Hari kedua Azad di Jakarta dimulai dengan suara toa masjid yang bersahutan dan bunyi klakson penjual roti yang lewat di depan rumah. Aku mengintip dari balik gorden, melihat Azad sudah duduk di teras bersama Papa. Dia memakai sarung milik Papa—yang tentu saja kelihatan cingkrang karena kakinya yang jenjang—sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.
"Dia cepat beradaptasi ya," gumamku sambil tersenyum.
Hari ini, aku memutuskan untuk tidak mengajaknya naik taksi nyaman ber-AC. Aku ingin melakukan "tes nyali" yang sesungguhnya: Berkencan ala warga lokal. Destinasi kami? Monas dan Kota Tua. Transportasinya? KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line.
"Alana, apakah kita akan naik kereta yang orangnya sampai naik ke atap itu?" tanya Azad dengan nada agak khawatir saat kami berjalan menuju Stasiun Tebet.
Aku tertawa keras. "Itu mah berita sepuluh tahun lalu, Azad! Sekarang keretanya sudah bagus, pakai AC. Tapi ya... tetap saja 'padat merayap' kalau jam sibuk."
Begitu sampai di stasiun, Azad tampak terpukau melihat orang-orang yang menempelkan kartu di mesin gate. Aku memberinya kartu multitrip. Saat kereta jurusan Jakarta Kota datang, massa mulai merangsek masuk sebelum pintu benar-benar terbuka sempurna.
"Ikuti aku, pegangan yang kuat!" seruku sambil menarik lengan jaketnya.
Kami terjepit di antara kerumunan karyawan kantoran dan mahasiswa. Posisi Azad yang tinggi membuatnya jadi "menonjol" sendiri. Kepalanya hampir menyentuh langit-langit gerbong, dan hidung mancungnya jadi tontonan mbak-mbak di sebelah kami yang mulai berbisik-bisik, "Eh, itu orang luar ya? Ganteng banget, kayak pemain Turki."
Azad menunduk ke telingaku, napasnya terasa hangat. "Alana, di sini orang-orang tidak punya konsep 'ruang pribadi' ya?" bisiknya sambil berusaha menyeimbangkan badan saat kereta berguncang.
"Selamat datang di Jakarta, Azad. Di sini, kalau belum nempel sama ketiak orang asing, namanya belum naik kereta," jawabku bercanda.
Dia tertawa, lalu dengan protektif dia melingkarkan lengannya di tiang di belakangku, seolah-olah menciptakan "pagar" agar aku tidak terhimpit orang lain. Itu adalah momen sederhana, tapi jantungku rasanya mau melompat keluar dari d**a. Di tengah sesaknya gerbong yang bau minyak telon dan parfum murah, aku merasa seperti wanita paling aman di dunia.
Keluar dari Stasiun Juanda, matahari Jakarta langsung menyengat tanpa ampun. Suhu mencapai 33 derajat, tapi kelembapannya bikin baju langsung nempel di kulit.
"Itu puncaknya emas asli?" tanya Azad sambil menunjuk lidah api di puncak Monas.
"Iya, 35 kilogram emas. Mau coba panjat?"
"Jangan, nanti aku dideportasi sebelum sempat melamarmu," jawabnya santai.
Aku pura-pura tidak dengar bagian "melamarmu" itu, meski pipiku langsung merah padam. Kami berjalan menyusuri lapangan Monas yang luasnya minta ampun. Di sana, aku baru sadar kalau Azad benar-benar jadi pusat perhatian. Ada rombongan anak sekolah yang sedang darmawisata tiba-tiba mengerumuninya.
"Mister, photo, mister! Photo!" teriak mereka.
Azad, dengan sifat aslinya yang sangat sopan, meladeni mereka satu per satu. Dia tersenyum, melakukan pose "peace", bahkan diajak selfie sama guru pembimbingnya juga dia mau-mau saja.
"Kamu ramah banget sih," kataku saat kami akhirnya bisa menjauh dari kerumunan.
"Di Kurdistan, tamu adalah raja. Dan di sini, aku adalah tamu. Jadi aku harus menghormati mereka," katanya tulus.
"Tapi Alana, apakah matahari di Jakarta memang hanya berjarak lima sentimeter dari kepala kita?" dia menyeka keringat di dahinya dengan tisu.
Aku tertawa dan mengeluarkan payung lipat bermotif bunga-bunga dari tasku. "Sini, berteduh di bawah payung cantik ini."
Jadilah kami berjalan berdua di bawah satu payung kecil. Seorang pria Kurdi berbadan tegap dan seorang gadis Jakarta mungil, berlindung di bawah payung bunga-bunga. Pemandangan yang sangat absurd, tapi aku tidak peduli.
Kami duduk di bawah pohon rindang dekat parkiran IRTI, sambil masing-masing memegang segelas es cendol plastik. Azad menatap butiran hijau kenyal di gelasnya dengan penuh selidik.
