Greta yang sudah rapi dengan kaus rumahan, memilih duduk di teras rumah untuk menunggu kedatangan Sisil. Arlan yang baru saja turun dari kamar, ikut duduk di samping gadis itu. Rambutnya yang basah di sisir rapi. Kaos abu-abunya sudah berganti dengan kaos putih polos dan celana cargo hitam.
Jantung Greta langsung kebat-kebit saat merasakan kehadiran Arlan. Apalagi wangi sabun menyeruak dari tubuh laki-laki itu.
"Ngapain senyum-senyum?" ketus Arlan sambil melirik ke arah Greta, lalu selanjutnya menatap lurus ke depan.
"Daripada manyun terus, Om! Nanti cepet tua!" ujar Greta. Gadis itu memutar tubuhnya hingga kini duduk menghadap penuh ke arah Arlan.
"Kok Om di rumah aja, si?" tanyanya sambil menatap wajah Arlan dari samping.
"Emangnya harus ke mana?" tanya Arlan balik. Dia menoleh sekilas ke arah Greta yang kini secara terang-terangan menatapnya, lalu memilih membuang tatapannya ke depan. Gadis itu tidak tahu efek dari tatapannya, yang hanya membuat jantung Arlan terasa semakin berdebar-debar.
"Ya kali aja mau kangen-kangenan sama temen-temen gitu. Secara … dua tahun di luar negeri pasti pengin ketemu temen, kan?"
Arlan melirik Greta sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan. Sebenarnya dia bukan tidak ingin bertemu dengan teman-temannya. Dari kemarin banyak pesan masuk, apalagi kalau bukan ajakan untuk reuni. Namun, entah mengapa Arlan malas sekali bertemu dengan mereka.
Apalagi jika mengingat ada seseorang yang harus Arlan hindari. Seseorang yang mampu membuat Arlan merubah penampilannya menjadi seperti sekarang.
Seseorang yang selama dua tahun ini mengisi pikirannya dan menjadi penyemangat untuk pulang ke Indonesia. Dengan satu tujuan, ia ingin menunjukan pada sosok itu bahwa Arlan yang sekarang sudah berbeda. Dia bukan lagi Arlan gendut yang harus dijadikan bahan olok-olokan.
Arlan yang sekarang, adalah Arlan yang sangat wajib untuk dilirik. Bahkan ia yakin orang itu akan melongo kagum jika melihat perubahannya untuk saat ini.
Namun, anehnya semua keinginan itu, semangat itu, langsung pupus dan hilang entah ke mana semenjak dia bertemu dengan Greta.
Iya, Gadis itu. Keponakannya. Gadis yang membuat Arlan melupakan mimpinya, melupakan segala rencana yang sudah tersusun rapi. Hanya karena seorang Greta.
"Malah bengong si, Om?"
Arlan tersentak saat itu juga, lalu menoleh ke arah Greta saat satu rencana muncul di kepalanya. "Nanti malam kamu ikut aku."
Greta mengerutkan kening. "Ke mana?"
"Ikut aja."
Greta mencebik saat Arlan selalu bersikap menyebalkan seperti ini. "Seneng banget bikin orang penasaran."
Tin! tin!
Keduanya langsung memutar kepala saat sebuah motor masuk ke halaman rumah.
"Itu temen aku, Sisil," kata Greta tanpa ditanya.
Arlan malah memilih masuk tanpa bersuara. Dari gerak geriknya, sepertinya Sisil ini bukan tipe gadis yang Arlan sukai.
"Loh, Om, kok malah masuk?" Padahal rencananya Greta ingin memamerkan Arlan pada Sisil.
"Ngantuk," jawab Arlan tanpa menoleh.
"Gre! Sumpah, itu Om, lo?" kata Sisil agak histeris setelah turun dan duduk di samping Greta.
Greta sudah terbiasa dengan ke-lebay-an yang sering sahabatnya itu tunjukan. Sepertinya dia paham kenapa Arlan memilih untuk masuk ke dalam.
"Tapi kok malah masuk si, Gre? Kan gue belum lihat jelas aura kegantengannya."
