Duduk di kursi kebesarannya sebagai pemimpin perusahaan Abizard Group, Rasyadan menatap saksama layar pipih di hadapannya. Ada banyak potretnya bersama istri tercinta, Nirina. Mulai dari semasa pendekatan, sesudah menjadi kekasih, maupun setelah menikah.
Matanya tampak memerah. Ada rasa pilu yang tak terbendung, ada rasa tak percaya meski alam sudah membuktikan bahwa Nirina sudah tiada, ada pula rasa kecewa yang mendalam. Meninggalnya Nirina telah menghilangkan sebagian dunia Rasyadan, bahkan hingga detik ini.
Trauma, itu yang selalu menghantuinya. Istrinya meninggal saat melahirkan. Mulanya Nirina terjatuh, mengakibatkan ketubannya pecah. Lambatnya membawa sang istri ke rumah sakit, membuat nyawa wanita itu melayang bersama bayi yang dikandungnya.
Entah sebesar apa rasa bersalah Rasyadan, hingga ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia selalu merasa gagal menjadi seorang suami, merasa tak pantas untuk menjadi suami wanita mana pun lagi.
Dalam hatinya ia selalu menanamkan kebohongan, yaitu tentang Rafa dan Rafi yang terlahir dari rahim sang istri. Padahal, bayi yang dikandung Nirina berjenis kelamin perempuan dan tidak kembar.
“Pak, ada masalah internal di kantor cabang Surabaya. Database yang kita terima—”
“Atur meeting secepatnya.” Rasyadan menyela ucapan, tahu apa yang akan disampaikan sekretarisnya.
“Baik, Pak.” Sekretaris cantik itu mengangguk cepat, lalu meninggalkan ruangan dan segera melaksanakan tugasnya.
Baru saja Rasyadan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang, layarnya sudah menampilkan nomor rumah yang sedang melakukan panggilan. Rasyadan mengerjapkan matanya beberapa detik, tahu siapa yang sedang menghubunginya.
“Papa, aku udah pulang sekolah. Kapan kita ke rumah Mama?”
“Papa ada rapat penting.”
“Kapan kita ke rumah Mama?!” Rafi mengulangi pertanyaannya penuh penekanan.
“Lain kali, gak bisa hari ini.”
“Papa udah janji!”
“Ada les hari ini, 'kan? Kita ke rumah Mama besok aja.”
“Papa!”
Rafi mengakhiri sambungan telepon dengan kesal, bahkan ayahnya belum sempat bicara banyak. Rasyadan tentu ingat ucapannya kemarin, yaitu ingin mengunjungi makam Nirina, tapi masalah di kantornya tak bisa diabaikan hingga ia terpaksa membatalkannya.
***
Kembali bekerja di rumah Abizard sebagai guru les privat, kali ini Renata bertemu keluarga Abizard lainnya yang baru kemarin kembali ke Indonesia. Ternyata Rasyadan dan Rasyidan memiliki gen asli Turki dari ayahnya, William. Sedangkan ibunya yang bernama Elvina, asli dari Indonesia. Masih ada satu lagi, yaitu Ricky, anak bungsu Abizard.
Duduk di hadapan Rafa dan Rafi, lagi-lagi Renata tak fokus pada materi yang ia sampaikan. Ingatannya terus berputar-putar pada permintaan Radela, yaitu ingin dinyanyikan lagu selamat ulang tahun di hari ulang tahunnya. Sepertinya Renata harus melakukan sesuatu, demi putri tercintanya.
“Rafa, Rafi, Ibu boleh minta tolong sesuatu?” tanya Renata saat jam pelajaran sudah habis.
“Minta tolong apa, Bu?” Rafi langsung menyahuti.
“Hari ini anak Ibu ulang tahun, Ibu minta ... Kalian bisa nyanyikan lagu selamat ulang tahun buat dia? Kalian gak perlu ke mana-mana, cukup nyanyikan di sini. Ibu mau rekam kalian, dan kasih video kalian ke anak Ibu nanti.”
Rafa dan Rafi terlihat bingung, tak mengerti, malah terdengar aneh. Renata sadar ucapannya yang ambigu, ia pun bingung harus menjelaskannya seperti apa.
“Gini, Ibu masih baru di Jakarta. Anak Ibu belum punya teman, dan Ibu juga gak bikin pesta ulang tahun, jadi gak bakal ada yang ucapin selamat ulang tahun kalo bukan Ibu sendiri. Jadi, Ibu mau bilang kalo dia punya teman baru, yaitu kalian. Tapi kalian gak usah ketemu dia, cukup nyanyikan lagu selamat ulang tahun di sini, biar Ibu rekam, terus nanti kasih lihat ke anak Ibu.”
“Kenapa Ibu gak bawa anaknya ke sini? Biar bisa main sama aku.” Rafi malah membahas yang lain, tidak nyambung.
“Ibu datang buat ngajar kalian, bukan buat ngajak anak Ibu main. Lagi pula, anak Ibu lagi sakit.” Renata tetap menjawabnya dengan lemah lembut.
“Kalo gitu, kami aja yang ke rumah Ibu,” ujar Rafa dengan maksud akan bernyanyi langsung di hadapan Radela.
“Gak perlu. Dia cuma mau dinyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dari sini juga nggak apa-apa.” Renata langsung menolak tanpa berpikir panjang.
Renata harap, Radela tidak akan bertemu Rafa, Rafi, Rasyadan, Rasyidan, ataupun keluarga Abizard lainnya. Apa jadinya jika mereka melihat wajah Radela? Dari pandangan pertama saja, semua orang sudah dapat menebak bahwa gadis kecil itu adalah blasteran luar negeri, dan Renata tak ingin keluarga Abizard mengetahuinya.
“Ayok, aku mau nyanyi lagu selamat ulang tahun buat anak Ibu. Tapi, dia juga harus ucapin selamat ulang tahun pas aku ulang tahun nanti.” Rafi meminta kesepakatan, lebih tepatnya balasan.
“Kalian nyanyinya barengan, ya. Oh, iya, anak Ibu namanya Radela. Jadi, nanti kalian sebut juga namanya.” Renata memberikan intruksi sambil berjalan ke belakang, mempersiapkan posisi untuk mengambil rekaman.
“Nama anak Ibu Radela?” Rafi ingin memastikan agar tidak salah sebut.
“Iya. Ayok siap-siap, Ibu rekam sekarang.” Renata mengangguk dengan semangatnya, sudah mulai merekam.
Rafa dan Rafi menyanyikan lagu selamat ulang tahun, untuk adiknya yang tidak mereka ketahui. Seperti biasa, Rafa bernyanyi tanpa ekspresi, sedangkan Rafi tampak riang dan bersemangat. Sementara Renata, berusaha untuk tetap tenang, menahan tangannya yang bergetar, juga tangis yang entah sampai kapan dapat ia bendung.
“Selamat ulang tahun, Radela.” Rafa menambahkan setelah selesai bernyanyi.
“Semoga kamu cepat sembuh, ya. Kamu harus datang ke pesta ulang tahun aku. Harus sembuh!” Rafi juga menambahkan, bedanya kata-kata yang diucapkan cukup panjang.
“Terima kasih.” Renata tersenyum puas.
“Ibu jangan ke mana-mana dulu, ya. Tunggu di sini, jangan pulang dulu,” pinta Rafi, lalu berlari keluar dari ruangan.
Renata menatap kepergian Rafi dengan tatapan bingung, tapi Rafa yang juga masih ada di sana tetap santai-santai saja, merapikan barang-barangnya. Di lantai bawah, Rafi menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul. Sebuah kebetulan, ayah dan pamannya baru saja pulang dari kantor.
“Nenek, Kakek, Papa, Om Rasyi, Om Ricky, kalian juga harus nyanyiin lagu selamat ulang tahun buat Radela!” tuntut Rafi, memerintah seenaknya.
Tentu, semua keluarga malah menatapnya aneh. Apa maksud bocah itu?
“Radela?” Rasyidan mengangkat kedua alisnya dengan konyol.
“Anaknya Ibu Nata.” Rafi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku yang video, nyanyinya barengan, ya. Kasian Radela lagi sakit, gak punya teman. Hari ini Radela ulang tahun, tapi Ibu Nata gak beli kue,” celotehnya kemudian, mendekati sang paman dan memberikan gerak-gerik ingin mengambil ponselnya untuk merekam.
Renata baru selesai turun ke lantai dasar, dan ia dapat mendengar apa yang Rafi katakan. Walau jaraknya cukup jauh, rumah itu sangat luas hingga suara Rafi yang nyaring begitu menggema dan terdengar hingga ke ruangan lain. Renata tidak berjalan sendiri, melainkan bersama Rafa yang berjalan di belakangnya.
“Maaf,” kata Renata pelan, menatap malu ke arah keluarga Abizard. Entah harus menutupinya dengan cara apa, wajahnya memerah karena celotehan putranya. “Rafi, gak perlu seperti itu.”
“Tadi Ibu minta aku nyanyi lagu selamat ulang tahun buat anak Ibu. Kakek, Nenek, Papa, Om Rasyi, sama Om Ricky juga mau ikut nyanyiin. Biar Radela senang, terus cepat sembuh.” Rafi berujar dengan polosnya, membuat Renata ternganga.
“Anaknya lagi sakit?” Elvina, wanita yang sudah cukup tua itu bertanya penasaran.
“Iya, Bu.” Renata mengangguk pelan, tatapannya menyapu keluarga Abizard lainnya saat berkata, “Pelajarannya sudah selesai. Saya pamit pulang.”
“Ibu, tunggu, 'kan belum nyanyi lagu selamat ulang tahun.” Rafi menahan pergi.
“Gak perlu, Rafi. Dela udah cukup kamu dan Rafa yang nyanyiin.” Renata memaksakan senyumnya yang tersipu.
“Gak apa-apa, Ibu. Ibu duduk dulu, tunggu semuanya nyanyi lagu selamat ulang tahun.” Rafi malah menuntun Renata agar duduk dan menunggu selesainya keluarga Abizard bernyanyi.
“Gak perlu, Ra—”
“Ah, gini aja, deh. Gak usah nyanyi selamat ulang tahun, tapi ucapin selamat ulang tahun aja. Apa itu cukup?” Rasyidan mengambil jalan tengah.
Bukan apa-apa, menyanyikan lagu selamat ulang tahun dirasa tidak cocok untuknya ataupun keluarga lainnya yang sudah dewasa bahkan tua. Namun, ia pun ingin menghargai permintaan Rafi. Jadi, mengucapkan selamat ulang tahun yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik sepertinya sudah cukup.
Renata tetap tak enak. “Gak pe—”
“Gak apa-apa, kita mau ucapin selamat ulang tahun juga buat anak kamu.” Elvina bergegas berdiri, menggandeng suaminya untuk ikut serta.
“Aku yang rekam, ya.” Rasyidan sigap menyiapkan ponselnya untuk merekam.
Elvina, William, Ricky, dan Rasyadan, mengucapkan selamat ulang tahun satu per satu dengan kalimat yang berbeda. Rasyidan yang paling terakhir mengucapkan, ia pula yang merekamnya sendiri. Setelah itu, Rasyidan mengirimkan video tersebut ke ponsel Renata.
Tak cukup satu kali, Renata terus mengucapkan terima kasih atas kesediaan keluarga Abizard melakukan itu. Renata sangat terharu, bahkan rasa-rasanya ia ingin bersujud di hadapan mereka. Ia harap, putri kecilnya merasa memiliki keluarga besar yang menyayanginya.
Renata berbohong, mengatakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Radela. Nyatanya, ulang tahun gadis kecil itu adalah lusa, sama seperti kedua putranya. Hal itu agar keluarga Abizard tidak merasa adanya persamaan antara Rafa, Rafi, dan Radela.
Selain itu, Renata juga berniat untuk datang ke pesta ulang tahun Rafa dan Rafi seorang diri. Alasan apa lagi jika bukan karena ingin melihat kedua putranya menikmati pesta? Renata tak pernah menghadiri acara ulang tahun mereka, jadi ia ingin menyempatkan waktu untuk datang.
Sepulang dari rumah Abizard, Renata tidak langsung pulang. Ia pergi ke toko kue, membeli kue ulang tahun untuk Radela. Kemudian, membeli hadiah sederhana, yaitu boneka berukuran besar. Ya, Renata ingin Radela menganggap hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi lusa ia bisa pergi menghadiri pesta.
“Dela, kenapa mama kamu belum pulang? Padahal pulang dari rumah aku sudah dari tadi.”
Suara Rafi terdengar samar dari dalam rumah kontrakan, membuat langkah Renata memelan hingga terhenti. Kepalanya yang semula menunduk, terangkat seketika. Ada banyak pasang alas kaki di depan pintu, dan dua pasangnya sudah dapat dipastikan milik Rafa dan Rafi.
Sesuatu terasa menghantam hati Renata. Detak jantungnya memang tidak berdebar hebat, tapi dentumannya sangat kuat. Kakinya terasa lemas, disertai tangannya yang bergetar. Apa yang terjadi? Mengapa mereka ada di rumah kontrakannya? Radela, wajah Radela yang Renata khawatirkan.
“Itu mama kamu!” seru Rafi cukup keras.