bc

Akad : Antara Kabul dan Dekat

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
heir/heiress
drama
sweet
serious
kicking
bold
city
office/work place
secrets
like
intro-logo
Blurb

Bagi Alana Syakila, jodoh terjauh yang pernah ia bayangkan hanyalah pria beda kota. Namun, takdir justru membawanya pada Azad Sherko, pria berjanggut dengan tatapan sedalam pegunungan Erbil, Kurdistan.

Lewat layar ponsel, jarak ribuan kilometer terasa tipis. Namun saat Azad nekat mendarat di Jakarta, Alana sadar bahwa cinta mereka harus melewati "medan perang" yang nyata: restu keluarga yang kolot, stereotip dunia luar yang kejam, hingga aroma sambal terasi yang hampir membuat Azad menyerah.Di tengah bayang-bayang konflik tanah kelahiran Azad, Alana Syakila harus memilih: bertahan di zona nyamannya yang aman, atau mempertaruhkan segalanya demi sebuah janji di bawah langit Kurdistan.

"Karena pada akhirnya, rumah bukan tentang di mana kamu lahir, tapi kepada siapa hatimu pulang."

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Bukan Pangeran Berkuda, Tapi Pria Berjanggut di Layar Kaca
Kalau ada yang bilang jodoh itu jemputan, aku pasti bakal nanya balik: "Dijemput pakai apa? Gojek atau jet pribadi?" Karena sejujurnya, di usiaku yang ke-27 ini, satu-satunya yang menjemputku setiap pagi cuma alarm HP yang bunyinya sember. Namaku Alana Syakila. Pekerjaanku? Content writer di sebuah agensi digital di Jakarta yang hobi mengonsumsi kafein berlebih dan mengeluh soal kemacetan Sudirman. Hidupku datar-datar saja, sampai akhirnya sebuah aplikasi pertukaran bahasa—yang awalnya aku instal cuma buat iseng belajar bahasa asing—mengubah segalanya. Semua bermula dari satu notifikasi di hari Selasa yang membosankan. "Azad sent you a message." Aku mengerutkan kening. Azad? Namanya terdengar asing, tapi familiar di saat yang sama. Aku membuka profilnya. Fotonya tidak pamer kekayaan. Cuma foto seorang pria berdiri di depan pegunungan batu yang gersang tapi cantik, mengenakan kemeja flanel dan senyum yang... oke, aku akui, cukup manis. Sangat manis, malah. Di kolom profilnya tertulis: Kurdish. Living in Erbil. Looking to practice my English and learn about different cultures. "Kurdi?" gumamku sambil menyeruput kopi saset yang sudah dingin. Aku tahu Kurdi dari berita internasional, tapi aku nggak pernah benar-benar tahu mereka itu siapa, di mana, dan bagaimana. Yang kutahu, mereka adalah bangsa tanpa negara resmi yang tersebar di beberapa wilayah Timur Tengah. Penasaran, aku membalas sapaannya. “Hi Azad, I’m Alana from Indonesia. Nice to meet you.” Dan dari sanalah, "lubang kelinci" itu dimulai. Biasanya, cowok-cowok di aplikasi begini kalau nggak ghosting ya ujung-ujungnya minta foto yang aneh-aneh. Tapi Azad beda. Dia sopan. Sangat sopan sampai kadang aku merasa seperti sedang bicara dengan dosen pembimbing yang sangat ramah. Dia bercerita tentang Erbil, kota yang dia sebut sebagai salah satu kota tertua yang terus dihuni di dunia. Dia mengirimkan foto Citadel of Erbil saat matahari terbenam. Warnanya oranye keemasan, sangat kontras dengan pemandangan gedung beton Jakarta yang setiap hari kulihat. "Di sini, kami sangat menghargai tamu," tulisnya suatu malam. "Kalau kamu ke sini, ibuku pasti akan memasakkan Dolma yang paling enak sedunia." Aku tertawa sambil mengetik balasan. "Wah, jangan janji dulu. Jakarta ke Erbil itu jauh banget, Azad. Ongkosnya bisa buat cicil motor." "Jarak itu cuma angka, Alana. Yang penting itu niat," balasnya cepat. Aku tersenyum sendiri melihat layar ponsel. Teman sekantorku, mita, sampai menyenggol bahuku. "Heh, senyum-senyum terus. Dapat gebetan baru ya? Lokal atau impor?" "Impor," jawabku pendek. "Kurdi." Mita melongo. "Kurdi? Itu yang di mana? Dekat Bekasi?" Aku memutar bola mata. "Jauh, Mita. Di Irak utara." "Hah?! Kamu mainnya ekstrem ya sekarang. Hati-hati lho, entar di sana isinya perang semua," katanya dengan nada sok tahu. Aku cuma diam. Tapi dalam hati, aku mulai bertanya-tanya. Apa benar yang dibilang