh, dia masih belum percaya kalau itu Arlan. Om gendut yang kaku. Kalau kakunya masih seperti dulu, gendutnya yang sudah hilang sama sekali. Ah, sepertinya Greta punya julukan baru untuk Arlan saat ini. Om gantengku yang kaku. Rasanya tidak rela saat harus memanggil manusia tampan ini dengan sebutan om. Laki-laki ini masih terlalu muda karena setahu Greta, memang jarak bundanya dan adik laki-lakinya ini cukup jauh. Sekitar empat belas tahunan. Dan lagi bundanya dulu menikah muda. Di usia duapuluh tahun sudah melahirkan Greta. Jadi wajar saja kalau selisih umur Greta dan omnya hanya sedikit, sekitar enam tahunan kalau Greta tidak salah menghitung. *** Sepanjang perjalanan pulang kedua manusia itu hanya diam. Bagaimana bisa mengobrol kalau sekarang posisi duduknya saja berjauhan? Arlan memilih duduk di kursi depan, dan Greta duduk di kursi penumpang. Arlan sibuk dengan menyumpal telinganya dengan headset sambil memejamkan mata. Sementara Greta memilih memandang ke luar jendela dengan mata sesekali melirik ke arah Arlan. "Pak! Yang pagarnya warna biru tua, ya!" seru Greta pada supir taksi yang hanya dibalas anggukan. Dan saat itulah Arlan terlihat membuka mata dan melepas headset-nya. Keduanya turun setelah Greta membayar ongkos taksi yang sudah disiapkan oma tadi. Greta mendorong pagar rumahnya dan melangkah masuk. Arlan mengekor di belakangnya dengan menarik koper. "Kamar Om di atas!" seru Greta sembari memutar tubuh dengan senyuman lebar. Keduanya lalu naik ke lantai dua rumah itu. "Ini kamar, Om," lanjut Greta sebelum Arlan salah masuk karena kamar mereka memang berhadapan. "Yang ini kamar aku, kamar oma di bawah. Katanya capek kalau naik turun," jelas Greta tanpa ditanya. Arlan hanya mengedikkan bahu, lalu membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam tanpa bersuara. Greta pun melakukan hal yang sama. Masuk ke kamar dan membersihkan diri. Badannya hari ini terasa sangat lengket. Sepertinya, mulai hari ini hari-harinya yang monoton akan berubah warna karena akan mendapat pemandangan indah setiap hari. Sejenak saja. bolehkan Greta melupakan fakta jika laki-laki tampan yang sejak tadi dikaguminya itu adalah omnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD