“Ibu nangis? Kenapa?” Rafi membuyarkan lamunan Renata.
“Itu obat apa, Bu?” Rafa lebih penasaran dengan kantong plastik berwarna putih semi transparan, memperlihatkan obat-obatan di dalamnya.
“Ibu sakit?” Rafi baru menyadari apa yang dibawa Renata.
“Ini ....” Ranata enggan menjawab.
“Rafa, Ra—” Suara Rasyidan terhenti saat melihat Renata. “Renata? Bukannya gak ada les hari ini?” tanyanya bingung.
“Saya cuma mau ambil barang yang ketinggalan, Pak. Saya permisi.” Renata mengangguk sopan, lalu berjalan melewati Rasyidan. Ada perasaan bingung, bukankah tadi pria itu sudah bertanya perihal kedatangannya?
“Ibu mau pulang lagi?” Rafi mengekori, bahkan tanpa sungkan menggenggam tangan Renata.
“Iya.” Renata tersenyum ringan mengetahui bocah itu ada di sampingnya.
“Ibu bawa mobil?” Rafi terus bertanya.
“Ibu naik angkutan,” jawab Renata jujur meski sebenarnya malu.
“Kalo gitu, Ibu ikut kita aja. Kita juga mau keluar,” ujar Rafi menawarkan.
“Gak perlu, Ibu naik angkut aja,” tolak Renata lembut.
“Di mana rumah kamu?” tanya Rasyidan, berjalan di belakang tubuh Renata bersama Rafa.
“Jalan Melati, Pak.” Renata sedikit menoleh ke belakangnya, menghormati yang bertanya.
“Serius?” Nada Rasyidan terdengar tak percaya.
“Kenapa?” Renata bingung.
“Dari Melati ke sini? Jauh banget.” Rasyidan sedikit kaget mengetahui jauhnya jarak dari rumah Renata ke rumah Abizard.
“Saya permisi.” Renata sengaja mengubah jalur langkahnya, menghindari mobil yang sudah berada di depan rumah.
“Ibu ikut aja,” ajak Rafi kembali.
“Renata, kamu ikut aja. Kebetulan kami mau ke bandara buat jemput keluarga dan jalannya lewat sana.” Rasyidan turut mengajaknya dengan suka rela.
“Gak perlu—”
“Ayok, Bu.” Rafi menuntun tangan Renata, membawanya ke arah mobil.
“Tapi—”
“Ikut aja.” Rasyidan lalu memasuki mobil, duduk di kursi pengemudi.
Meski sebenarnya malu juga canggung, tapi tak dapat dikesampingkan bahwa Renata juga ingin bersama kedua putranya walau beberapa saat. Ia pun duduk di kursi belakang bersama Rafa, Rafi, dan seorang wanita yang merupakan pengasuh mereka.
Dua mobil yang diisi pengawal pribadi Abizard juga langsung bersiap-siap, mengikuti ke mana pun tuannya pergi. Satu mobil berada di depan, dan satunya berada di belakang mobil yang dikemudikan Rasyidan. Memang, terkadang pria itu ingin menyetir sendiri tanpa seorang sopir.
Renata ternganga saat melihat adanya pria yang tengah duduk di depan, di samping Rasyidan. Mengapa pria itu sangat mirip Rasyidan? Kembar? Apa ia tidak salah lihat? Pantas saja sikap Rasyidan dirasa berubah, ternyata memang orang yang berbeda. Tunggu, apa dia yang telah menyewa rahimnya?
“Anak Ibu lagi sakit? Sakit apa?” Salimah, wanita yang sudah cukup tua itu memulai percakapan.
“Cuma demam,” jawab Renata tak jujur.
“Obatnya sebanyak itu?” Rasyidan menyahuti, tak percaya hanya demam saja tapi obatnya sangat banyak.
“Ini ... ada obat saya juga, Pak.” Renata kembali menjawab asal.
“Gak perlu kaku gitu. Kita bukan lagi di perkantoran, kamu juga bukan pekerja di rumah. Panggil nama aja, Renata.” Rasyidan merasa tak nyaman dengan panggilan 'Pak'.
