Cruise mendadak jadi pendiam sejak ia menelpon Jillian, membuat Zizi jadi prihatin. Pria itu bahkan tidak mau makan sama sekali. Yang dilakukan hanya berbaring dan menatap jendela yang menghadap ke arah laut. Ia seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup.
Niat Cruise untuk bertemu dengan Jillian yang tadinya menggebu-gebu, perlahan sirna. Bahkan niatnya untuk sembuh juga semakin lama semakin pudar. Kedekatan Reyes dan Jillian entah kenapa membuatnya jadi bimbang. Apa yang sudah Reyes lakukan pada Jillian?
Membayangkan reputasi Reyes, Cruise jadi ngeri! Tidak! Ia sangat mengenal Jillian, Jillian takkan dengan mudah jatuh ke pelukan Reyes. Jillian bukan wanita yang mudah jatuh cinta ....
Tapi ....
Ingatan Cruise kembali membawanya ke beberapa hari yang lalu, ketika ia menelpon Jillian. Cara Jillian memanggil Reyes ... terasa begitu akrab, tanpa jarak dan tanpa sungkan. Bahkan Reyes memanggil Jillian dengan sebutan 'malaikat cantikku' dan ia juga membahas soal masa depannya bersama dengan Jillian??
Ya Tuhan! Keliatannya hubungan mereka sudah sangat dekat. Apakah Reyes sudah mendapatkan posisi di hati kekasihnya itu?
Membayangkan hal itu, hati Cruise jadi teriris.
Sebutir cristal bening tiba-tiba turun di sudut mata Cruise. Tidak! Kenapa ia malah menangis? Bukankah bagus jika Jillian mendapatkan kebahagiaannya? Atau ... apakah dia lebih bahagia jika Jillian menangis terus karena kehilangan dirinya?
'Oh! Pria macam apa kau, Cruise? Egois sekali jika kau berharap Jillian menantimu sampai kiamat datang!' Cruise berusaha menetralisir perasaannya.
Namun, seberapapun ia berusaha, hatinya tetap pedih. Ia masih sangat tidak rela kehilangan Jilliannya setelah apa yang mereka impikan hampir saja terwujud.
"Cruise ...." Suara Zizi memutus perasaan pedih Cruise.
Ia dengan cepat mengusap wajahnya dan sama sekali tidak menoleh ke arah Zizi.
Zizi bisa melihat bahwa wajah Cruise terlihat sangat sedih dan ... wajahnya bersemu merah seperti habis menangis.
Zizi menarik nafas. Ia lalu duduk di tepian ranjang.
"Aku akan membalurkan ramuan ini di kakimu ..." ujar Zizi lirih.
Cruise sama sekali tidak merespon. Ia sudah tidak berharap lagi dengan kesembuhannya. Bahkan jika ia boleh berharap, ia ingin mengakhiri saja hidupnya dengan tenggelam di tengah laut!! Untuk apa dia selamat jika tidak bisa bersama dengan Jillian? Tujuannya datang ke Kanada adalah untuk memulihkan hubungan dengan kekasihnya itu, tapi nyatanya, ia malah terdampar di sini!! Ia jadi tidak paham, kenapa Tuhan menyelamatkannya jika masa depannya bersama dengan Jillian sudah tidak ada?
"Apakah ... kau masih tidak ingin ... sedikit berbagi ... cerita denganku tentang apa yang sudah terjadi?" Zizi dengan ragu memberanikan diri bertanya.
Ia sangat prihatin melihat Cruise terlihat frustrasi selama berhari-hari setelah ia meminjamkan ponsel untuk menelpon keluarganya. Pria ini tidak berkata sepatah kata pun ketika itu, apakah ada masalah dengan keluarganya?
"Yah ... baiklah." Melihat Cruise tidak menjawab, Zizi mengerti. Urusan keluarga mungkin bersifat sangat pribadi jadi sebaiknya ia tidak ikut campur.