orang-orang? Apa aku cuma mencari masalah dengan bicara sama pria dari belahan dunia yang sering diberitakan penuh konflik itu? Setelah dua bulan bertukar pesan teks, Azad mengajakku video call. Aku sempat panik. Aku dandan habis-habisan, pakai skincare berlapis-lapis supaya mukaku nggak kelihatan kusam-kusam amat di depan kamera. Begitu panggilan terhubung, wajahnya muncul. Dia jauh lebih tampan daripada di foto. Rahangnya tegas, matanya cokelat gelap dengan bulu mata yang saking lentiknya bikin aku iri, dan janggut tipis yang tertata rapi. "Halo, Alana?" suaranya berat, dalam, dan punya aksen yang unik. "Hai, Azad," jawabku malu-malu. Dia tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang rapi. "Akhirnya aku bisa melihat wajahmu secara langsung, bukan cuma lewat foto. Kamu lebih cantik saat bicara." Pipiku langsung panas. Sial, gombalan pria Timur Tengah memang levelnya beda ya? Kami bicara selama dua jam. Dia bercerita tentang keluarganya yang besar, tentang bagaimana mereka sangat menjaga tradisi, dan tentang kecintaannya pada pegunungan. Dia bukan tentara, dia seorang insinyur sipil. Dia bicara soal membangun jalan dan jembatan, soal impiannya melihat negaranya damai sepenuhnya. "Orang Kurdi itu seperti pegunungan, Alana," katanya serius. "Kami kokoh, tapi kami punya banyak cerita tersembunyi. Kami tidak punya teman selain pegunungan, begitu kata pepatah kami. Tapi sekarang, aku merasa punya teman di Indonesia." Aku tertegun. Ada ketulusan di matanya yang nggak bisa bohong. Di saat pria-pria di sekitarku sibuk pamer jabatan atau mobil, Azad bicara soal identitas, soal akar, dan soal harapan. Tapi, nggak selamanya obrolan kami manis. Suatu hari, aku mendengar suara bising di latar belakang saat kami teleponan. Bunyi sirene atau sesuatu yang mirip ledakan jauh. "Azad, itu suara apa?" tanyaku panik. Dia menghela napas, wajahnya tetap tenang. "Hanya latihan atau mungkin gangguan kecil di perbatasan. Jangan khawatir, Alana. Ini hal biasa di sini." "Hal biasa?" suaraku meninggi. "Azad, itu kedengarannya bahaya!" Dia terdiam sejenak, lalu menatap kamera dengan intens. "Dengarkan aku. Hidup di sini memang tidak sepelangi di tempatmu. Tapi kami belajar untuk menghargai setiap detik. Itulah kenapa, saat aku bilang aku menyukaimu, aku tidak main-main. Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok." Deg. Jantungku serasa mau copot. Dia baru saja bilang... menyukaiku? "Aku ingin bertemu denganmu," lanjutnya. "Bukan lewat layar ini. Aku ingin kamu melihat Erbil, dan aku ingin melihat Jakarta. Tapi lebih dari itu, aku ingin ibuku melihat wanita yang sudah membuatku betah menatap ponsel berjam-jam setiap malam." Aku terdiam seribu bahasa. Ini gila. Ini di luar logika. Aku, Alana, gadis Jakarta yang takut kecoak dan nggak bisa hidup tanpa AC, tiba-tiba diajak serius oleh seorang pria Kurdi yang hidupnya berdampingan dengan konflik dan pegunungan batu. Tapi entah kenapa, bukannya takut, aku malah merasa tertantang. Ada sesuatu di dalam diri Azad yang membuatku merasa aman, meski jarak kami ribuan kilometer. Aku menarik napas panjang. "Azad... kamu tahu kan ini nggak bakal mudah? Orang tuaku, budayaku, jaraknya..." "Aku tahu," potongnya lembut. "Tapi bukankah hal-hal yang berharga memang tidak pernah mudah didapatkan?" *** Malam itu, di kamar kosku yang sempit di Setiabudi, aku menatap langit-langit. Pikiranku terbang jauh ke tanah Kurdistan. Aku nggak tahu apa yang menantiku di depan sana. Aku nggak tahu apakah ini akan berakhir bahagia atau jadi patah hati paling internasional yang pernah ada. Satu yang pasti: petualanganku baru saja dimulai. Dan entah bagaimana caranya, aku tahu hidupku nggak akan pernah sama lagi setelah ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.6K
bc

Too Late for Regret

read
360.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
152.4K
bc

The Lost Pack

read
469.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
159.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook