Greta sedang duduk di ruang tengah saat diperhatikannya Arlan yang tampak mondar-mandir di dapur. Hari ini ART omanya libur, jadi memang tidak ada makanan di meja makan. Dan tadi oma berpesan untuk mengajak Arlan makan malam di luar.
"Astaga gue lupa," celetuk Greta sambil memukul dahinya. Gadis itu pun bangkit untuk menghampiri Arlan yang pasti sedang kelaparan. "Om mau makan? Laper, ya?" tanya Greta dengan ringisan kecil.
"Kamu pikir?"
Lagi-lagi Greta menunjukkan ringisannya. "Ayo Om, kita cari makan di luar," ajaknya yang membuat Arlan mendesah kesal.
"Kenapa nggak dari tadi, si?" ketus laki-laki itu dengan wajah menyebalkan. Namun, sialnya semenyebalkan apa pun wajah yang Arlan berikan, laki-laki itu masih terilhat tampan.
"Ya Om juga diem aja. Mana aku tahu Om laper."
Greta pun menyambar dompet dan sweater-nya, lalu mencepol rambut panjangnya asal-asalan.
Arlan sempat menahan napas saat melihat pemandangan itu. Tidak dapat dipungkiri, keponakannya yang dulu masih ingusan ini sekarang tampak berbeda. Dia sangat cantik dan terlihat lebih dewasa. Jujur, sejak pertemuan mereka di bandara tadi, ada sesuatu yang menggelitik hati Arlan saat melihat wajah manis Greta.
***
"Mau makan apa, Om?" tanya Greta saat mereka berjalan ke luar komplek. Tempat di mana penjaja makanan berkumpul setiap sore sampai malam hari.
"Ketoprak aja, udah lama nggak makan itu," jawab Arlan tanpa ekspresi berarti.
Greta yang mendengar jawaban itu langsung memberikan senyuman ceria. "Wah Ternyata kita sehati, aku juga lagi pengin makan itu, Om."
Arlan yang secara spontan menoleh, dan melihat ekspresi ceria yang Greta berikan, dengan susah payah menahan gejolak di hatinya untuk tidak ikut tersenyum. Sungguh, gadis ini sangat menggemaskan dengan penampilan acak-acakan seperti saat ini.
"Di sini ketopraknya paling enak tahu, Om. Aku sering banget makan di sini," ujar Greta lagi penuh semangat. Namun, yang Arlan berikan sebagai tanggapan hanya sebentuk gumaman nyaris tidak terdengar.
Greta mencebik kesal dalam hati melihat sikap omnya itu. Selanjutnya memilih diam karena Arlan tampak sibuk dengan ponselnya. Sungguh keterlaluan omnya yang satu ini, mengabaikannya hanya karena sebuah benda pipih itu. Padahal jelas lebih menarik dirinya, dibanding benda berlayar itu.
"Pasti lagi chatingan sama pacar, ya?" celetuk Greta dengan tatapan jahil. Keduanya memilih duduk di salah satu bangku kosong setelah memesan dua porsi ketoprak dengan es teh manis.
Arlan menaikan satu alisnya, sebelum menjawab, "Kalau iya, kenapa?"
"Serah deh Om, aku laper," kesal Greta sembari memainkan tisu yang terletak di depannya.
Tanpa gadis itu sadari, satu sudut bibir Arlan terangkat. Dan tanpa Greta sadari pula, kalau dari tadi omnya mencuri gambar lewat kamera ponselnya. Entahlah, Arlan sepertinya sedikit gila karena tertarik pada keponakannya sendiri. Tidak lama kemudian ketoprak pesanan mereka datang. Arlan memasukan ponselnya ke dalam saku lalu menikmati hidangan di depannya.
"Enak kan, Om? Nggak salah kan selera aku?"
"Lumayan."
"Mahal amat si itu suara," gerutu Greta.
Lagi-lagi Arlan tersenyum, menampakkan lesung pipinya. Namun, tentu saja tanpa sepengetahuan Greta.
***
"Om, kita beli es krim dulu, yuk!" ajak Greta yang membuat kening Arlan berkerut. Pasalnya mereka baru saja menghabiskan satu porsi ketoprak, yang menurutnya porsinya cukup besar.
"Di deket sini ada kedai es krim yang ramai banget kalau malam minggu begini." Greta memang biasanya mampir ke tempat itu setelah membeli makanan.
"Kamu belum kenyang?" tanya Arlan heran sembari memindai tubuh kecil Greta.