"Hmm ... kakimu sudah lumayan banyak kemajuan sejak beberapa hari terakhir ini ...." Zizi berkata ketika membuka balutan ramuannya di kaki Cruise.
Cruise yang dari tadi hanya diam mematung, seketika menoleh mendengar ucapan Zizi. Perkembangan kakinya adalah berita yang cukup menghiburnya untuk saat ini.
"Apa artinya itu?" tanya Cruise tiba-tiba.
Mendengar Cruise mulai meresponnya, nampak sedikit senyuman di wajah Zizi.
"Aku melihat ada sedikit perkembangan yang bagus. Apakah ini sakit?" Zizi sedikit mengangkat kaki Cruise dan ia bisa melihat Cruise meringis pelan.
"Yah, itu sakit!!" jawab Cruise.
"Coba kamu gerakkan, bagaimana rasanya," pinta Zizi.
Cruise dengan patuh mulai menggerakkan kakinya dan ia terlihat kesakitan, tapi setelahnya ia tersenyum puas. Kakinya sudah bisa ia gerakkan sendiri, jelas ini sebuah kemajuan dibanding yang lalu.
Bukan hanya Cruise yang senang, Zizi pun nampak senang dengan hasilnya.
"See? Kau sudah bisa merasakan sakit ketika kau mengangkat kakimu sendiri, itu artinya, beberapa syaraf sudah mulai merespon. Jika kau terus patuh seperti ini dan tidak kemana-mana, aku yakin, obat ini akan bekerja dengan maksimal dan kau akan bisa segera berjalan ... " sahut Zizi sambil membersihkan semua ramuan di kaki Cruise dan menggantinya dengan yang baru.
Wajah Cruise nampak lega mendengarnya.
"Lalu, bagaimana dengan patah tulangku?" tanya Cruise lagi.
"Nanti papa yang akan mengurusnya dan untuk itu kau benar-benar harus berani sakit!" jawab Zizi kalem.
Cruise terdiam. Tuan Zheng Yu? Apa yang akan dilakukan Tuan Zheng Yu dengan patah tulang di kakinya?
"Butuh waktu berapa lama hingga aku bisa berjalan?"
"Jika melihat respon obat ini di kakimu, mungkin hanya dalam hitungan minggu, tapi ini hanya perawatan luar saja. Jika kau ingin cepat, kau harus menambahnya dengan perawatan dari dalam, Cruise ...." saran Zizi sambil membalut kembali kaki Cruise yang sudah diberi ramuan baru.
"Perawatan dari dalam seperti apa?"
"Kau harus minum obat untuk mempercepat kerjanya," jawab Zizi.
"Obat apa?"
"Obat rempah-rempah. Aku akan membuatkan ramuan minum untukmu jika kau bersedia, tapi kau harus berjanji untuk menghabiskan, ya? Kau harus minum sehari dua kali agar hasilnya maksimal." Zizi berkata sambil menatap pria itu.
Ia bisa melihat manik abu-abu Cruise menunjukkan ekspresi semangat.
"Baik! Aku mau. Lakukan saja!" sahut Cruise tanpa berpikir.
Ia butuh cepat sembuh! Ia tidak ingin mengambil resiko terlalu lama. Jangan sampai Jillian disentuh oleh Reyes! Ia bersumpah akan membunuh pria itu jika sampai itu terjadi!
Zizi nampak tersenyum puas melihat respon Cruise.
"Baiklah, aku akan membuatkan ramuan untukmu ..." ucap Zizi lalu ia pun keluar dari kamar Cruise.
"Zizi ..."
"Ya, Cruise?"
"Apakah jika aku meminum obat itu hasilnya akan lebih cepat?"
"Seharusnya begitu, tapi semua tergantung respon tubuhmu. Kau juga harus banyak makan agar obatnya bekerja maksimal," jawab Zizi dengan sabarnya.
Cruise terdiam. Ia sudah beberapa hari ini tidak makan dan perutnya juga sama sekali tidak merasa lapar. Namun, mendengar kalimat Zizi, keliatannya ia harus memaksakan diri untuk makan demi kesembuhannya.
