Tingkah Si Kembar ~~

1472 Words
“Lo mau bawa gue, ke mana?” Pertanyaan yang terus dilontarkan oleh Zeira sepanjang perjalanan, membuat Bagas cukup geram. Bagaimana tidak? Suara melengking, ketika gadis itu bertanya, berhasil mencuri perhatian orang-orang sekitar yang tengah berlalu-lalang di sekitaran gedung sekolah. Pemuda itu mempercepat langkah kakinya, sembari meremas pergelangan tangan Zeira, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah lapangan berumput yang sangat besar, yang letaknya berada tepat di belakang gedung sekolah. Setelah menghentikan langkahnya, pemuda itu menghempaskan dengan kasar tangan Zeira, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. “Apa-apaan sih, lo?” tanya Zeira dengan nada suara tinggi. “Gue perlu bicara tentang hubungan kita, Zeira!” jawab Bagas. “Gak ada yang harus kita bicarain lagi! Hubungan kita udah selesai sejak satu tahun lalu. Lo mau apa lagi, sih? Gue udah sering tekankan sama lo, iya, hubungan kita udah gak bisa diperbaiki, bagaimana pun caranya. Jadi … stop bertingkah kekanakkan seperti ini. Ngerti?” tanya Zeira. Gadis itu masih berusaha menekan emosinya, karena ia sangat tahu, bagaimana pun juga, melawan Bagas dengan kekerasan, sama halnya Zeira mencari mati. “Gue butuh kejelasan! Lo gantung gue selama satu tahun ini, tanpa memberi tahu, alasan lo mutusin gue!” sahut Bagas. Pemuda itu memegang kedua lengan Zeira sangat erat, membuat mantan kekasihnya itu meringis. Dengan sekuat tenaga, Zeira berusaha melepas diri dari cengkraman kuat Bagas, hingga gadis itu hampir terjatuh ke belakang, jika saja tubuh kekar Arash yang baru saja tiba di tempat tersebut, tidak menahannya. “Lo gak apa-apa?” tanya pemuda itu. Zeira segera menyeimbangkan kembali kedua kakinya, lalu berpindah dan berdiri di belakang tubuh Arash. “Gue gak apa-apa, tapi otak dia yang bermasalah!” jawab Zeira setengah berbisik. Pemuda berjaket hitam itu mulai melangkahkan kakinya, hendak mendekati Bagas. Tetapi sayang, lelaki dengan seringai jahat di wajahnya, memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut, tanpa melontarkan sepatah katapun, baik pada Zeira maupun Arash. Yang Bagas lakukan hanya satu, mengulas senyum sangat tipis, seperti sedang mengisyaratkan sesuatu pada Zeira. Gadis itu menghela napas lega, setelah sejak pertemuannya dengan Bagas saat di pelataran parkir tadi, ia berusaha menyembunyikan rasa takut dari mantan kekasihnya itu. Ia teringat kejadian satu tahun lalu, yang membuat dirinya harus benar-benar melepas pemuda b******k itu untuk selama-lamanya, tanpa memberitahukan pada siapapun, apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang sebenarnya Zeira lihat ketika itu. Kaki yang sejak tadi ia kuatkan agar tetap berpijak, seketika melemas, hingga tubuhnya meluruh dan jatuh terduduk di atas rerumputan. Kedua tangannya terkepal, seraya menundukkan kepala. Gadis itu kembali teringat pengkhianatan yang sudah dilakukan oleh Bagas, saat pemuda itu masih berstatus kekasihnya. Padahal … Zeira sangat mencintai Bagas. Sedangkan Arash, setengah berlutut di hadapan sahabatnya, lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat. “Lo hebat, Zei. Lo udah bertindak dengan benar. Gue bangga sama lo,” ucap Arash setengah berbisik. “Rash, gue bener-bener takut sama Bagas,” sahut Zeira, melirih. Arash