Kebenaran

2046 Words
Saat pagi menyapa, orang-orang mulai terbangun dari tidurnya, termasuk Renata. Dalam keadaan matanya yang masih tertutup, wajah Rafa dan Rafi melintas begitu saja di pikirannya. Wajah mereka dirasa tidak asing karena memiliki kemiripan dengan Radela. Renata mulai mengingat kejadian enam tahun yang lalu, di saat ayah tirinya memaksa Renata untuk mengandung benih seorang pria yang entah siapa orangnya. Sudah banyak alasan dan permohonan atas penolakannya, tapi ayah tirinya tetap memaksakan kehendak. Sementara sang ibu, tak bisa membelanya akibat sakit-sakitan, dan uang hasil penyewaan rahim rencananya akan digunakan untuk berobat. Tanpa tahu siapa pria yang telah menyewa rahimnya, Renata menjalani serangkaian pemeriksaan dalam keadaan dirinya yang tak pernah tersentuh. Terpaksa karena tak memiliki pilihan, ia hanya pasrah menerima paksaan dari ayah tirinya untuk mengandung bayi tabung. Karena khawatir bakal janin tidak berkembang, dokter mentransfer bakal janin ke dalam rahim Renata sebanyak dua kali atas permintaan calon ayah. Ternyata dua bakal janin itu tumbuh dengan sehat, bahkan salah satunya membelah menjadi dua embrio hingga ada tiga janin yang dikandung Renata. “Wow, ayah dari ketiga janin kamu pasti senang sama hasilnya.” Anjar, ajudan pria yang telah menyewa rahim Renata tersenyum bangga. “Apa Pak Anjar tau resiko hamil bayi tabung? Terlebih, bayinya bukan cuma satu, tapi tiga.” Renata seperti bicara sendiri, menatap ke arah lain dan bukan kepada lawan bicaranya. “Semua orang tau, ada yang harus dipertaruhkan buat dapatin uang, termasuk nyawa,” balas Anjar seenaknya. “Bukan itu.” Renata menggelengkan kepalanya. “Kenapa?” Anjar tak suka basa-basi. “Saya mau rawat satu dari tiga bayi ini,” ujar Renata tanpa berpikir panjang. “Apa alasannya? Kamu belum nikah, jadi gak masuk akal kalo kamu mau rawat bayi. Memang anak kamu sendiri, tapi ... kamu punya rencana?” Anjar malah menatap penuh waspada. “Rencana?” Renata mengerutkan keningnya tak mengerti. “Kamu mau peralat anak itu buat kepentingan kamu sendiri, 'kan?” tuduh Anjar tanpa sungkan. “Saya bukan orang yang kayak gitu.” Renata membantah tegas. “Hm ... Saya kabari nanti.” Anjar menyahutinya acuh tak acuh. Sejak Renata dinyatakan berhasil mengandung bayi tabung, ia ditempatkan di sebuah rumah mewah di kota kelahirannya, Banten. Ada dua petugas keamanan dan satu asisten rumah, tapi tidak ada satu pun keluarga Renata yang diperbolehkan untuk ikut tinggal. Kebutuhan Renata selalu tercukupi dengan sangat baik, dan ia merasa nyaman berada di rumah itu. Saat usia kandungan Renata menginjak tujuh bulan, Anjar baru menemuinya lagi dengan membawa surat perjanjian. Anjar menyetujui keinginan Renata untuk merawat satu bayinya. Syaratnya, Renata hanya akan menerima setengah uang dari yang dijanjikan, yaitu satu milyar dari dua milyar yang seharusnya. Selain itu, Renata juga dilarang keras untuk mencari tahu siapa pria yang telah menyewa rahimnya, apalagi datang pada pria itu sebagai ibu dari anak-anaknya, dan masih banyak lagi perjanjian yang harus Renata sepakati. Lantas, apa yang membuat Renata menginginkan satu bayinya? Mengetahui ada tiga janin di dalam rahimnya, hati keibuannya pun mulai muncul, dan terus membesar dari waktu ke waktu. Meski anaknya terlahir tanpa ayah, ia sudah terlanjur menyayangi