Putri Elowen terkejut. Bibir manisnya terkatup setengah terbuka dan kelopak matanya mengerjap gugup beberapa kali. Namun semakin dingin sikap Aldric, semakin tumbuh dorongan di dalam hati Putri Elowen, keinginan untuk menaklukkan sang raja muda yang duduk angkuh di hadapannya dengan wibawa tak tergoyahkan. “Selama utusan Valerith masih berada di Ebrath,” lanjut Aldric dengan suara tenang sangat terkontrol, “kau dapat tinggal di istana sebagai tamu kehormatan. Tidak lebih!” Tatapan Aldric berpindah dari wajah Putri Elowen ke utusan Valerith yang duduk kaku di belakang sang putri. “Ku harap kau tidak salah paham,” Aldric melanjutkan tegas. “Keputusanku ini bukan penundaan, melainkan penolakan!” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, senyum Putri Elowen runtuh sepenuhnya. Aldric sama sekal

