Zach dan Zizi seketika menoleh bersamaan ke sumber suara. Nampak Zach terkejut dengan cara Luke menyebut Cruise.
"Luke!! Jaga bicaramu!" Nada Zach terdengar tegas. Ia sangat tidak suka mendiskreditkan seseorang.
Keluarganya tidak pernah mengajarinya seperti itu. Dia dan Zizi dibesarkan dalam keluarga yang penuh aturan dan norma-norma ketimuran. Berusaha sebaik mungkin menolong orang dan lebih memilih untuk dirugikan dibanding merugikan. Karena keluarga mereka percaya dengan yang namanya karma.
"Dia memang lumpuh, 'kan, Zach! Salah bicaraku dimana?" Luke mengangkat bahu dan duduk di depan Zach.
"Dia tidak lumpuh selamanya, Luke! Dia hanya kecelakaan dan akan segera pulih!" Zach berusaha menahan suaranya.
Ia tidak ingin terjadi perselisihan dengan Luke! Bagaimanapun, ia dan Luke adalah partner kerja. Ayahnya juga pasti tidak senang jika terjadi perpecahan di antara mereka.
"Hhh! Terserah! Mau pulih dan tidak, bukan urusanku! Yang jelas, kehadirannya sangat menghalangi acara pelayaran kita!" sahut Luke sambil mencomot udang goreng di atas meja.
Zach menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang menghalangi. Kita tetap akan berangkat nanti malam, Luke!" ucap Zach tanpa paham maksud sebenarnya dari ucapan temannya.
Nampak Luke memutar bola matanya mendengar jawaban Zach.
"Aku akan memberikan obat ini ke Cruise dulu." Zizi mematikan kompornya dan mulai menyaring campuran rempah-rempah itu untuk dituang ke dalam sebuah gelas.
"Bagaimana kondisi Cruise akhir-akhir ini, Meí?" tanya Zach.
"Sudah cukup membaik, kakinya sudah bisa digerakkan," jawab Zizi sambil tersenyum.
"Wah! Bagus. Sebentar lagi dia sudah bisa berjalan dan bisa melanjutkan hidupnya kembali," jawab Zach ikut senang.
Mendengar ucapan kakaknya, Zizi jadi merasa kacau dalam hati. Seharusnya ia juga merasakan hal yang sama seperti Zach. Berbahagia karena orang yang mereka tolong akhirnya sembuh dan bisa melanjutkan hidupnya.
Namun, entah kenapa, hatinya tidak bisa merasakan hal yang sama. Ia tidak bisa berpikir seperti Zach, Zizi tetap saja merasa sedih dan tidak ingin Cruise pergi. Ia jadi merasa seperti wanita yang egois.
"Apakah benar dia sudah bisa menggerakkan kakinya?" Luke jadi kepo.
Baginya ini juga adalah berita bagus, melihat Zizi terus menghabiskan waktu bersama Cruise, ia sangat tidak senang. Dan tanpa menunggu jawaban Zizi, Luke segera mendahului Zizi ke kamar Cruise.
Sementara itu ... Zach masih memperhatikan wajah adiknya yang menyiapkan ramuan untuk Cruise.
"Apa benar yang Luke katakan, bahwa kamu menyukai Cruise?" tanya Zach hati-hati.
Zizi menggigit bibir bawahnya.
"Tidak, Luke salah sangka," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Hmm ...." Zach menganggukkan kepalanya seolah percaya dengan ungkapan adiknya.
Zizi hampir tidak pernah dekat dengan pria manapun dan selama ini adiknya itu hanya fokus dengan pekerjaan mereka sebagai penangkap ikan. Namun, mendengar ungkapan Luke dan melihat cara Zizi memandang Cruise akhir-akhir ini, Zach jadi berpikir lain.
"Baiklah, aku percaya padamu, meí. Cruise ... bukan pria yang kuharapkan untuk menjadi adik iparku," ucap Zach sambil menepuk bahu adiknya dan berlalu pergi.