"Kalau cuma es krim mah kuat, Om! Lagian baru jam delapan. Mau ngapain juga di rumah, kan?"
Arlan hanya mengedikkan bahu, tanda kalau dia ikut saja ke mana Greta pergi.
Mereka berjalan ke arah kedai es krim yang terlihat cukup padat. Bahkan Arlan tidak yakin kalau mereka akan mendapatkan tempat duduk.
"Itu ramai banget, Gre. Yakin mau ke sana?" ujar Arlan dengan ringisan ngeri.
"Kita nggak usah duduk di dalam, Om. Kita duduk di bangku sana." Greta mengedik dagu ke arah bangku kosong di samping kedai.
"Om ke sana aja, nanti aku nyusul."
"Oke."
"Om mau es krim apa?" tanya Greta sebelum melanjutkan langkahnya.
"Nggak usah, kamu aja," jawab Arlan sembari berjalan ke arah bangku yang tadi Greta tunjuk.
Setelah mengantre beberapa saat, akhirnya Greta mendapat es krim yang dia inginkan. Gadis itu pun melangkah ke arah Arlan yang lagi-lagi sedang asik dengan ponselnya.
"Om mau ngapelin pacar, ya?" tanya Greta sambil menyendok es krim cokelat dalam cup yang baru saja ia beli. Duduk santai di samping Arlan yang sedang menikmati udara malam.
"Sok tau kamu," jawab Arlan datar sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Ya , secara … nggak mungkin orang kaya Om ini, nggak punya pacar, kan?" Greta memasang senyum kepo yang dibalas dengkusan malas oleh Arlan.
"Maksudnya orang kaya om gimana?" tanya laki-laki itu dengan tatapan mengintimidasi, sampai Greta harus bersusah payah menelan eskrimnya.
"Em-ya … gitu, Om itu kan, ke-ren. Nggak mungkinlah kalau masih jomlo?" jawab Greta mencoba untuk tidak salah tingkah.
"Kalau kamu?"
Greta mengernyit bingung saat mendapat pertanyaan balik semacam itu. "Aku? Maksudnya aku udah punya pacar belum, gitu?"
Arlan mengangguk, matanya terus mengawasi wajah Greta.
"Om kaya nggak kenal bunda sama oma. Mana boleh aku pacaran sebelum lulus kuliah?"
"Dan kamu ikutin larangan mereka?" tanya Arlan seolah tidak percaya.
Greta mengangguk-anggukan kepalanya cepat. "Iya, aku kan anak dan cucu berbakti, Om," cengirnya yang tanpa sadar memancing secuil senyum terbit di bibir Arlan.
Entah kenapa Arlan bersyukur dalam hati mendengar pernyataan itu. Dia sepertinya benar-benar melupakan fakta kalau Greta ini adalah keponakannya.
Greta yang merasa ditatap begitu intens oleh Arlan merasa agak risi. Apalagi tatapan itu datar dan tanpa ekspresi.
"Om!"
Arlan tersentak mendengar suara itu. Dia sampai tidak sadar kalau dari tadi terpesona dengan wajah manis milik Greta.
"Pulang, yuk! Aku capek," kata Arlan setelah melihat es krim di tangan Greta sudah habis. Namun, gadis itu malah hanya mematung.
"Udah ayo pulang," kata Arlan lagi karena Greta tidak juga berdiri.
"Eh! Iya, iya."
Keduanya pun berjalan ke rumah sambil mengobrol ringan. Walaupun tetap saja wajah Arlan tampak datar. Kadang terlihat ingin tersenyum, tetapi entah kenapa harus ditahan atau disembunyikan. Sampai Greta kesal sendiri melihatnya.
***
"Om itu kalau mau senyum ya senyum aja. Pelit amat si sama senyum doang?" ujar Greta yang sudah tidak lagi bisa menahan rasa gemasnya. Arlan sungguh menyebalkan.
Arlan malah tampak bingung, sebelum menjawab, "Senyumku itu mahal, Gre. Hanya orang-orang yang aku sayang aja yang bakalan aku beri senyum."
Greta menghentikan langkah, keningnya berkerut untuk mencerna kalimat Arlan. "Berarti ... aku harus bikin Om sayang sama aku dulu, baru Om bisa tersenyum?"
Arlan menghentikan langkahnya dan menatap aneh ke arah Greta.
"Loh bener, kan?" Greta merasa tidak ada yang salah dari kalimat yang diucapkannya.
"Iya," jawab Arlan datar, lalu memilih masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Meninggalkan Greta yang melongo karena sikap aneh omnya itu.