ketiga anaknya semasa dalam kandungan. Walau bagaimanapun, ia adalah seorang ibu. Mulanya Renata menginginkan satu bayi laki-lakinya, tapi Anjar melarang tegas. Alasannya sudah jelas, ia tak ingin permainannya terbongkar. Bukan tidak mungkin kedua bocah itu bertemu saat dewasa. Apa yang akan terjadi? Tentu saja masa depan Anjar. Majikannya sudah dipastikan akan sangat murka, bahkan mungkin akan melenyapkannya. Tidak ada niat jahat mengapa Anjar 'memisahkan' anak dari ayahnya. Ia hanya serakah, menginginkan uang sebesar satu milyar. Menurutnya, dua milyar yang seharusnya menjadi milik Renata terlalu besar. Pun, majikannya hanya menginginkan satu bayi, tapi Renata bahkan mengandung tiga janin sekaligus. Nyatanya, Renata hanya menerima uang sebesar 500 juta, dan 500 juta lagi menjadi milik ayah tirinya. Ibunya meninggal saat Renata hamil lima bulan, dan Renata segera pindah ke Kota Surabaya setelah melahirkan. Statusnya menjadi janda karena sudah memiliki anak, padahal berhubungan suami istri saja tidak pernah. Uang sebesar itu cukup untuk membiayai kuliahnya sejak awal hingga wisuda. Bahkan, Renata merintis usaha marketingnya menggunakan uang tersebut hingga sempat mencapai kesuksesan di usia muda. Sayang, kesuksesannya itu hanya sementara. Sekarang, Renata menjadi orang sederhana seperti sedia kala. “Kak, jangan pulang terlalu sore, ya.” Arumi terlihat gelisah, memainkan sarapannya tanpa minat. “Kenapa?” Renata memelankan kunyahannya. “Aku takut Dela kayak kemarin. Aku parno, Kak. Kalo Dela kenapa-kenapa, aku—” “Arum, kamu harus bisa kendaliin kecemasan kamu itu. Kakak harus kerja dan alhamdulillah ada klien baru lagi. Kayaknya Kakak pulang malam. Hari ini jadwalnya padat banget, Rum.” Renata segera menyela, mengerti dengan ketakutan adiknya. “Aku harus ke mana kalo butuh bantuan, Kak? Harus minta tolong ke siapa?” Arumi mengeluh. “Sabar, ya, Rum. Do'ain Kakak dapat rezeki buat pengobatan Dela.” Renata mengusap punggung tangan Arumi sembari tersenyum pasrah. “Biaya operasinya banyak banget, Kak? Kalo bisa, aku juga mau kerja buat bantu Kakak,” ujar Arumi jujur. Ia tidak keberatan untuk ikut bekerja dan membantu mencari uang. “Ngaco kamu. Siapa yang jagain Dela kalo kamu ikut kerja?” Renata jelas membantah. “Kak, kenapa gak coba cari tau soal ayahnya Dela? Dia bayar Kakak mahal, artinya dia orang berada, Kak.” Arumi memberikan usul. “Dela tanggung jawab Kakak, Rum.” Renata menggelengkan kepalanya, tak setuju. Keputusannya untuk merawat Radela adalah keinginan hatinya. Ia pun sudah berjanji, tak akan pernah mencari tahu siapa ayah biologis Radela. Siapa pun dia, tidak penting bagi Renata. Selama orang itu tidak tahu kebenaran tentang Radela, ia bisa bernapas dengan lega. Karena jika kebenaran ini terungkap, ia takut orang itu akan membawa Radela darinya. Getaran yang berasal dari ponsel Renata berhasil membuyarkan lamunan si pemiliknya. Renata menatap layar ponselnya dengan perasaan bingung. Nomor asing, ia malas menjawab. Bukan apa-apa, biasanya hanya orang iseng saja. Tapi, ia pun penasaran yang akhirnya menjawab panggilan tersebut. “Renata, ada barang kamu yang ketinggalan di ruangan anak-anak. Kamu bisa ambil kalo mau, atau nanti aja kalo kamu les lagi di sini.” “Barang apa, Pak?” “Obat-obatan.” “Apa?” “Obatnya ada di saya. Jadi kalo kamu mau ambil, langsung ke ruangan