mengusap punggung gadis dalam pelukannya itu dengan lembut, berusaha menenangkannya. Perlahan, Zeira melepaskan diri dari dekapan Arash, lalu memandang wajah sahabatnya dengan wajah merengut. “Gue mau berenang!” cetusnya, merengek. Dengan gemas, Arash mengacak puncak kepala Zeira, lalu menarik bibir mengerucut gadis di hadapannya. “Ayo, pulang! Kita berenang di kolam renang apartemen lo aja. Aresh pasti udah on the way.” Arash dan Zeira pun berdiri dari posisinya, lalu segera berjalan meninggalkan lapangan tersebut. Selama perjalanan menuju pelataran parkir, Arash nampak asyik menceritakan berbagai hal menyenangkan, untuk mengalihkan pikiran Zeira dari kejadian beberapa saat lalu. Pemuda itu bahkan memberikan ponsel yang sejak tadi ia pegang pada Zeira, lalu berjalan lebih dulu, dan berdiri di tengah-tengah lapang tersebut, sembari membalik tubuhnya, bergaya bagai model papan atas. “Zei, gue ganteng, kalau dilihat dari sudut mana?” Pemuda itu menaruh tasnya di atas rerumputan, lalu berdiri dengan tegak, sambil mencari sisi yang tepat, agar dirinya terlihat tampan. Zeira yang sangat mudah teralihkan pikirannya, kini sudah terlihat kembali riang. Gadis itu mengarahkan kamera ponsel milik Arash, lalu mengerutkan dahinya, menatap layar benda pipih tersebut, kemudian menatap pemuda di hadapannya berulang kali. “Coba foto! Menurut cewek-cewek yang suka sama gue, wajah dari sisi kiri gue keliatan lebih ganteng,” ujar Arash, sembari menoleh dan ke sisi kanannya. Zeira menyentuh bulatan merah pada ponsel ditangannya, hingga beberapa foto Arash pun terambil. “Dari sudut mana pun, bagi gue, lo gak ada ganteng-gantengnya, Rash!” celetuk gadis itu. “Karena lo, udah lihat gue dari jaman orok!” sahut Arash. *** (Orok artinya bayi). “Dih, tahu orok dari mana?” tanya Zeira. “Tante Rhea, lah, siapa lagi yang selalu ngomong pakai bahasa sunda selain nyokap lo,” jawab Arash. “Kalau orangnya emang ganteng, mau kenal dari orok pun, tetep aja ganteng,” balas Zeira. Mendengar pendapat yang terlontar dari mulut sahabatnya itu, membuat Arash seketika merengut, lalu berjalan menghampiri Zeira untuk mengambil kembali ponsel miliknya. “Ganteng gue tuh udah luber ke mana-mana. Mata lo emang gak bisa bedain, mana yang ganteng mana yang enggak! Mata lo cuma bisa dipake buat bedain, mana Aresh dan mana Arash!” gerutu pemuda itu. *** “Assalamualaikum, Bunda!!” Ucapan salam yang terdengar sangat nyaring dalam apartemen mewah itu, seketika mengalihkan perhatian seorang pemuda yang tengah duduk di atas kursi meja makan, menyantap sop buah buatan sang pemilik apartemen tersebut. “Wa’alaikumsalam. Kok baru pulang sih, Zei?” tanya wanita paruh baya yang tengah menaruh dua mangkuk sop buah baru di atas meja makan. Melihat kesegaran makanan yang baru saja disajikan oleh sang ibu, Zeira melempar tas yang di bawanya ke sembarang tempat, lalu segera duduk di atas kursi meja makan, bersebelahan dengan sahabat yang satunya, sedangkan Arash duduk di kursi lain, menghadap pada Zeira. “Jalanan macet, Bunda. Gak mungkin, kan, Zezei bawa motornya ngebut. Bisa-bisa, tuh motor langsung disita sama Ayah,” jawab Zeira berbohong. Pemuda tampan dengan nametag bertulis nama Arash yang sudah lebih dahulu menghabiskan mangkok pertama sop buah tersebut, kembali menoleh pada Rhea yang tengah berdiri di sampingnya, lalu tersenyum sangat lebar. “Tan, mangkok Aresh bocor!” rengeknya. “Alesan! Bilang aja minta nambah,” celetuk Arash, sembari memasukkan suapan pertama pada mulutnya. Aresh seketika mendelik tajam pada sang kakak, dengan wajah merengut. “Sirik aja, lu!” gerutunya. Zeira yang nampak tengah menikmati sop buah buatan sang ibu, hanya melirik sesaat pada kedua sahabatnya itu, sembari menggelengkan kepala. “Kalian tukeran nametag lagi?” tanyanya. Dengan santainya, pemuda kembar itu menganggukkan kepala secara bersamaan, dengan mata yang sama-sama fokus pada makanan di hadapan mereka. “Bunda, gak ketuker?” tanya Zeira lagi. Rhea yang tengah memotong buah lain, menoleh sembari memperhatikan kedua wajah sahabt putrinya secara bergantian. “Awalnya ketuker. Tapi … ketika lihat sikap pecicilannya, Bunda langsung tahu, kalau yang datang pertama kali ke rumah, Aresh, walaupun nametagnya Arash,” jawab Rhea dengan santai. “Gantengan mana, Tan?” tanya Arash. “Kalian gak bisa dibedain. Terlalu identik. Dua-duanya juga ganteng,” jawab Rhea. “Kalau kita berdua buka baju, Tante pasti bisa lihat perbedaan kami,” sahut Arash. “Karena yang membedakan kita, hanya tanda lahir,” lanjut Aresh menimpali, lalu melakukan fist bump. Merasa kesal, karena ibunya memuji kedua pemuda menyebalkan yang tengah mengulum senyum secara bersamaan, Zeira seketika bergidik, lalu menggelengkan kepala. “Dih! Arash sama Aresh gak ada ganteng-gantengnya. Mata Bunda mulai bermasalah, nih,” protes Zeira. Arash dan Aresh seketika menghentikan kegiatan makannya, lalu menatap Zeira secara bersamaan lagi. “Sialan!” ucap keduanya. Setelah ketiganya selesai menghabiskan isi dalam wadah di atas meja, Zeira menumpuk mangkuk miliknya dan kedua sahabatnya, lalu bangkit dan berjalan menuju dapur untuk menaruhnya ke dalam wastafel. “Bun, Zezei mau berenang dulu, iya, di belakang gedung apart,” pamit Zeira. Mendengar kata berenang, Aresh seketika menatap pada Arash, dengan tatapan penuh selidik. Sedangkan sang Kakak, hanya mengedikkan bahunya. Ya … baik Arash atau pun Aresh, sudah sangat tahu, jika Zeira berenang diluar jadwal pelatihan, tandanya … gadis itu sedang merasa tertekan oleh beban pikiran, atau merasa stress akibat sesuatu. Setiap kali Zeira seperti itu, yang bisa si kembar lakukan untuk sahabat perempuannya hanya satu, menemani Zeira, lalu menghentikan gadis itu, ketika ia terus berenang tanpa henti, walau merasa kelelahan. Aresh merogoh ponsel dalam saku seragamnya, lalu mengetik sederetan pesan pada sang kakak.   [Bocah Kalem]   Anda                     : Zezei kenapa? Bocah Kalem     : Soal Bagas! Anda                     : Si batang toge bikin ulah apa lagi? Bocah Kalem     : Nanti gue ceritain. Anda                     : Hah … alamat berjam-jam tuh cewek lu jadi ikan duyung di kolam. Bocah Kalem     : Gue harus siapin diri buat nyebur kolam. Anda                     : Gue harus siapin tandu kalau gitu. Bocah Kalem     : Tandu buat apaan, gila? Anda                     : Buat proses evakuasi, bwahahahahhaha ….   Aresh melirik pada pemuda yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan tajam, lalu bangkit dari posisinya dan berjalan hendak melewatinya.   “Sialan, lo!” bisik Arash, tepat saat pemuda itu melewati sang adik. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD