Greta sudah siap dengan baju olahraganya. Pagi-pagi di hari Minggu, bukan waktunya untuk bergelung di bawah selimut. Greta memang bukan tipe orang yang akan menghabiskan hari liburnya hanya untuk tidur. Dia lebih suka bersepeda santai ke taman komplek. Tempat itu selalu ramai setiap hari akhir pekan.
"Eh!" pekik Greta terkejut saat sadar ada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Bilang-bilang, kek, kalau lagi di situ, bikin orang jantungan aja," cibir Greta sembari mengeluarkan sepeda hadiah ulang tahun dari ayahnya. Kenang-kenangan yang sangat ia jaga karena dulu mereka sering bersepeda di kebun teh. Saat masih tinggal di Bandung, dan saat orang tuanya masih ada.
"Mau ke mana?" tanya Arlan, laki-laki itu masih memasang ekspresi datar seperti kemarin.
"Mau sepedaan, ke taman komplek, Om. Kalau Minggu gini rame banget," jawab Greta yang sudah duduk di atas sepeda, dan sudah siap mengayuhnya. Namun, kaki Arlan malah dengan sengaja menahan roda sepedanya.
"Awas, Om! Aku nggak bisa jalan!" protes Greta karena sepedanya memang tidak bisa bergerak.
"Turun!"
"Hah?" Greta melongo bingung mendengar perintah itu.
"Turun!" ulang Arlan.
Walaupun masih dalam kondisi bingung, Greta menuruti perintah aneh omnya ini. Arlan segera mengambil alih sepeda itu setelah Greta sudah turun. Gadis itu hanya mengerutkan kening, apalagi saat Arlan menyuruhnya naik.
Maksudnya ini naik di mana? Sepedanya ini sepeda gunung, bukan jenis sepeda yang dirancang untuk bisa dipakai dua orang.
Arlan menepuk-nepuk besi yang melintang. Hal yang memancing Greta untuk menahan napasnya saat itu juga.
Jangan bilang Greta harus naik ke situ dan jelas mereka akan duduk begitu dekat. Bukankah posisi seperti itu akan terlihat romantis? Bagaimana jika nanti hati polos Greta melemah dan berujung baper pada omnya? Siapa yang akan bertanggung jawab jika hal semacam itu terjadi?
"Ayo! Entar keburu panas," ketus Arlan saat melihat Greta hanya mematung sembari menggigiti bibirnya.
Agak ragu, tetapi Greta naik juga ke sepedanya. Ada untungnya juga Greta ini mempunyai tubuh mungil. Jadi pandangan Arlan tidak akan tertutupi kepala Greta, yang hanya sampai di bawah dagunya.
Bisa Greta rasakan embusan napas lembut Arlan di puncak kepalanya. Dadanya langsung bergemuruh saat itu juga. Dengan susah payah Greta mengambil dan membuang napasnya. Entah mengapa tiba-tiba saja udara di sekitarnya seolah menghilang entah ke mana. Mereka bersepeda dalam diam. Greta harus berkali-kali menahan napas, saat tanpa sengaja tubuhnya terbentur d**a Arlan.
Sementara tanpa Greta sadari, dari tadi bibir Arlan terus mengulum senyum. Laki-laki itu sedang menikmati semerbak wangi lemon yang menyeruak dari rambut Greta. Jangan tanyakan kondisi jantung Arlan saat ini. Karena jantungnya selalu saja berdetak lebih cepat setiap kali berada di dekat keponakannya ini. Arlan benar-benar benci jika harus mengingat kenyataan itu.
Bisakah dia merubah takdir? Tuhan, lahirkan kembali Greta tetapi jangan lewat rahim kakaknya.
***
"Sepedanya ditaruh mana, Gre?" tanya Arlan. Keduanya sudah sampai di taman yang terlihat ramai.
"Di situ aja, Om," tunjuk Greta ke arah parkiran khusus sepeda dengan dagunya.
Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya yang terasa pegal. Oke, itu tadi memang sangat romantis. Namun, separuh badannya terasa kebas karena harus duduk di atas besi dalam posisi miring.
Setelah memastikan sepedanya aman, Greta dan Arlan memilih untuk berlari kecil mengelilingi taman.
"Om!" Greta sesekali menoleh dalam larinya. Memindai wajah Arlan dari samping. Laki-laki ini sungguh telah jauh berubah, yang Greta maksud adalah dari segi fisik.