"Baik, aku pergi dulu ...." pamit Zizi.
"Zizi ...."
"Ya, Cruise? Ada lagi?"
"Aku ... mau makan," jawab Cruise akhirnya.
Zizi kali ini tersenyum dengan jelas.
"Baik, aku senang mendengarnya. Aku akan menyiapkan makanan untukmu," sahut Zizi dan sambil menunduk, ia pun keluar kamar.
Zizi menyiapkan makanan untuk Cruise sambil merebus obat di dapur ketika Luke masuk.
"Sibuk, hm?" Luke berdiri di belakang Zizi.
Zizi sama sekali tidak menjawab. Akhir-akhir ini ia mulai terganggu dengan tingkah Luke. Teman seangkatan kakaknya ini terlihat selalu ingin tau urusannya, membuatnya jadi gerah.
"Apakah kau tidak ingin membantu Zach mempersiapkan kapal untuk berlayar nanti malam? Aku rasa dapur bukan wilayahmu, Luke ..." jawab Zizi tanpa menatap Luke sama sekali.
Nampak Luke menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau ikut berlayar nanti malam?" tanya Luke sambil melipat kedua tangannya di dadàa.
"Siapa yang menjaga Cruise jika aku ikut?" Kali ini Zizi menatap Luke.
"Cruise lagi, huh?" Wajah Luke terlihat sinis.
"Dia adalah tamu di rumah ini, tidak mungkin kami membiarkannya sendirian, bukan?" Zizi kembali sibuk dengan urusannya.
"Kenapa tidak kau suru saja keluarganya datang dan membawanya pergi? Sungguh merepotkan!!" umpat Luke.
Zizi pura-pura tidak mendengar. Bagi Zizi, semua keberatan Luke sungguh tidak masuk akal! Ayahnya dan Zach saja tidak keberatan dengan kehadiran Cruise, bahkan Tuan Zheng Yu malah menugaskannya khusus untuk merawat Cruise. Cruise diperbolehkan pergi jika kondisinya sudah membaik. Bagi Tuan Zheng Yu sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menolong orang sampai tuntas.
Dan Cruise? Bukankah ia sudah menelpon keluarganya beberapa hari yang lalu, tapi keliatannya hal itu tidak berjalan dengan baik, wajah Cruise nampak sedih setelahnya dan jadi pendiam. Hh! Biarlah itu jadi urusan Cruise dengan keluarganya.
"Kau sudah cukup lama tidak ikut kami berlayar, aku jadi ... merasa kosong, Zi ...." bisik Luke di telinga Zizi.
Zizi seketika menggidikkan bahunya.
"Keluarlah, Luke! Kau mengganggu konsentrasiku," ucap Zizi sambil menggelengkan kepalanya.
"Hm? Aku jadi ingin tau, apakah jika aku yang mengalami cedera seperti itu, kau akan merawatku?" Kali ini Luke memutar bahu Zizi agar menghadapnya.
"Jika papa menyuruhku untuk merawatmu, jelas aku pun akan melakukannya," jawab Zizi dengan tegas.
Wajah Luke nampak tidak puas dengan jawaban Zizi.
"Baik, apakah kau akan tetap merawat pria itu jika ayahmu tidak menyuruhmu?"
"Faktanya, papa menyuruhku!" jawab Zizi dan ia kembali berbalik badan membelakangi Luke.
"Huh! Aku bisa melihat kau pun memang senang menjadi budaknya!" ejek Luke.
Zizi pura-pura tidak mendengar. Ia menyiapkan semua makanan untuk Cruise di atas nampan dan ketika Zizi hendak membawanya, Luke mengambil mangkuk sup itu dan hendak meminumnya.
"Luke!!" Wajah Zizi nampak kesal!
"Kau bahkan tidak pernah memasakkan sesuatu untukku yang spesial seperti ini, Zizi. Tetapi kepada pria lumpuh ...."
"Luke!!!!" Wajah Zizi nampak memerah menahan amarah kali ini.
"Papa akan memarahimu jika kau mengatai orang seperti itu!" Zizi memperingatkan.
"Kenapa? Aku benar, 'kan? Itu juga sebuah fakta bahwa dia memang lumpuh!! Katakan, Zizi! Apa yang kau harapkan dengan merawatnya? Apakah kau berharap dia akan membalas budi padamu? Atau ... jangan-jangan kau berharap dia jatuh cinta padamu?" ledek Luke sambil menyeringai sinis.
Zizi mengerjapkan matanya mendengar ucapan Luke.
"Bawa kemari sup itu!" Zizi sudah tidak mau meladeni ucapan pria berambut panjang itu lagi.
"Tidak! Aku ingin menyantapnya, kenapa? Apakah kau keberatan? Menurutku, aku lebih berhak dari pada si lumpuh itu!" ucap Luke lagi.
"Luke!!!!" Kali ini Zizi benar-benar marah. Ia menghadap ke arah Luke dengan ekspresi marah yang tertahan.
"Wow!! Wow!! Haha! Astaga! Lihat! Kau begitu membelanya! Ckck ....! Zizi-Zizi ...! Aku rasa kau pasti sudah jatuh cinta padanya, hm? Pria lumpuh itu ... tak mungkin membalas cintamu! Dia pasti sudah memiliki kekasih di luar sana, yang cantik, yang tinggi dan bisa memuaskannya di atas tempat tidur. Wanita Eropa yang memiliki banyak wawasan dalam berciñtàa, bukan wanita asia yang polos sepertimu ... hatimu akan terluka jika mengharapkan balasannya, Sayang!" Luke tertawa lalu mengembalikan mangkuk sup itu di atas nampan.
Wajah Zizi kembali memerah, tapi kali ini bukan karena marah, tapi karena pedih dan tersinggung. Ia pun menyadari bahwa hal yang dikatakan oleh Luke adalah benar adanya. Perasaan sukanya ke Cruise, takkan pernah mendapatkan balasan.
Selera Cruise pastilah wanita Eropa yang tinggi dan bermata biru dengan rambut pirang yang sedikit bergelombang. Wanita yang memiliki banyak keahlian jika berurusan dengan ranjang. Sementara dirinya, hanyalah wanita Asia yang bertubuh kecil dengan mata sedikit sipit yang bermanik hitam, tidak mengerti apapun soal hal-hal yang semacam itu, ia bahkan tidak tau caranya berciuman!! Zizi jadi merasa insecure sendiri. Bagaimana dia bisa memikat Cruise dengan wawasannya yang sempit itu??
Jelas Zizi merasa ia seperti pungguk yang merindukan bulan!
Hanya bisa memandang dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya!
Tanpa menjawab Luke, Zizi pun pergi sambil membawa nampan yang berisi makanan untuk Cruise. Butiran bening mengalir dari pipinya yang putih.
"Haha! Bersiaplah untuk patah hati, Zizi!" Luke tertawa dan Zizi berusaha untuk tidak memasukkannya ke dalam hati.
Ia masuk ke dalam kamar Cruise dan nampak Cruise masih menatap ke arah laut.
Zizi sedikit menunduk lalu meletakkan semuanya di atas meja. Ia mengusap kasar wajahnya sambil menarik nafas. Perasaan sedih ini tidak boleh terlihat oleh siapapun. Zizi melebarkan bibirnya seolah tersenyum. Dengan begini, perasaannya jadi lebih baik.
"Ini makanan untukmu, Cruise ...." ucap Zizi lirih sambil duduk di tepian ranjang.
Cruise menoleh dan ia membetulkan posisinya agar bisa duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
Zizi menuangkan sup itu ke dalam mangkuk lalu meniupnya perlahan. Wajahnya berusaha menunjukkan sebuah senyuman agar tidak terlihat sedih.
"Terimakasih," ucap Cruise tulus.
"Tidak masalah, segeralah sembuh dan ... kejarlah harapanmu ...." balas Zizi sambil tersenyum.
