Ternyata, mengakui perasaan itu bagian yang mudah. Bagian susahnya? Menjelaskan ke Mama kalau gebetanku bukan anak tetangga sebelah, bukan teman sekantor, apalagi anak teman arisannya.
"Azad itu orang mana, Lan? Kerjanya apa?" tanya Mama suatu sore sambil sibuk memetik tangkai cabai di dapur.
Aku menelan ludah. Ini dia momen eksekusinya. "Dia orang Kurdi, Ma. Insinyur sipil. Dia tinggal di Erbil."
Mama berhenti memetik cabai. Beliau menoleh, kacamata bacanya turun sedikit sampai ke ujung hidung. "Kurdi? Itu di mana? Kayak nama kerupuk?"
"Itu suku, Ma. Tinggalnya di wilayah Kurdistan, masuknya ke Irak utara," jawabku pelan, berusaha terdengar sefaktual mungkin supaya nggak dikira sedang halusinasi.
Mendengar kata "Irak", mata Mama langsung membulat. Cabai di tangannya jatuh ke lantai. "Irak?! Alana, kamu jangan main-main! Di sana kan isinya perang terus. Kamu mau mati muda dikirim ke sana? Kamu ini kebanyakan nonton berita atau gimana?"
"Ma, dengerin dulu. Erbil itu aman. Azad itu orang baik-baik, dia sekolah tinggi, keluarganya juga terpandang di sana," aku mencoba membela diri, meski jujur saja, aku sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana.
"Pokoknya Mama nggak mau tahu. Putusin! Cari yang lokal saja. Itu lho, anaknya Tante Lastri yang kerja di bank, dia nanyain kamu terus," pungkas Mama dengan nada final yang nggak bisa diganggu gugat.
Aku menghela napas panjang, masuk ke kamar, dan membanting tubuh ke kasur. Ternyata benar kata orang, musuh terbesar hubungan beda negara itu bukan paspor atau tiket pesawat, tapi restu orang tua yang sudah kemakan stereotip berita televisi.
***
Malamnya, Azad menelepon. Aku sempat ragu untuk mengangkatnya. Aku nggak mau dia dengar suaraku yang sengau habis nangis (oke, aku sedikit lebay, tapi ini serius).
Begitu aku angkat, wajah Azad muncul dengan latar belakang ruang tamu rumahnya yang terlihat sangat megah dengan karpet-karpet tebal bermotif rumit.
"Alana, kamu kenapa? Matamu merah," dia langsung menyadarinya. Sial, pria ini terlalu peka.
"Habis debat sama Mama soal kamu," jawabku jujur.
Azad terdiam sejenak. Dia tidak tampak marah atau tersinggung. Dia justru tersenyum tipis, jenis senyum yang menenangkan. "Aku mengerti. Kalau aku jadi ibumu, aku juga akan khawatir. Dia mencintaimu, itu wajar."
"Tapi dia pikir kamu itu anggota militan yang bawa senjata ke mana-mana, Azad!"
Azad tertawa kecil. "Beritahu ibumu, senjata yang kupunya cuma penggaris siku dan laptop buat gambar denah bangunan. Tapi kalau dia masih ragu, bagaimana kalau aku bicara langsung dengannya?"
"Kamu gila? Kamu mau bicara pakai bahasa apa? Mama cuma tahu bahasa Indonesia sama sedikit bahasa Jawa. Kamu tahu 'monggo' saja sudah syukur!"
"Aku sedang belajar, Alana. I will try."
Dua minggu kemudian, Azad benar-benar membuktikan ucapannya. Dia mengirimkan sebuah paket ke kantorku. Isinya kain syal tenunan tangan khas Kurdi yang sangat cantik, cokelat-cokelat manis dari pasar lokal di Erbil, dan sepucuk surat pendek.
Berbekal "sogokan" itu, aku memberanikan diri mengajak Mama untuk video call dengan Azad.
"Cuma lima menit, Ma. Kalau Mama nggak suka, Alana nggak akan bahas dia lagi," janjiku.
Mama akhirnya luluh, meski wajahnya masih ditekuk seribu. Kami duduk di sofa ruang tamu. Aku menekan tombol panggil. Begitu tersambung, Azad tidak sendirian. Di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya dengan kerudung sederhana dan wajah yang sangat teduh.
"Itu ibuku," bisik Azad.
"Assalamu’alaikum, Ibu," kata Azad dengan pelafalan yang sedikit kaku tapi jelas. Dia menatap Mama lewat layar.
Mama kaget. "Wa'alaikumussalam..." jawab Mama otomatis.
Azad kemudian memulai pidato singkat yang sudah dia siapkan (dan pasti dia terjemahkan lewat Google Translate berkali-kali). "Ibu... nama saya Azad. Saya bukan orang jahat. Saya mencintai Alana. Saya ingin berteman dengan baik. Ini ibu saya, dia juga ingin kenal Ibu."
Ibu Azad kemudian bicara dalam bahasa Kurdi yang tentu saja Mama nggak paham, tapi nada suaranya sangat lembut. Dia menunjukkan sebuah piring berisi makanan yang mirip kue kering ke arah kamera, seolah-olah menawari Mama lewat layar.