“Ibu, lain kali, aku boleh main ke rumah Ibu?” tanya Rafi tanpa terlihat canggung sedikit pun.
“Kamu gak bakal nyaman di sana. Ibu cuma ngontrak, dan rumahnya sempit banget.” Renata yakin putranya itu tak akan suka berada di kontrakannya yang jauh dari kata bagus.
“Suami Ibu kerja apa? Kok gak anterin Ibu?” Rafi terus berceloteh.
“Ibu gak punya suami.” Lagi, Renata menjawab yang sebenarnya tak ingin ia jawab.
“Berarti, anak Ibu juga gak punya papa? Kayak aku yang gak punya mama?” tebak Rafi dengan santainya.
“Rafi, Rafi, Rafi ... kamu itu masih kecil, loh. Sotoy banget sama kehidupan orang.” Rasyidan memperingati, tahu bahwa pertanyaan itu sangat sensitif.
“Aku 'kan cuma nanya, Om.” Rafi tak merasa ada yang salah dengan pertanyaannya.
Melirik ke arah sampingnya tempat Rafa dan Rafi berada, Renata menampilkan senyum manis. Kedua putranya itu sangat tampan, persis ayah dan pamannya. Alisnya begitu simetris, ditambah bulu mata yang panjang dan lebat, sama seperti Radela. Tampaknya, tidak ada bagian yang mirip Renata. Wajar saja, tidak ada satu pun orang yang akan curiga bahwa Renatalah yang telah melahirkan mereka.
“Papa, kapan kita ke rumah Mama?” Rafa baru membuka suara, bertanya pada sang ayah.
“Kenapa kita gak mampir dulu, Pa? Rumah Mama di depan sana, 'kan?” timpal Rafi, baru sadar akan melewati pemakaman.
“Lain kali aja,” sahut Rasyadan singkat.
“Papa gak sayang Mama lagi.” Rafi mengeluh dengan wajah cemberutnya.
“Rafi?” Rasyadan melemparkan tatapan tak suka.
“Mungkin Mama juga rindu Papa.” Rafa membujuk secara tidak langsung.
“Kita ke sana besok.” Akhirnya, Rasyadan mengiyakan keinginan putra kembarnya.
Benar, Rasyadanlah yang telah menyewa rahim Renata. Hal itu karena sebuah obsesi, sakit hati, kecewa, dan yang lainnya. Pria yang kini berusia 34 tahun itu pernah menikah. Sayangnya, sang istri meninggal saat melahirkan. Rasyadan sangat terpukul atas kepergiannya, ia pun tidak berniat untuk memiliki istri kembali.
Selama hidupnya, Rasyadan hanya pernah memadu kasih sebanyak tiga kali, dan wanita yang ia nikahi adalah wanita terakhir yang ia cintai dengan sangat. Hubungan yang terjalin pun tidak sebentar, melainkan enam tahun masa pacaran. Bisa dibayangkan sebesar apa cinta Rasyadan kepada istrinya, tapi besar pula rasa kecewa karena ditinggalkannya.
Tidak mudah jatuh cinta, itu penyakit Rasyadan. Terlebih, ia selalu berpikir bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi sang istri di hatinya. Saat istrinya dinyatakan hamil, di saat itu juga ia selalu membayangkan akan memiliki anak. Obsesi itulah yang membuatnya melakukan hal gila, yaitu menyewa rahim wanita yang tidak ia kenal sama sekali, bahkan hingga detik ini.
Tangan Renata membulat membentuk tinju, menguatkan hatinya yang menjerit penuh pilu. Kedua putranya dibohongi? Ini tidak benar! Ialah ibunya, ia masih hidup bahkan sehat-sehat saja! Renata bahkan ingin mengatakan bahwa ayah dari putrinya adalah ayah yang sama dengan kedua putranya.
“Ibu Nata, nanti datang ya ke pesta ulang tahun aku. Minggu depan 'kan aku ulang tahun,” ucap Rafi dengan maksud mengundang, meminta Renata untuk datang.