Zizi seketika menatap punggung kakaknya yang pergi keluar. Zach tidak suka dengan Cruise ?? Kenapa? Zizi memejamkan matanya sambil menarik nafas ... Jelas sekali bahwa semesta sungguh menentangnya!
'Ah! Apa yang kau pikirkan, Zizi? Hanya kau yang memiliki perasaan, sementara Cruise tidak! Semesta apa yang kau maksud?' Zizi menertawakan dirinya sendiri.
Ia lalu membawa gelas berisi obat itu menuju kamar Cruise.
"Aku tidak tau bagaimana tepatnya kondisi kakiku, Luke, tapi menurut keterangan Zizi, kakiku sudah banyak perkembangan, mungkin setelah kalian kembali dari berlayar, aku sudah bisa berjalan." Terdengar suara Cruise menjelaskan.
"Itu bagus, lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Luke.
Zizi menahan langkahnya, ia sudah tau jawaban Cruise, tapi ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Luke nantinya, jadi ... ia memutuskan untuk menunda masuk ke dalam kamar Cruise. Zizi berdiri di sisi pintu dan menunggu mereka berdua selesai bercakap-cakap.
"Aku akan segera ke Montreal untuk menemui kekasihku. Dia pasti sudah sangat mengkhawatirkanku," sahut Cruise.
"Hm! Kenapa tidak kau telpon saja dia?" usul Luke.
Cruise terdiam.
"Aku ... akan memberinya kejutan," jawab Cruise akhirnya.
"Wow! Itu keren! Dia pasti akan langsung menciummu, bukan?" Suara Luke terdengar semangat.
"Yah! Seharusnya begitu, Luke," jawab Cruise sambil tertawa.
"Apakah dia cantik?" tanya Luke lagi.
"Yah! Dia adalah wanita yang sangat cantik ... aku ... sangat memujanya!" Jawaban Cruise seperti sedang membayangkan sesuatu.
Tangan Zizi seketika gemetar mendengar Cruise memuji kekasihnya. Zizi belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, perasaan sukanya terhadap Cruise bisa dengan mudah membuatnya terluka, hanya dengan mendengar pria itu memuji wanita lain.
Zizi memutuskan pergi dan mengurungkan niatnya untuk mengantar obat. Ia pergi ke dalam kamarnya dan menangis di sana sambil memegangi dadanya.
Perasaannya sungguh sakit dan ... ia tidak menyukainya! Zizi terus menangis dan ia merasa begitu bodoh, menangisi sesuatu yang tidak ia pahami.
Setelah ia bisa menguasai diri, Zizi keluar kamar dan kembali berpapasan dengan Luke.
"Menangis, hm? Kenapa kau menangis?" Luke yang melihat mata Zizi sembab langsung menghadang langkah gadis itu.
"Aku tidak menangis! Jangan berbicara yang bukan-bukan, Luke," ujar Zizi sambil berusaha menerobos jalannya yang dihalangi oleh Luke.
Luke terkekeh dan ia mengangkat dagu Zizi lalu menatap manik hitamnya dengan jelas.
"Berikan obat itu padanya agar dia cepat sembuh ... karena dia harus segera menemui kekasihnya yang berada di Montreal ...." Luke seolah memberitahu Zizi tentang informasi yang perlu Zizi ketahui.
Perasaan Zizi yang tadinya sudah sedikit membaik kini jadi berantakan kembali. Namun, di depan Luke ia berusaha bertahan dan tegar!
"Kalau begitu jangan halangi langkahku." Suara Zizi terdengar bergetar.
Sambil mengebaskan tangan Luke dari wajahnya, ia pun mendorong tubuh Luke agar menyingkir dari hadapannya.
Luke mengusap hidungnya sambil tersenyum. Membayangkan Cruise pergi, ia merasa lega. Zizi tidak perlu lagi mengurusi pria lumpuh itu!
Zizi masuk ke kamar Cruise dengan wajah menunduk.
"Apakah kau membawakan obatku?" tanya Cruise sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Iya, Cruise ...." Zizi mencoba tersenyum.
"Apakah kau baru saja menangis?" Melihat mata sembab Zizi, Cruise dengan reflek bertanya.
