Liora terdiam dalam pelukan Aldric, tubuhnya kaku sesaat, bukan karena ragu, melainkan menahan pusing yang datang seperti ombak kecil dalam kepalanya. Perlahan Liora membalas pelukan, telapak tangannya menyentuh punggung Aldric dengan gerakan ringan. Aldric, sebaliknya, memeluk Liora seakan ingin menenggelamkan gadisnya itu masuk kedalam tubuhnya. Cinta yang begitu besar sekaligus posesif menginginkan Liora mengusiknya setiap saat. Melihat Liora yang biasanya enerjik, nakal dan tak pernah takut pada siapapun, tetapi kini lemah karena diracuni, dunia Aldric rasanya bisa runtuh kapan saja. Bagi Aldric, Liora adalah satu-satunya tiang penopang langitnya. Apalagi setelah gadis itu juga menyimpan perasaan yang sama dengannya. “Aldric …” Liora berdehem kecil, menyandarkan dahi ke d**a priany