"Hmm," gumam Arlan tanpa minat.
"Kok, Om bisa kurus begini, si?"
"Memangnya kenapa?" Arlan malah balik bertanya sembari melempar tatapan malas. Lalu, ia akan kembali fokus ke jalanan yang mereka lalui.
"Enggak, dulu kan Om itu--"
"Gendut?" potong Arlan cepat.
Greta meringis, agak tidak enak jika harus menyinggung hal itu. Namun, dia penasaran dengan perubahan Arlan yang tampak sangat drastis ini.
"Semua orang bisa berubah, Gre." Hanya itu jawaban yang Greta terima karena selanjutnya Arlan memasang headset, dan mendengarkan lagu dari ponselnya. Seolah memberi tanda kalau dia tidak ingin diganggu apalagi diberi pertanyaan yang sangat tidak penting seperti itu.
Greta hanya mencibir kesal lalu berhenti dan memutar tubuhnya. Mood jogging-nya langsung hilang. Ia memilih melangkahkan kakinya ke salah satu gerobak penjual bubur ayam, dan membiarkan Arlan tetap meneruskan larinya.
***
Setelah beberapa putaran akhirnya Arlan menyudahi kegiatannya, dan berlari kecil ke arah Greta yang sudah menandaskan satu mangkuk bubur ayam. Setelah napasnya teratur, Arlan duduk di bangku plastik di depan Greta.
Greta menyodorkan satu botol air mineral, dan langsung ditenggak habis oleh Arlan. Gadis itu hanya tersenyum melihat itu. Apalagi saat ini wajah Arlan makin indah dipandang dengan kondisi lelah seperti ini.
Rambut dan kaos abu-abu laki-laki itu basah oleh keringat. Wajah putihnya seolah berkilau saat terpapar sinar matahari pagi. Dan lesung pipi itu, rasanya Greta baru sadar kalau Arlan memiliki lesung pipi. Hal yang menambah kadar ketampanan Arlan makin berlimpah. Bahkan Greta nyaris tidak mengedipkan matanya karena terpesona.
Arlan melempar handuk kecilnya ke wajah Greta untuk menyudahi kegiatan gadis itu. Melihat Greta menatap dirinya seperti itu, hanya membuat kondisi jantung Arlan semakin tidak sehat.
Greta menggerutu kesal sambil melempar kembali handuk itu ke arah Arlan. Dengan sigap Arlan menangkapnya. Secuil senyum terbit di wajah tampan itu, membuat bolongan di kedua pipinya makin terlihat nyata. Dan Greta memicingkan mata untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah. Namun, Arlan sudah terlebih dulu beranjak untuk memesan bubur ayam.
Fokus Greta teralih saat ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.
Sisil : Jalan yuk, Gre!
Greta : Ke mana?
Sisil : Nonton yuk, pingin nonton Dilan.
Greta : Ogah! Lo aja sono. Nonton Dilan kalau baper siapa yang mau tanggung jawab?
Sisil : Dasar zombelo.
Greta : Ngaca deh, emang situ nggak zombelo?
Sisil : Iye, tapi kan gue jomblonya baru sebulan. Nah lo, jomblo abadi.
Greta : Jomblo gue pilihan.
Sisil : Serah lo dah. Gimana? Jalan yuk.
Greta : Ogah ah, gue males. Ini gue lagi jogging sama om gue.
Sisil : Lah, sama om-om. Nggak lepel.
Greta : Aisshhh … lo belum lihat si kaya apa om gue. Kalau lihat, lo bakalan langsung pingsan karena kegantengannya.
Sisil : Sumpe lo? Ya udah deh gue main ke rumah lo aja. Xixixi.
Greta : Serah.
Sisil : Bener ya? Gue meluncur?
Greta : Dasar ganjen. Nggak bisa denger kata ganteng!
Sisil : Itu tandanya cewek normal Gre.
"Masih mau senyum-senyum sendiri atau mau pulang?"
Suara itu mau tidak mau membuat Greta tersenyum tidak enak karena tanpa sengaja daritadi dia sudah mengabaikan Arlan, dan membuat laki-laki itu kesal sebab diabaikan. Sebenarnya Arlan penasaran apa yang membuat Greta sampai senyum-senyum sendiri dengan benda pipih itu.