Bulan ini memang ulang tahun Radela juga, lima hari mendatang, tanggal 24 Juli. Mengapa Renata baru ingat itu? Tapi, yang membuat dirinya penasaran adalah hari ulang tahun Rafa dan Rafi. Dibesarkan di keluarga terpandang, sepertinya Abizard akan merayakannya.
“Kalian ... ada pesta?” Renata ingin tahu.
“Nanti aku tiup lilin, terus bukain kado, deh.” Rafi manggut-manggut, tersenyum girang. “Papa, aku boleh undang Bu Nata sama anaknya buat datang ke pesta ulang tahun aku?” tanyanya pada sang ayah, meminta persetujuan.
“Tentu.” Rasyadan mengangguk singkat.
“Ibu harus datang, ya.” Rafi kembali tersenyum senang karena sang ayah mengizinkan.
“InsyaAllah.” Renata membalas senyum dengan sangat terpaksa.
Bibir bisa berbohong, tapi hati tidak. Lihatlah mereka, ketiga anaknya menjalani kehidupan yang berbeda. Rafa dan Rafi sangat terawat dengan baik, mendapat kasih sayang serta status sosial yang tinggi. Ya, seharusnya gadis kecilnya juga mendapat apa yang kakak-kakaknya dapat, bukannya menderita seperti sekarang ini.
Seharusnya takdir tidak mempertemukan Renata dan kedua putra kembarnya. Dengan begitu, ia tidak akan merasa bersalah pada putrinya yang tidak mendapatkan haknya sebagai darah daging Abizard. Sebelum bertemu mereka Renata merasa baik-baik saja, tapi mengapa kini ia merasa sakit hati atas Radela.
Ponsel Renata berdering, menampilkan nama Arumi yang terpampang di layarnya. Awalnya Renata enggan menjawab, sudah menduga apa yang akan disampaikan adiknya itu. Namun, apa boleh buat Arumi terus menelponnya hingga Renata menjadi pusat perhatian.
“Kakak, Dela kayak kemarin lagi, Kak.”
“Kakak lagi di jalan, kok. Obatnya jangan telat diminum.”
“Obatnya 'kan habis, Kak.”
“Sabar, ya.”
“Aku gak bisa sabar, Kak, aku takut Dela kenapa-kenapa.”
“Tunggu Kakak pulang, kita bawa ke rumah sakit.”
Renata buru-buru mengakhiri panggilan sebelum Arumi bersuara lagi. Tepatnya, ia sedang berusaha untuk tetap terlihat tenang. Nyatanya, perasaannya sudah sangat kacau bahkan sebelum Arumi menghubunginya.
“Sakitnya parah sampai harus dibawa ke rumah sakit?” tanya Rasyidan penasaran.
“Cuma ... demam tinggi.” Renata tak bisa jujur.
“Anak Ibu masih bayi?” Rafi menatap iba.
“Dia udah agak besar.” Renata kembali berbohong.
Mobil berhenti di depan gang menuju rumah kontrakan, dan Renata bergegas keluar dari mobil tersebut untuk pulang secepatnya. Sedangkan Abizard, melanjutkan perjalanannya menuju bandara.
Hari ini adalah kepulangan orang tua serta adik bungsu Abizard. Rafa dan Rafi tak henti merengek, ingin menjemput Kakek dan Neneknya di bandara. Terpaksa, Rasyadan dan Rasyidan tidak masuk kantor hanya untuk menuruti permintaan kedua Abizard kecil itu.
“Kak, lain kali jangan ada acara obat Dela ketinggalan. Dela gak boleh telat minum obat.” Arumi mengomel. Bukan kesal, melainkan khawatir yang berlebihan.
“Tante, jangan marahin Mama terus.” Radela membela sang ibu dengan nada lembutnya.
“Dela masih sesak, Sayang?” Renata mengusap d**a sang putri.
“Udah nggak, Ma. Dela udah bisa ngomong lagi, 'kan?” Radela tersenyum manis seolah ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Sesak yang dialami Radela bisa teratasi juga oleh obat yang diminumnya. Renata sempat ingin membawanya ke rumah sakit, tapi putrinya menolak berulang kali. Ia bahkan tak bosan meyakinkan sang ibu, bahwa dirinya baik-baik saja hingga membawanya ke rumah sakit itu hal yang tidak diperlukan.
“Sayang, bentar lagi 'kan kamu ulang tahun, kamu mau Mama beliin apa?” Renata menatap manik Radela dalam-dalam, sesekali mencium keningnya dengan sayang.
“Hm ....” Radela tampak sedang memikirkan jawabannya. “Dela mau denger lagu selamat ulang tahun, tapi Dela gak punya temen.”
Renata menghela napas, membuangnya kasar. Secara tidak langsung, Radela juga ingin ulang tahunnya dirayakan. Dengan itu, ia bisa mendengar teman-teman yang diundangnya menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Putri kecilnya sempat merasakan itu, tepatnya saat kondisi ekonominya mumpuni untuk mengadakan perayaan.
Namun, jangan harap Renata bisa merayakannya tahun ini. Pun, Radela belum memiliki teman baru di sana. Walau begitu, Renata akan tetap membeli kue dan merayakan ulang tahun Radela di rumah. Setidaknya, putrinya akan tetap meniup lilin, mendengar lagu selamat ulang tahun, juga mendapat hadiah darinya.
Anjar
Tinggalkan Jakarta secepat mungkin, atau saya pastikan Pak Rasya tau tentang anak perempuannya.
16:23
Renata
Kalo gitu, saya minta uang 100 juta, baru saya pergi.
16:33
Anjar
Sudah saya duga. Kamu licik, Renata. Kamu sengaja rawat anak itu buat kepentingan kamu sendiri. Gak apa-apa, saya kasih satu milyar tapi serahkan anak itu.
16:34
Renata
Saya gak jual anak saya. Uang itu buat pengobatannya, Pak.
16:34
Anjar
Alasan! Saya tau niat busuk kamu. Cepat pergi, atau kamu kehilangan segalanya.
16:35
Renata
Pak Anjar, saya datang sebagai guru les Rafa dan Rafi. Saya bersumpah, saya gak tau kalo mereka adalah anak-anak saya.
16:36
Anjar
Lalu?
16:36
Renata
Saya tetap kerja di sana sebagai guru les mereka.
16:38
Anjar
Jangan mimpi, Renata. Kamu pikir saya bakal diem aja?
16:38
Renata
Saya gak ada niat apa pun selain kerja, Pak. Saya butuh uang buat pengobatan anak saya.
16:39
Anjar
Kerja di tempat lain, jangan di rumah Abizard.
16:42
Renata
Kasih saya waktu, seenggaknya sampai saya ada cukup uang buat pengobatan anak saya. Saya janji, gak bakal bongkar rahasia ini.
16:44
Anjar
Apa jaminannya?
16:45
Renata
Jaminannya ya tentu anak perempuan saya!
16:45
Anjar
Kalo kamu berani bongkar rahasia ini, saya pastikan kamu hancur, Renata.
16:47
Entah dari mana Anjar mendapatkan nomor Renata, hingga pria itu bisa mengancam seenaknya melalui pesan teks. Untungnya Renata tidak selemah itu, tidak mudah diperintah apalagi ditindas.
Meninggalkan Jakarta? Renata bisa saja melakukannya, tapi setidaknya jika ia sudah mengantongi uang untuk pengobatan Radela. Mencari klien baru itu tidak mudah jika saja Renata pindah lagi.
Selain gaji menjadi guru les Rafa dan Rafi yang dua kali lipat dari umumnya, Renata juga tidak salah ingin menghabiskan waktu bersama kedua putranya meski sebagai guru les, bukan sebagai seorang ibu.
Mengungkapkan yang sebenarnya? Lalu, apa yang akan terjadi? Sudah pasti Rasyadan akan merebut Radela tanpa dapat dicegah. Sekalipun pria itu memberikan semua hartanya, Renata tak akan membiarkan pria itu mengambil putrinya.
Untuk itu, Renata tak berniat mengungkapkan kebenarannya. Ia harap, uang untuk pengobatan Radela cepat terkumpul dan ia bisa pergi dari Jakarta secepatnya sebelum rahasia tentang Radela terbongkar.