Mama, yang dasarnya memang gampang luluh kalau soal urusan ibu-ibu, mulai berubah ekspresinya. "Itu ibunya masak sendiri? Kelihatannya enak," bisik Mama padaku.
"Iya, Ma. Dia bilang itu dibuat khusus buat menyapa Mama."
Selama tiga puluh menit, terjadilah komunikasi paling ajaib yang pernah kusaksikan. Aku jadi penerjemah dadakan antara bahasa Inggris, Indonesia, dan Kurdi yang campur aduk. Mama mulai bertanya soal cuaca di sana, soal makanan, sampai soal...
"Apakah di sana ada mal?"
Azad menjawab semuanya dengan sabar. Dia bahkan menunjukkan pemandangan dari jendela rumahnya yang memperlihatkan taman bunga mawar yang dirawat ayahnya. Tidak ada tank, tidak ada senjata, tidak ada ledakan. Cuma sebuah keluarga yang sedang minum teh sore hari.
Setelah panggilan berakhir, Mama diam cukup lama. Beliau mengelus syal pemberian Azad yang sedari tadi melingkar di bahunya.
"Dia sopan ya, Lan. Ganteng juga, kayak pemain bola," celetuk Mama tiba-tiba.
Aku hampir tersedak ludah sendiri.
"Jadi... Mama nggak marah lagi?"
"Ya tetap khawatir. Tapi Mama lihat ibunya baik. Orang kalau ibunya baik, biasanya anaknya juga nggak macam-macam. Tapi ya itu... jauh banget, Lan. Kalau kamu dipukul di sana, Mama nggak bisa langsung datang bawa sapu lidi."
Aku tertawa sambil memeluk Mama. "Azad nggak bakal gitu, Ma."
Namun, tantangan sebenarnya muncul sebulan kemudian. Azad mengirimkan foto sebuah tangkapan layar di w******p-ku.
Itu adalah foto tiket pesawat.
Erbil (EBL) to Jakarta (CGK).
Departure: Next Month.
Jantungku hampir berhenti berdetak.
"I'm coming to see you, Alana. I want to meet your parents properly. I want to show them that a Kurdish man keeps his word."
Aku gemetaran. Ini bukan lagi soal chat tengah malam atau video call yang bisa dimatikan kalau aku sedang malas dandan. Ini nyata. Azad akan datang ke Jakarta. Ke rumahku yang gangnya sempit. Ke tengah-tengah keluargaku yang kalau bicara volumenya mirip orang jualan di pasar.
Aku langsung meneleponnya. "Azad! Kamu gila ya? Tiket itu mahal banget! Dan visa? Kamu sudah urus?"
"Sudah semua. Aku sudah menabung untuk ini sejak pertama kali kita bicara soal masa depan. Alana, aku tidak mau hanya menjadi 'pria di dalam HP'. Aku ingin jadi nyata."
Aku terduduk di lantai kamar. Antara senang, takut, dan panik jadi satu. Aku membayangkan Azad, pria Kurdi yang terbiasa dengan pegunungan dan udara kering, akan mendarat di Jakarta yang lembap, panas, dan macetnya nggak masuk akal.
Apakah dia akan tahan dengan bau knalpot Metromini? Apakah dia akan suka sambal terasi buatan Mama yang pedasnya bisa bikin orang pingsan? Dan yang paling penting... apakah cintanya akan tetap sama saat dia melihat realitas hidupku yang sederhana?
Minggu-minggu menuju kedatangan Azad adalah minggu paling sibuk dalam hidupku. Mama mendadak jadi mandor bangunan, menyuruh Papa mengecat ulang pagar rumah yang sudah mengelupas.
"Malu dong sama calon menantu dari luar negeri!" omel Mama.
Papa cuma geleng-geleng kepala sambil memegang kuas. "Dulu Papa mau melamar Mama saja cuma modal berani, sekarang anak zaman sekarang saingannya sama orang Irak."
Aku sendiri sibuk menyusun itinerary. Aku harus membawa dia ke mana? Monas? Kota Tua? Atau langsung aku ajak makan sate padang di pinggir jalan? Aku ingin dia melihat Jakarta yang asli, tapi aku juga takut dia culture shock.
Di sela-sela kesibukan itu, Azad sering mengirim pesan suara. "Alana, I'm practicing eating with my hands. It's hard but I'm getting better!"
Aku tertawa mendengar usahanya. Dia begitu berusaha untuk masuk ke duniaku, sebagaimana aku yang mulai menghafal kata-kata dasar bahasa Kurdi seperti Spas (terima kasih) atau Choni? (apa kabar?).
Tapi di balik semua kegembiraan itu, ada satu ketakutan yang menyelinap. Bagaimana kalau perbedaan kami terlalu besar? Bagaimana kalau setelah bertemu, keajaiban yang kami rasakan lewat layar ponsel menguap begitu saja terkena polusi Jakarta?
Malam sebelum kedatangannya, aku nggak bisa tidur. Aku menatap foto profil w******p-nya. Besok, pria ini akan berdiri di depanku. Bukan sebagai piksel di layar, tapi sebagai manusia yang bernapas.
"Bismillah," bisikku pada kegelapan kamar. "Semoga pegunungan dan pelangi bisa bersatu."