11. Sang Peramu Obat

1023 Words

Liora menahan lengan kekar Aldric saat pria itu hendak naik ke atas pembaringannya. Pegangan Liora tidak kuat, tapi jelas untuk menyiratkan sebuah peringatan yang setengah hati. “Aldric,” gumam Liora lirih, “sudah larut.” Aldric berhenti sejenak. Ia menunduk, menghela napas panjang, lalu mengangkat wajah. Tatapan Aldric mengunci netra Liora, ia tidak marah, bukan pula tersinggung, melainkan merasa sedikit lelah yang obatnya adalah bersama Liora sedikit lebih lama. “Kenapa?” tanya Aldric pelan. “Kau tak suka aku menemanimu?” Jemari Aldric merapikan rambut pirang Liora, menyelipkannya ke balik daun telinga, seperti kebiasaan yang selalu ingin ia lakukan ketika bertemu dengan Liora. “Bukan begitu …” Liora mengalihkan pandang melirik ke arah jendela yang masih terbuka sedikit dan angin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD