Liora bangkit dari duduknya. Ia tak menunggu izin, tak pula menoleh pada siapa pun. Bergegas keluar dari tenda utama dengan langkah cepat, diikuti pelayan pribadinya, Maelis, meninggalkan semuanya yang ia tahu tak lagi sekadar arena pesta jamuan, melainkan medan perang yang baru saja memilih korbannya. Liora meraih busur dan tabung panah di dalam tendanya, lalu bersiul rendah. Tak lama kemudian, Morgan, kuda kesayangan Liora, berlari kecil mendekat, sudah sangat memahami panggilan majikannya tersebut. “Lady ...” Maelis memanggil, suaranya tertahan, baru saja berlari dari dalam tenda. Maelis gegas menyampirkan jubah ke pundak Liora, mengikatnya cepat sebelum majikannya itu meloncat ke punggung kuda tanpa pelana. Begitu Liora memacu Morgan, Maelis yang tak kalah mahir berkuda, ikut m

