Setelah menikmati hidangan makan siang yang disiapkan para pelayan, Aldric dan Liora kembali ke ruang baca mendiang Ibu Aldric, ruang yang selalu terasa lebih sunyi, namun jujur. Liora, dengan kecintaannya pada buku, segera larut dalam bacaan di tangannya. Sementara itu, Aldric meminta Gavin membawakan dokumen-dokumen yang menunggu tanda tangannya Aldric dan Liora duduk saling berhadapan, dipisahkan meja kecil di depan mereka. Dua dunia berbeda dalam satu ruang, tanpa banyak bicara namun terasa sangat hidup dan hangat. Sesekali mata mereka bertemu, tatapan yang lembut dan senyum samar. Aldric akan selalu mengangkat jemarinya, mengirimkan ciuman jauh atau memajukan bibirnya dengan nakal yang dibalas Liora dengan kekeh pelan menghangatkan d**a. Namun kali ini, tatapan Aldric tertahan le