"Eh, tidak! Ini ... tadi karena aku mengupas bawang," jawab Zizi cepat!
"Ohh!!" Cruise mengangguk.
"Minum dan beristirahatlah!" ujar Zizi sambil memberikan gelas berisi air rempah yang sudah direbus.
Bau obat sangat menyengat di hidung Cruise, ia jadi terlihat ragu untuk meminumnya. Ia menatap gadis itu cukup lama untuk meyakinkan dirinya bahwa obat ini aman untuk dikonsumsi.
Dengan perlahan, ia mulai menyesap cairan yang hangat itu. Wajah Cruise seketika berubah warna ketika cairan itu mulai masuk ke dalam tenggorokannya.
Ia baru tau kalo obat cina hasil racikan sendiri itu rasanya seperti ini!! Sungguh mematikan!!!
"Zizi ... apakah aku harus menghabiskannya?" Cruise menatap sisa minuman di gelas yang ia pegang dengan wajah pucat.
Zizi mengangguk.
"Jika kau ingin segera menemui kekasihmu, maka kau harus menghabiskannya." Zizi berkata sambil tersenyum.
Ia berusaha membunuh perasaannya sendiri. Dengan terus mengucapkan fakta, ia berharap rasa sukanya terhadap Cruise perlahan akan mati sendiri.
Cruise mengangguk lalu sekali lagi, ia menenggak minuman itu sampai habis.
"Terima kasih, Zi," ucap Cruise tulus.
"Tidak perlu sungkan, Cruise. Istirahatlah, aku pergi dulu." Zizi membereskan semuanya lalu keluar kamar.
Ia lalu memanggil orang-orang untuk makan siang.
Semua tim kapal Tuan Zheng Yu yang berjumlah 8 orang itu berkumpul di ruang makan, sehingga suasana meja makan begitu berisik dengan suara para pria.
Tuan Zheng Yu mengamati putrinya yang makan dalam diam. Ketika semua sangat bersemangat, Zizi lebih nampak murung dibanding biasanya.
"Mei mei, ada apa denganmu?" tanya Tuan Zheng Yu.
"Eh?" Zizi nampak terkejut mendengar suara sang ayah menegurnya.
"Kau makan sambil melamun, apa yang kau pikirkan?" tanya Tuan Zheng Yu lagi.
Nampak Luke ikut menatap Zizi. Ia mengunyah makanannya sambil tersenyum sinis. Di sini, ia lah yang paling tau apa yang sedang menimpa gadis itu.
"Eh, tidak ada apa-apa, Pa. Aku hanya berpikir akan membeli rempah-rempah besok di Halifax," jawab Zizi.
"Rempah obat kita? Apakah sudah habis?" tanya Tuan Zheng Yu sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, aku baru memeriksanya tadi ... sore ini obat untuk Cruise tidak ada," ucap Zizi.
"Oh ya, bagaimana keadaan Cruise?" tanya Tuan Zheng Yu.
"Kakinya sudah bisa digerakkan, Pa." Ekspresi Zizi terlihat senang ketika ia menceritakan kondisi Cruise.
"Benarkah? Ok, Papa akan melihatnya nanti. Lalu ... apakah tidak masalah jika kau pergi sendirian? Besok tidak ada satupun dari kami yang bisa menemanimu," ucap Tuan Zheng Yu.
"Bagaimana jika kita ke sana setelah makan siang, Zi?" tawar Luke.
"Kita akan sampai di sana sore hari, Luke. Dan pasti semua toko sudah tutup," jawab Zizi.
"Yah, itu benar, Luke. Zizi harus berangkat pagi-pagi dari sini, perjalanannya cukup jauh sekitar satu jam lebih," tambah Tuan Zheng Yu.
Luke nampak menyesal. Ingin rasanya dia tidak ikut berlayar demi menemani Zizi, tapi ... alasan apa yang tepat untuk diberikan ke Tuan Zheng Yu? Lagian, meninggalkan Zizi berdua dengan Cruise, ia juga tidak tenang! Sekalipun Cruise nampak tidak tertarik dengan Zizi, tapi ... membiarkan mereka berhari-hari berdua di rumah sendirian sangat mengkhawatirkan bagi Luke.