"Ini... cacing hijau?" tanyanya ragu.
"Itu cendol, Azad! Terbuat dari tepung beras. Enak, manis, pakai santan dan gula aren."
Dia menyeruputnya pelan melalui sedotan. Matanya membelalak. "Oh! Ini luar biasa! Rasanya seperti... pelukan di tengah cuaca panas."
Kami terdiam sejenak, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang jarang ada. Di momen itu, suasana jadi lebih serius.
"Alana," panggilnya pelan. "Keluargaku di Erbil... mereka awalnya tidak setuju aku ke sini."
Aku menoleh. "Oh ya? Kenapa? Apa karena aku bukan orang Kurdi?"
Azad mengaduk cendolnya yang mulai mencair. "Bukan itu. Mereka hanya takut. Kakakku bilang, 'Kenapa harus mencari sejauh itu? Di sini banyak wanita cantik'. Tapi mereka tidak mengerti. Aku tidak mencari 'wanita', aku mencari seseorang yang bisa membuatku ingin bicara sampai pagi. Dan itu cuma kamu."
Dia menatapku dalam-dalam. "Di Erbil, hidup terkadang terasa sangat berat karena ketidakpastian politik. Orang-orang cenderung menikah muda karena mereka takut tidak punya waktu. Tapi aku ingin sesuatu yang lebih. Aku ingin seseorang yang melihat dunia dengan cara yang berbeda dariku."
Aku menelan ludah. "Tapi Azad, kalau kita lanjut... salah satu dari kita harus berkorban. Entah aku yang ke Erbil, atau kamu yang di sini. Kamu siap?"
Azad meletakkan gelas cendolnya yang sudah kosong. Dia mengambil tanganku, menjabatnya sebentar sebelum melepaskannya lagi. "Aku sudah menyiapkan segalanya, Alana. Aku insinyur, aku bisa bekerja di mana saja. Tapi hatiku... itu sudah ada di dompetmu sejak kita pertama kali chatting."
"Gombal banget!" seruku sambil memukul lengannya pelan, meski dalam hati aku merasa terbang ke awan.
***
Kencan kami berakhir di Kota Tua saat senja mulai turun. Gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang megah mulai diterangi lampu-lampu kekuningan. Ada pemain musik jalanan yang menyanyikan lagu romantis, dan bau kerak telor menyeruak di udara.
Kami duduk di pinggir Fatahillah Square, melihat orang-orang bermain sepeda ontel warna-warni.
"Alana, terima kasih untuk hari ini," kata Azad. "Ini bukan kencan yang mewah, tapi ini kencan terbaik yang pernah kubayangkan."
"Maaf ya, kalau harus macet-macetan dan kepanasan," balasku.
"Jangan minta maaf. Aku suka Jakarta. Rasanya seperti... kekacauan yang terorganisir. Dan aku suka bagaimana kamu menuntunku di tengah kekacauan itu."
Tiba-tiba, HP Azad berbunyi. Panggilan video dari ibunya. Dia langsung mengangkatnya dan mengarahkan kamera ke arahku dan ke arah alun-alun Kota Tua.
"Mama, lihat! Jakarta sangat cantik! Alana menjagaku dengan baik," katanya dalam bahasa Kurdi. Aku melihat ibunya di layar melambai-lambai sambil tersenyum lebar, tampak sangat lega melihat anaknya baik-baik saja.
Saat kami berjalan menuju halte busway untuk pulang, aku merasa seolah jarak ribuan kilometer antara Jakarta dan Erbil sudah menyusut menjadi hanya beberapa senti. Ternyata, perbedaan budaya, bahasa, dan latar belakang itu seperti bumbu di dalam rendang Mama—terasa tajam dan berbeda masing-masingnya, tapi kalau dimasak dengan sabar dan cinta, hasilnya jadi sesuatu yang sangat nikmat.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, aku teringat sesuatu. Besok adalah hari di mana Azad harus bertemu dengan seluruh keluarga besarku dalam acara pengajian bulanan di rumah. Ada Om-omku yang galak, Tante-tante yang mulutnya lebih tajam dari silet, dan sepupu-sepupuku yang jahil.
Kalau Azad sukses melewati "sidang paripurna" keluarga besarku besok, barulah aku bisa yakin kalau dia benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan dari pegunungan Kurdistan untukku.
"Azad," kataku sambil naik ke dalam bus TransJakarta yang penuh sesak.
"Ya?"
"Besok... siapkan mentalmu ya. Kamu akan bertemu 'pasukan' yang lebih menyeramkan dari imigrasi bandara."
Azad cuma tertawa sambil berpegangan pada handgrip bus. "Bawa mereka semua, Alana. Pria Kurdi tidak pernah mundur dari medan perang—apalagi kalau hadiahnya adalah kamu."
Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh, mengabaikan tatapan kepo dari penumpang lain. Malam itu, Jakarta terasa lebih manis dari es cendol manapun.