"Om gue kayaknya alergi sama cewek ganjen," celetuk Greta yang mendapat satu toyoran dari Sisil.
"Lo mah, jatuhin gue mulu senengnya," ujar Sisil dengan bibir mengerucut, lalu merogoh tas, saat ponselnya terus berbunyi.
"Kayaknya baru lagi, ni?" celetuk Greta saat sahabatnya itu malah tersenyum sendiri ke arah ponsel.
Sisil hanya memberikan satu cengiran lebar sebagai jawaban 'ya'.
"Lo tahu yang namanya, Dimas?"
Dahi Greta berkerut untuk mengingat, lalu netra itu melebar saat sadar siapa yang Sisil maksud. "Boyband abal-abal?"
***
"Nanti di sana jangan manggil aku Om, ya!" titah Arlan saat mereka masuk ke dalam mobil.
Greta yang sedang memasang seatbelt-nya memutar kepala dengan kerutan bingung.
"Nggak usah banyak nanya," ujar Arlan datar sebelum Greta melayangkan sebuah pertanyaan.
"Terus?"
"Ya terserah kamu mau manggil apa, pokoknya jangan, Om."
"Bapak aja deh kalau gitu," celetuk Greta dengan kikikan geli. Namun, segera mengaduh saat Arlan menyentil dahinya.
"Becanda kali Om, entar aku pikirin deh apa panggilan yang pantes buat orang ganteng kaya, Om," celetuk gadis itu lagi, kali ini dengan cengiran. Arlan hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari melajukan mobilnya.
Malam ini Arlan mengajak Greta untuk menemui teman-temannya. Sepertinya ini adalah solusi paling bagus. Datang sendiri hanya akan membuat teman-temannya makin gencar menggodanya. Belum lagi orang itu. Entahlah, Arlan mendadak ilfeel dengan orang yang dari dulu ia puja-puja.
Sejak bertemu dengan Greta, segala yang ada di hati Arlan berubah total. Dia bisa menjadi dirinya sendiri. Gadis ini memang berbeda. Greta selalu bisa membuat sudut bibir Arlan terangkat walaupun secara sembunyi-sembunyi. Mencairkan suasana, walaupun Arlan sering tidak menanggapinya. Namun, Greta seakan tidak pernah mempedulikan sikap dingin Arlan yang sering membuat gadis-gadis lain marah tanpa alasan.
***
"Kita mau ke mana si, Om?" tanya Greta sambil melirik Arlan yang masih fokus dengan kemudinya. Laki-laki ini memang belum memberitahu tujuan mereka pergi saat ini. Namun, bukan Arlan jika langsung menjawab rasa penasaran Greta.
"Udah nggak usah banyak nanya." Jawaban yang tentu saja tidak Greta harapkan.
Gretapun akhirnya memilih diam, dan tidak lama kemudian, akhirnya Arlan membelokkan mobilnya ke sebuah kafe. Tempat yang dulu-- dan nyatanya sampai sekarang masih sering teman-temannya jadikan tempat nongkrong.
"Inget kata aku tadi?"
"Iya! Nggak boleh manggil Om, kan? Terus aku manggil apa, ya? Sayang? Honey?" tanya Greta sambil terkikik geli.
"Udah, nggak usah ngawur. Ayo turun!"
Kedua orang itupun turun dari mobil. Greta berjengit saat merasakan tangan Arlan meraih jemarinya. Tanpa mempedulikan reaksi Greta, laki-laki itu malah berjalan santai seolah apa yang ia lakukan ini adalah hal yang sangat wajar.
Arlan mengedarkan pandangannya, sampai seseorang tampak melambaikan tangan. Dia pun melangkah ke arah beberapa orang yang kini duduk memutar di salah satu meja kafe, yang sepertinya sengaja didesain untuk tempat nongkrong.
Ada kurang lebih lima laki-laki dan dua perempuan. Arlan menyalami mereka semua dan tak lupa memperkenalkan Greta.
"Wah bro! Makin oke aja ni penampilan," seloroh salah satu teman.
"Itu yang digandeng oke juga," sahut yang lainnya.
Sementara tanggapan Arlan hanya tersenyum miring dan mengajak Greta duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
"Pesen gih, Lan!" kata salah seorang.
"Nggak lah, gue cuman sebentar. Abis ini masih ada acara."
"Ngomong-ngomong itu gandengan boleh juga. Cewek, lo?" bisik seorang cowok yang duduk di samping Arlan. Bukan berbisik sebenarnya, buktinya Greta masih bisa mendengarnya.
Lagi-lagi Arlan hanya tersenyum dan mengisyaratkan sesuatu lewat matanya. Greta memilih diam, sebenarnya dia takut salah bicara. Bisa murka Arlan kalau sampai dia keceplosan memanggil laki-laki itu dengan sebutan om. Jadi cara paling aman adalah diam, mendengarkan segala celoteh orang-orang yang lebih dewasa seperti mereka ini. Tidak jarang orang-orang ini tergelak-gelak, entah menertawakan apa.
"Kamu bosen?" tanya Arlan yang melihat Greta hanya diam saja.
"Menurut situ?" jawab Greta malas.
Arlan tersenyum. "Bentar lagi, ya," lanjut Arlan sambil melirik arlojinya.
Sebenarnya dia sedang menunggu seseorang. Orang yang-- ah, sudahlah tidak usah dibahas lagi. Kata teman-temannya orang itu sedang dalam perjalanan. Jika lima menit lagi dia tidak datang, maka Arlan akan pergi. Kasihan juga Greta yang dari tadi diam saja.
"Wah bro! Gebetan lo, tu," celetuk cowok yang duduk di samping Arlan sambil menepuk bahu laki-laki itu.
"Mantan gebetan kali, lo nggak liat si Arlan udah bawa yang lebih bening," goda cowok yang menurut Greta paling tengil karena dari tadi cowok ini terus mencuri-curi pandang ke arahnya, dan sekarang malah mengerlingkan matanya genit. Greta hanya meringis dengan tatapan risi yang sengaja tidak ditutupi.
Tangan Arlan makin mengeratkan genggamannya di jemari Greta saat seorang wanita melangkah ke arah mereka.
Cantik, anggun, mempesona. Sepertinya tiga kata itu cocok untuk menggambarkan wanita yang kini sedang menatap Arlan tajam. Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kayaknya gue cabut duluan. Gue sama cewek gue ada urusan," ucap Arlan sambil berdiri, kakinya menginjak kaki Greta yang nampak melongo kaget dengan ucapannya.
Dengan cepat Greta menguasai keadaan, dan mencoba mengimbangi sandiwara Arlan. Mereka saling bersalam-salaman. Dan tatapan Arlan seolah menghunus tajam saat dia berhadapan dengan wanita, yang kini menatapnya dengan wajah menyesal.
Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Yang Greta tahu pasti ada cerita tidak mengenakkan di masa lalu antara Arlan dan wanita cantik itu.
"Kira-kira dong Om, kalau nginjek, sakit tahu," cibir Greta saat mereka sudah lolos dari kafe dan kini sudah berdiri di samping mobil.
Arlan berjongkok dan memeriksa kaki Greta yang memang agak memerah.
Bagaimana tidak merah? Greta hanya memakai flatshoes tipis, sementara kaki Arlan memakai sneakers. Belum lagi ukuran kaki laki-laki itu yang pastinya lebih besar dari milik Greta.
Arlan menatap Greta dengan penuh sesal. "Sori, ya? tadi reflek."
"Untung aku nggak jerit tadi."
"Ya udah, sebagai permohonan maaf kamu mau minta apa?" tanya Arlan yang kini sudah berdiri menghadap Greta.
"Emm." Greta tampak berpikir.
"Udah mikirnya entar, pulang yuk!" ucap Arlan cepat karena tahu Greta kalau sudah mikir pasti lama.
"Kok pulang si Om, aku kan laper. Nggak ditraktir dulu gitu."
Arlan hanya menghela napas malas. "Ya udah ayo!"
"Yes! Aku yang milih ya mau makan di mana?"
Arlan hanya mengedikan bahu seolah berkata, "Terserah kamu".