saya.” Renata masuk ke dalam kamarnya, mengambil tasnya untuk ia periksa. Ternyata benar, obat yang kemarin dibelinya tidak ada di dalam tas, tertinggal di rumah Abizard. Padahal, obat Radela sudah habis dan Renata sengaja membelinya lagi kemarin. Untung saja Tedi menghubunginya sebelum ia pergi bekerja. “Kenapa, Kak?” Arumi ikut khawatir dengan kepanikan kakaknya. “Obat Dela, Rum.” Renata mengeluh. “Kakak mau ambil obat dulu, langsung balik lagi ke sini. Tunggu, ya.” Tanpa berganti pakaian, Renata hanya menambahkan jaket di tubuhnya, lalu pergi untuk mengambil obat Radela di rumah Abizard. Obat-obat itu sangat mahal, dan Renata tidak memiliki uang cukup untuk membelinya lagi. Terpaksa, ia harus mengambilnya, padahal hari ini tidak ada jadwal les Rafa dan Rafi. Sesampainya di rumah Abizard, Renata sempat diberikan beberapa pertanyaan oleh seorang petugas keamanan. Siapa pun yang datang ke sana, harus pasti niat kedatangannya untuk apa. Setelah menjawab bahwa ia ingin mengambil barangnya yang tertinggal, barulah mereka mengizinkannya untuk masuk. “Tunggu.” Suara seorang pria berhasil menghentikan langkah Renata. Ketika Renata berbalik, seketika itu juga wajahnya terlihat penuh tanda tanya. Degup jantungnya langsung bertalu-talu, pikirannya pun mendadak sangat kacau. “Pak Anjar?” Renata menatap tak percaya. “Kamu?” Anjar, pria berusia 40 tahun itu langsung mendekati. “Ngapain di sini?” “Pak—” “Mau nyari mati kamu, hah?” Anjar mencengkram tangan Renata kasar, membuat wanita itu meringis kesakitan. “Pak Anjar—” Renata ingin mengatakan sesuatu, tapi lagi-lagi tindakan Anjar membuatnya harus menahan ucapannya. Pria itu menyeretnya untuk masuk ke dalam ruangan, lalu membanting pintu sangat keras. Kilatan amarah tercetak jelas di wajahnya. Sementara Renata, hanya menatap nanar dan tak berdaya. Pikirannya dipenuhi sosok Rafa dan Rafi. Ternyata benar, mereka adalah putra kandungnya. Tak perlu bertanya sekalipun, keberadaan Anjar di sana telah menjawabnya. Pertanyaannya, siapa pria yang telah menyewa rahimnya? Siapa pria yang merupakan ayah dari ketiga anaknya? Rasyidan bukan orangnya, lantas siapa? Renata tak tahu bahwa sebenarnya Rasyidan memiliki saudara kembar, yaitu Rasyadan. “Berani banget kamu nyari tau tentang apa yang nggak seharusnya kamu tau!” bentak Anjar, mengira Renata datang dengan maksud lain. “Nggak gitu, Pak.” Renata menggeleng cepat, mengerti dengan kesalah pahaman Anjar. “Terus apa?!” Anjar menuntut penjelasan. “Saya gak tau apa-apa soal ....” Renata menghentikan ucapannya sejenak, lalu melanjutkannya, “Saya jadi guru les Rafa sama Rafi, tapi saya gak tau kalo ....” Lagi, ucapannya terhenti seolah berat mengatakannya. “Me—mereka anak saya?” tanyanya ingin memastikan. “Jaga lisan kamu, mereka bukan anak kamu. Sekarang pergi, dan jangan pernah kembali.” Anjar menjawab tegas, tapi sayangnya Renata yakin pria itu berbohong. “Saya datang sebagai guru les, Pak, bukan hal yang gak penting.” Renata memberitahu yang sebenarnya. “Saya pecat kamu. Apa itu cukup? Sekarang pergi.” Tangan Anjar mengadah ke pintu, isyaratnya agar Renata keluar. “Pak, saya lagi butuh kerjaan. Pak Anjar gak bisa pecat saya seenaknya!” Renata tak terima. Lagi pula, majikan yang sebenarnya adalah Abizard, bukan Anjar. “Kamu bisa cari kerjaan di tempat lain. Silakan pergi, dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi. Ingat