Pagi itu, Jakarta seolah sengaja ingin menguji kesabaran Azad—atau mungkin kesabaranku. Langitnya abu-abu monyet, lembapnya minta ampun, dan kemacetan tol ke arah Bandara Soekarno-Hatta sudah mencapai level "ingin pindah planet".
"Aduh, Lan! Cepetan dikit kek itu mobilnya jalan! Nanti kalau si Azad itu telantar gimana? Kalau dia diculik taksi gelap gimana?" Mama sudah ribut di kursi belakang, tangannya sibuk mengipasi leher dengan kipas sate plastik.
Papa yang menyetir cuma bisa menghela napas pasrah. "Ma, dia itu orang dewasa, sudah sampai Jakarta juga sudah jago namanya. Lagipula, pesawatnya saja baru mendarat sepuluh menit lagi."
Aku sendiri? Jangan ditanya. Jantungku rasanya sudah pindah ke tenggorokan. Aku bolak-balik melihat cermin kecil di sun visor mobil, memastikan jilbabku nggak miring dan bedakku nggak luntur kena keringat dingin. Aku pakai baju terbaikku—tunik berwarna soft pink yang kata Mita bikin aku kelihatan lebih "berwibawa tapi tetap manis".
"Lan, kamu sudah bawa tulisan namanya?" tanya Papa.
Aku mengangkat selembar kertas karton yang sudah kutulisi dengan spidol permanen hitam: AZAD SHERKO. Di pojoknya, aku menggambar bendera Indonesia dan matahari kuning khas Kurdistan yang punya 21 sinar itu. Aku ingin dia merasa disambut.
Terminal 3 yang Mengintimidasi
Begitu sampai di kedatangan internasional Terminal 3, kakiku rasanya lemas. Ribuan orang berlalu-lalang. Ada bapak-bapak pakai batik, turis dengan tas keril raksasa, sampai rombongan umrah yang baru pulang. Di mana Azad?
Aku berdiri tepat di depan pintu keluar, di belakang pagar pembatas. Tanganku gemetaran memegang papan nama itu. Mama berdiri di sampingku, matanya memicing, memindai setiap pria yang punya hidung mancung.
"Itu bukan, Lan? Bukan, yang itu terlalu pendek. Nah, itu? Oh, bukan, itu orang India sepertinya," komentar Mama terus-menerus.
Tiba-tiba, HP-ku bergetar. Sebuah pesan w******p masuk.
"I just passed the immigration. I see many people. Where are you, Alana?"
Aku langsung mengetik dengan jempol yang licin karena keringat. "I'm in front of the exit gate. Holding a sign with your name. I'm wearing pink."
Lima menit kemudian, pintu kaca otomatis itu terbuka lagi. Dan di sana, di antara kerumunan orang, muncul seorang pria. Dia mengenakan kaos hitam polos dan celana cargo cokelat. Rambutnya yang hitam tebal sedikit berantakan, mungkin efek tidur di pesawat selama belasan jam. Dia membawa satu koper besar dan satu tas punggung.
Matanya yang cokelat gelap itu menyapu ruangan dengan cepat, sampai akhirnya... mata kami bertemu.
Waktu seolah melambat. Sumpah, ini rasanya kayak di film-film Korea yang sering ditonton Mita. Bedanya, latar belakangnya bukan pohon sakura, melainkan papan iklan bank dan aroma kopi bandara.
Azad tersenyum. Senyum yang sama yang kulihat setiap hari di layar ponsel, tapi kali ini jauh lebih nyata. Lebih hidup. Dia berjalan ke arahku dengan langkah lebar.
"Alana?" suaranya berat, asli, tidak terdistorsi sinyal internet yang naik-turun.
Aku cuma bisa mengangguk kaku, mendadak kehilangan kemampuan berbahasa. "H-hai, Azad. Welcome to Indonesia."
Azad berhenti tepat di depanku. Dia tidak memelukku—dia tahu batasannya—tapi dia meletakkan kopernya dan menatapku dengan binar mata yang begitu dalam.
"Kamu benar-benar nyata," bisiknya dalam bahasa Inggris.
Lalu, dia menoleh ke arah Mama dan Papa. Dengan gerakan yang sangat sopan, dia membungkukkan sedikit badannya. "Assalamu'alaikum, Ibu, Bapak."
Mama, yang tadinya cerewet bukan main, mendadak diam seribu bahasa. Beliau menatap Azad dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu tersenyum lebar banget. "Wa'alaikumussalam... Ganteng ya, aslinya lebih gagah," bisik Mama keras-keras ke telingaku. Aku cuma bisa memejamkan mata menahan malu.
Azad kemudian merogoh sesuatu dari tas punggungnya. Sebuah buket bunga mawar kecil yang kelihatannya dia beli di toko bandara tadi, ditambah sebuah kotak kecil berisi cokelat.
"Untuk Ibu," katanya sambil memberikan bunga itu pada Mama.
Mama langsung sumringah. "Aduh, thank you, thank you! Bapak, lihat nih, Azad pinter banget," kata Mama sambil menyikut Papa. Papa cuma bersalaman dengan Azad, menjabat tangannya kuat-kuat ala pria dewasa.
"Selamat datang, Azad. Mari ke mobil, Jakarta sedang panas-panasnya," ajak Papa.
***
Begitu masuk ke mobil, ujian pertama Azad dimulai: Kemacetan Jakarta yang legendaris.
Azad duduk di kursi tengah bersamaku, sementara Mama dan Papa di depan. Aku bisa mencium aroma parfumnya—campuran antara wangi kayu cendana dan sedikit bau sisa pesawat. Wangi yang sangat... maskulin.
"Bagaimana penerbanganmu?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.
"Lama sekali. Tapi setiap jamnya berharga karena aku tahu aku menuju ke arahmu," jawabnya sambil menatap ke luar jendela. Dia tampak terpukau melihat deretan pohon palem di sepanjang jalan tol dan gedung-gedung tinggi yang menjulang.
"Jakarta sangat... hijau dan sibuk," gumamnya. "Di Erbil, kami punya banyak debu. Di sini, kalian punya banyak awan dan air."
Tiba-tiba, sebuah motor menyalip mobil Papa dari kiri dengan jarak cuma beberapa sentimeter, disusul suara klakson yang memekakkan telinga. Azad tersentak, tangannya refleks memegang pegangan di atas pintu.
"Itu biasa, Azad. Di sini, motor punya nyawa sembilan," kataku sambil tertawa.
Dia ikut tertawa, suara tawa yang renyah. "Aku pikir mengemudi di Kurdistan sudah gila, tapi Jakarta sepertinya adalah level selanjutnya."
Di perjalanan, Mama nggak berhenti bertanya lewat aku sebagai penerjemah.
"Lan, tanya dia, di sana makan nasi nggak?"
"Tanya, dia suka pedas nggak? Mama sudah masak opor sama rendang di rumah."
Ketika kusampaikan, Azad mengangguk mantap. "Aku suka semua makanan. Aku ingin mencoba apa saja yang ibumu masak. Di rumah, ibuku bilang kalau aku tidak menghabiskan makanan tuan rumah, itu tidak sopan."
Mendengar itu, poin Azad di mata Mama langsung naik drastis.
Masalah sesungguhnya muncul saat mobil Papa masuk ke area perumahan kami. Rumahku terletak di sebuah komplek tua yang jalannya cukup sempit. Apalagi hari itu ada tetangga yang sedang hajatan, jadi tenda biru menutupi sebagian jalan.
Azad tampak bingung melihat orang-orang duduk-duduk di depan rumah pakai daster dan sarung, sambil kipas-kipas. Dia juga melihat gerobak bakso yang lewat dengan bunyi ting-ting-ting.
"Itu apa?" tanyanya menunjuk gerobak.
"Itu restoran berjalan," jawabku asal. Dia mengangguk dengan wajah serius, seolah-olah itu informasi teknis yang sangat penting.
Begitu sampai di depan rumah, beberapa tetangga sudah mulai "patroli". Tante Ida, tukang gosip nomor satu di RT kami, pura-pura menyapu halaman sambil matanya melirik tajam ke arah mobil kami.
Azad turun dari mobil, membantu Papa menurunkan koper. Postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang asing jelas jadi pusat perhatian.
"Walah, Lan! Itu beneran orang luar negeri?" teriak Tante Ida dari seberang jalan.
"Iya, Tante! Teman Alana," jawabku singkat sambil buru-buru menyuruh Azad masuk.
Di dalam rumah, aroma santan dan rempah-rempah langsung menyambut. Mama sudah menata meja makan dengan sangat niat. Ada taplak meja baru yang warnanya kuning ngejreng, lengkap dengan kerupuk kaleng putih yang wajib ada.
"Duduk, Azad, duduk. Sit, please," kata Mama dengan bahasa Inggris seadanya.
Azad duduk dengan kaku, dia melihat ke sekeliling rumah kami yang penuh dengan pajangan piring keramik dan foto keluarga. Dia tampak sangat menghargai setiap sudutnya.
"Rumahmu sangat hangat, Alana. Sangat terasa... rumah," katanya tulus.
Aku tersenyum, mulai merasa sedikit lega. Tapi kelegaan itu nggak bertahan lama saat Mama menyodorkan sepiring penuh rendang dan sambal ijo ke depan Azad.
"Ayo, Azad. Makan. Eat, eat. Ini pedasnya mantap!" tantang Mama.
Aku melihat Azad menelan ludah. Dia melihat sambal ijo yang berminyak itu dengan tatapan waspada, seolah-olah itu adalah ranjau darat yang siap meledak di mulutnya. Dia menatapku, meminta bantuan.
"Kamu nggak harus makan semuanya kalau nggak kuat pedas, Azad," bisikku.
Tapi Azad menggeleng. Dia mengambil sendok, menyendok nasi, rendang, dan sesendok besar sambal ijo. "Aku ingin menunjukkan kalau pria Kurdi tidak takut pada sambal Indonesia," katanya dengan nada heroik yang dibuat-buat.
Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, wajahnya langsung berubah. Dari putih bersih menjadi merah padam dalam tiga detik. Keringat sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya.
"Bagaimana, Azad? Enak?" tanya Mama antusias.
Azad mengunyah dengan susah payah, matanya mulai berkaca-kaca (entah karena terharu atau karena terbakar).
Dia mengacungkan jempolnya sambil terbatuk kecil. "Good... very... hot... but good!"
Aku tertawa sampai perutku sakit. Papa cuma menepuk-nepuk punggung Azad sambil menyodorkan segelas besar teh manis hangat.
Di tengah suasana ricuh dapur dan wajah Azad yang kepedasan, aku menyadari satu hal. Pria ini benar-benar ada di sini. Di rumahku. Di duniaku yang berisik dan penuh sambal ini. Dan melihat bagaimana dia berusaha keras untuk menyenangkan ibuku, aku tahu bahwa mungkin, cuma mungkin, pegunungan Kurdistan nggak sejauh yang kupikirkan.
Tapi tantangan sebenarnya baru dimulai besok. Karena besok, aku berencana membawanya naik KRL di jam pulang kerja. Kalau dia bisa selamat dari KRL Jakarta, berarti dia memang jodohku.