Entah kenapa ia harus mengucapkan kalimat itu, mungkin sekedar untuk melepaskan perasaannya yang terlalu berharap pada Cruise. Ia harus tau dan mulai sadar akan batasan-batasannya. Perasaan ini, tidak boleh berkembang lebih jauh.
"Harapan?" Cruise seperti bergumam mendengar ucapan Zizi yang ambigu.
"Makanlah ...." Zizi menyodorkan sendok berisi sup itu ke depan mulut Cruise dan Cruise menyantapnya.
"Apakah cocok dengan seleramu?" tanya Zizi hati-hati.
Cruise mengangguk tanpa sepatah kata pun yang keluar.
Zizi terus menyuapi sampai semuanya habis dan ia terlihat puas.
"Apakah kau akan ikut berlayar nanti malam?" tanya Cruise tiba-tiba.
"Tidak, papa tidak akan mengijinkan." Zizi menggelengkan kepalanya.
"Tinggalkan saja aku, aku bisa menjaga diriku sendiri," sahut Cruise.
"Tidak, untuk kali ini mungkin aku tidak bisa ikut. Namun, di pelayaran berikutnya, aku pasti ikut. Kakimu pasti sudah lebih baik saat itu," sahut Zizi sambil tersenyum.
Cruise terdiam. Dia mulai menganalisa dalam hati, pelayaran biasanya memakan waktu seminggu hingga sepuluh hari untuk berada di laut, sementara mereka berada di darat sekitar tiga hari hingga seminggu. Itu artinya, sekitar dua sampai tiga minggu lagi, ia pasti bisa berjalan!! Ya, Tuhan! Ini sungguh berita bagus!! Ia akan segera mendatangi Jillian di cafenya nanti! Ia akan memberi kejutan ke kekasihnya itu dan memeluknya erat!
Zizi bisa melihat senyum tipis yang terukir di wajah Cruise. Pria ini pasti sedang membayangkan sesuatu yang membahagiakan. Ya, mungkin kesembuhannya adalah satu-satunya berita yang membahagiakan dirinya.
"Apa rencanamu berikutnya setelah kakimu sembuh?" tanya Zizi sambil membereskan semuanya.
"Tentu saja aku akan menemui kekasihku yang ada di Montreal!" Cruise menjawab dengan semangat.
Crack!!!
Terdengar sesuatu yang pecah di dalam hati Zizi!
"Oh, begitu ya?" Dengan wajah menunduk dan tetap berusaha untuk tersenyum, Zizi segera membereskan semuanya dan keluar tanpa berpamitan.
Yang dikatakan oleh Luke benar! Cruise bukan pria yang bisa ia sukai!
Zizi meletakkan semuanya di meja dapur lalu ia pun mengusap wajahnya yang sedikit basah secara perlahan.
Sedih? Ya ia memang merasa sedih. Untuk apa? Ia juga tidak tau. Seharusnya ia mengerti bahwa Cruise hanyalah musafir yang numpang lewat bukan? Salah sendiri ia menyukai pria itu! Zizi berusaha mengutuki dirinya sendiri.
"Mei?" Zach mengagetkan Zizi.
Dengan cepat Zizi merubah air mukanya.
"Kamu kenapa?" tanya Zach melihat wajah adiknya berwarna kemerahan seperti habis menangis.
"Ehm, Méi wèntí, Gê," jawab Zizi sambil berusaha tersenyum.
(Ehm, tidak papa, Ko)
"Kau yakin? Tidak! Kau tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya! Katakan, ada apa? Jangan berbohong padaku," ucap Zach sambil duduk di sisi adiknya.
Zizi hanya menggelengkan kepalanya ... ini sangat memalukan untuk dikatakan! Ia jadi merasa seperti wanita yang kecentilan!
"Aku akan memeriksa rebusan obatku dulu!" Zizi berdiri dan melihat ke dalam kuali yang sedang di atas kompor.
"Dia menyukai si lumpuh itu, jika kau ingin tau kebenarannya, Zach!"