Selesai makan siang, Tuan Zheng Yu mendatangi Cruise di kamarnya.
"Bagaimana kondisimu, Cruise," tanya Tuan Zheng Yu sambil duduk di tepian ranjang.
"Menurut keterangan Zizi, keliatannya saya akan bisa kembali berjalan. Terimakasih karena sudah membantu saya sampai seperti ini, Tuan. Saya tidak akan melupakan kebaikan keluarga ini terhadap saya," ucap Cruise dengan ekspresi sungkan.
"Santai saja, Cruise! Tidak perlu sungkan, kami biasa melakukan hal seperti ini. Luke, Edy, Simon dan yang lainnya, semua sudah seperti keluarga bagi kami, termasuk kau juga," ucap Tuan Zheng Yu dan ia menyentuh kaki Cruise yang dibalut kain berisi ramuan.
Ia lalu memijitnya perlahan dan menatap Cruise untuk melihat reaksinya. Nampak Cruise meringis menahan sakit.
"Hmm! Ini bagus, sepulang dari berlayar nanti aku ingin melihat hasilnya. Semoga kau sudah bisa menggunakan tongkat ketika itu," ucap Tuan Zheng Yu sambil tersenyum.
Mendengar hal itu, wajah Cruise terlihat bersemangat. Jadi, kondisi kakinya ternyata benar-benar membaik? Ia bahkan bisa menggunakan tongkat? Itu sangat bagus, tidak lama lagi, ia akan menemui Jilliannya.
"Makan yang banyak dan cepatlah pulih, Cruise. Keluargamu pasti sangat merindukanmu," ucap Tuan Zheng Yu sambil tersenyum dan ia menepuk bahu Cruise sebelum bangkit berdiri.
"Terimakasih, Tuan." Ekspresi Cruise lagi-lagi terlihat sungkan.
"Istirahatlah, semoga cepat sembuh." Tuan Zheng Yu berkata lalu meninggalkan kamar Cruise.
Hari itu, Zizi sudah jarang lagi masuk ke kamar Cruise. Ia mulai membatasi dirinya, membuat Cruise sedikit kesulitan.
Ia hendak ke kamar mandi dan Zizi tidak juga datang ke kamarnya hingga berjam-jam. Tidak biasanya Zizi berlaku seperti ini dan Cruise jadi bingung sendiri. Untuk teriak-teriak jelas tidak mungkin! Ia bukan pria manja yang berteriak memanggil seorang wanita hanya sekedar untuk ke kamar mandi.
Cruise dengan susah payah berusaha duduk dan mulai menurunkan kakinya. Ia menarik nafas beberapa kali sebelum berusaha untuk berdiri dan ....
BRAKK!
Tubuh Cruise jatuh dan membuat beberapa orang di luar jadi kaget. Zizi bergegas ke kamar diikuti oleh Luke dan Zach.
"Astagaaa, Cruise!" Zizi berusaha mengangkat Cruise, tapi Luke dengan cepat menahannya.
"Biar aku dan Zach yang membantunya," tegas Luke.
Mereka berdua lalu mendudukkan Cruise di tepian ranjang.
"Apa yang kau lakukan, Cruise?" Wajah Luke nampak tidak senang. Ia merasa Cruise sedang mencari perhatian Zizi.
"Maaf, aku hanya ingin ke kamar mandi." Wajah Cruise jadi terlihat tidak enak.
"Oh, sini, biar aku bantu." Tanpa banyak bicara Zach melingkarkan lengan Cruise di bahunya.
"Sudah, sebaiknya kau keluar saja, Zi! Sudah ada kami yang mengurus Cruise." Luke dengan cepat mengusir Zizi.
Hatinya semakin cemas, jika besok semua orang tidak ada, lalu apa yang terjadi ketika Cruise ingin ke kamar mandi? Apakah Zizi harus memapahnya seperti ini??
Aarrggghhhhh!!!!
Tidak! Ia harus segera bicara dengan Tuan Zheng Yu!