perjanjian yang udah kamu sepakati, Renata. Atau, saya pastikan anak kamu yang perempuan jadi bagian dari keluarga ini dan kamu gak akan punya hak apa pun.” Anjar mengusir, memperingati, juga mengancam. “Jangan lupa, Pak Anjar udah ambil setengah uang dari perjanjian.” Renata balik menyinggung dengan beraninya. “Satu milyar? Saya bayar sekarang juga, asal kamu serahkan anak kamu yang perempuan.” Anjar balik menantang, yakin Renata tak akan menyerahkan putrinya meski dihadapkan uang satu milyar. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa sebuah ketukan lebih dulu, membuat Renata dan Anjar menoleh secara bersamaan. Baik Renata ataupun Anjar, sama-sama terdiam, khawatir Rasyadan mendengar percakapan sebelumnya. Namun, pria itu malah terlihat bingung dengan keberadaan Renata di dalam ruangan Anjar, orang kepercayaannya. “Permisi.” Renata berjalan melewati Rasyadan, ingin keluar dari ruangan tersebut. “Tunggu.” Rasyadan menahan langkah kaki Renata. “Ada apa ini?” tanyanya. “Nggak ada, Pak.” Renata menggelengkan kepalanya yang tertunduk. “Anjar?” Rasyadan melemparkan tatapan intimidasi. “Bukan masalah besar, Pak.” Anjar sama menyangkalnya. “Masalah apa sampai kamu masukin dia ke dalam?” Rasyadan ingin tahu, khawatir orang kepercayaannya melakukan pelecehan terhadap Renata hingga wanita itu gugup. “Apa dia berbuat jahat?” tanyanya pada Renata. “Nggak, Pak. Pak Anjar cuma salah paham.” Renata terus mengelak. “Salah paham?” Rasyadan tampak bingung. “Saya pikir dia maling sampai berani masuk ke rumah ini, tapi katanya dia guru les anak-anak.” Anjar berkilah sekenanya. “Memangnya ada jadwal les hari ini?” tanya Rasyadan karena seingatnya jadwal les tidak setiap hari. “Nggak ada, Pak. Saya datang cuma mau ambil obat yang ketinggalan. Permisi, saya mau ambil obatnya di ruangan Pak Tedi.” Renata kemudian pergi setelah mengangguk sopan. Rasyidan terlihat berbeda, pikir Renata. Pria yang kemarin masuk ke dalam ruangan anak-anak begitu ceria dan ramah, tapi Rasyidan kali ini terkesan kaku dan tegas. Ia merasa berhadapan dengan orang berbeda, tapi ia tak tahu bahwa kedua pria itu memang bukan orang yang sama. Usai mengambil obat di ruangan Tedi, Renata memaksakan kakinya yang terasa lemah untuk terus melangkah. Dunia terasa berhenti saat mengetahui kebenaran tentang Rafa dan Rafi yang ternyata memang putra kembarnya. Renata tak pernah berniat untuk mencari tahu tentang kedua putranya, merasa tak memiliki hak untuk sekadar bertemu. Apa ini? Takdir malah mempertemukannya dengan cara yang tidak diduga-duga. Entah harus merasa senang atau tidak, ia tak tahu. Ada rasa bangga yang sangat besar mengetahui kedua putranya tumbuh dengan sangat baik, berwajah tampan dan pintar. Tapi, besar juga ketakutannya terhadap ayah dari ketiga anaknya. Bagaimana jika pria itu tahu tentang Radela? “Ibu Nata?” Suara tegas Rafa menyapa indera pendengaran. “Ibu Nata kok bisa ada di sini?” Kali ini suara Rafi, bertanya bingung. Saat memutar tubuhnya, Renata mendapati kedua bocah yang juga sedang memandangnya. Renata terdiam, tak bisa bergerak sedikit pun. Ingin rasanya berlari, memeluk mereka yang sangat ia rindukan. Namun, hal itu tak mungkin dilakukannya. Alhasil, mereka bertiga hanya saling tatap dalam waktu cukup lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD