Dugaan Kuat

2250 Words
Saat memasuki rumah, Renata melihat Elvina, Rafa, dan Rafi, sedang mengobrol bersama Arumi. Ekspresi nenek dari ketiga anaknya itu tampak ramah seperti tadi siang, tidak ada raut terkejut apalagi kecewa dan penuh tanda tanya. Syukurlah, sepertinya Elvina tidak menyadari adanya kemiripan dari wajah Radela dengan Rafa dan Rafi. Akhirnya Renata bisa sedikit bernapas lega, setidaknya tidak ada hal yang perlu ia khawatirkan untuk saat ini. Pantas saja Renata merasa tidak asing dengan mobil yang terparkir di depan gangnya, ternyata mobil Abizard. Sebenarnya mereka berangkat tak lama setelah Renata pulang. Hanya saja karena Renata tidak langsung pulang, jadi mereka sampai ke rumah kontrakan lebih dulu. “Ibu dari mana aja?” Rafi bertanya, tapi nadanya terdengar seperti menegur. “Ini ... Ibu beli kue ulang tahun Dela dulu.” Renata menenteng kantong plastik, memperlihatkan kue yang dibawanya. “Bukannya ulang tahun Dela itu lusa?” celetuk Arumi dengan wajah bingungnya. “Kamu pasti lupa lagi. Ulang tahun Dela 'kan hari ini.” Renata meyakinkan, tapi tidak bisa memberikan isyarat apa pun agar Arumi mengiyakan ucapannya dikarenakan Elvina sedang menatapnya. “Ibu Elvina, Rafa, Rafi, maaf saya baru pulang,” ucapnya lemah lembut, ikut duduk di atas lantai karena tidak ada sofa. “Oh, Ibu beli kue dulu? Katanya Ibu gak beli kue.” Rafi memprotes tak mengerti. “Bukan gak beli kue, tapi gak bikin pesta kayak kamu.” Renata mengoreksi, tahu Rafi salah paham dengan ucapannya tadi. “Rafa sama Rafi minta ketemu Radela, mungkin dirasa kurang aja kalo sekadar nyanyi tanpa ada orangnya, jadi saya antar ke sini.” Elvina menjelaskan kedatangannya. “Maaf, tempatnya seperti ini, Bu. Saya cuma ngontrak.” Renata merasa tak enak, merasa tak layak dikunjungi Nyonya Besar Abizard seperti Elvina. “Nggak apa-apa, Renata.” Elvina tampak tidak masalah sama sekali. “Sayang, selamat ulang tahun, ya.” Renata mengecup puncak kepala Radela yang tengah duduk di samping Elvina. “Rafa sama Rafi ini ... anaknya bos Mama,” ucapnya, memperkenalkan Rafa dan Rafi dengan ragu. “Jangan bilang gitu.” Elvina tak setuju. Tatapannya teralih ke arah Radela, tersenyum manis saat berkata, “Rafa sama Rafi teman baru kamu di sini.” “Ibu bilang anak Ibu udah besar?” Rafa menuntut penjelasan, menatap tajam seakan Renata telah melakukan kesalahan. “Ibu gak tau usia kamu. Ibu pikir Dela lebih tua dari kalian.” Renata hanya menjawab asal, tak tahu lagi situasi kedepannya akan seperti apa. “Padahal seumuran, sama-sama lima tahun.” Elvina bermaksud memberitahu, padahal sudah jelas Renata sangat tahu hal itu. “Oh, iya, saya gak sempat beli hadiah buat Radela. Jadi, hadiahnya nyusul, ya. Hadiah dari yang lainnya juga, nanti nyusul.” “Ayok, kita nyanyi lagi.” Rafi bertepuk tangan secara asal, kakinya berjalan di tempat dengan gerakan cepat, tak sabar ingin menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Radela. Renata tak ingin membuang waktu, segera menyiapkan segala sesuatunya untuk membuka acara. Kue yang dibelinya tidak besar, namun terlihat sangat cantik bertuliskan nama Radela Shakila, ditambah sebuah lilin yang terdapat angka '5'. Kue yang tidak besar itu cukup untuk dibagikan kepada semua orang, termasuk Rafa, Rafi, dan Elvina. Mereka tidak langsung pulang, melainkan berbincang dengan Renata. Sementara ketiga anak itu, asyik menonton rekaman yang tadi sore Renata dapatkan di rumah Abizard. “Ini Papa aku.” Rafi menunjuk ayahnya di dalam rekaman. “Papa?” Radela menatap bingung, tapi sedetik kemudian tatapannya beralih ke arah ponsel saat Rasyadan bicara. “Happy birthday, Radela. Saya harap, semua hal yang istimewa akan datang padamu.” “Kamu gak punya papa, 'kan?” tanya Rafi dengan entengnya. Tidak bermaksud mengejek, ia hanya tak tahu bahwa pertanyaannya sangat tidak pantas. “Rafi?” Elvina memaki melalui tatapannya. “Jangan sedih, kami juga gak punya mama,” kata Rafa, terdengar tegas seolah tak ingin Radela memikirkan pertanyaan Rafi. “Lihat, ini Kakek aku.” Rafi kembali menunjuk keluarganya. “Selamat ulang tahun, Radela. Semoga hari-harimu menyenangkan seperti senyumanmu yang manis.” Video selanjutnya adalah ucapan dari Elvina. “Hallo, Sayang. Semoga kamu selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangimu.” Terakhir, ada Ricky yang ikut mengucapkan. “Radela, selamat ulang tahun. Semoga kebahagiaan akan selalu bersamamu.” Ketiga anak itu terus memutar video berulang kali. Khususnya Rafi, tak henti mengatakan kalimat yang sama, ‘Ini papaku, ini kakekku, ini omku.’ Sementara Rafa hanya sesekali menimpali, dan Radela tidak keberatan dengan suara mereka. Sebaliknya, ia merasa terhibur karena keberadaan kedua kakaknya. “Renata, maaf, Rafi memang agak sembarangan ngomongnya.” Elvina merasa tak enak, berharap Renata mengerti sikap cucunya yang sangat aktif itu. “Kayaknya ayah Radela bule, ya?” tanyanya kemudian. “Nggak kok, Bu. Kebetulan waktu hamil dia, saya suka nonton drama luar negri.” Renata berbohong, sudah mempersiapkan jawabannya sejak tadi. “Pasti drama Turki, ya? Mirip Rafa sama Rafi soalnya. Suami saya asli Turki, makanya anak-anak saya juga kayak orang Turki, dan turun ke anak-anaknya lagi.” Elvina tidak kelihatan curiga, hanya yakin bahwa Radela memang keturunan barat. Renata terdiam, bingung harus menjawab apa selain bibirnya yang tak henti tersenyum. Apalagi saat melihat keakraban ketiga anaknya, hati ibu mana yang tak tersentuh? Andai kedua putranya tahu, bahwa Radela adalah adik kembarnya. Tapi, tidak, Renata tidak berniat untuk mengungkapkan kenyataannya. Pun, ia harap cukup Elvina dan kedua putranya saja yang bertemu Radela. Jika saja Rasyidan apalagi Rasyadan yang bertemu Radela, ia tak yakin rahasianya akan tetap tersembunyi. “Di mana ayahnya Radela? Dia gak pulang? Padahal hari ulang tahun anaknya.” Elvina lanjut bertanya. “Ayahnya ... dia kerja di luar pulau, Bu.” Renata lagi-lagi berbohong. “Ohhh.” Elvina manggut-manggut, paham mengapa ayah Radela tidak pulang. “Lain kali, bawa Radela juga kalo les anak-anak, biar mereka bisa belajar dan main bareng. Saya suka sama Radela. Kebetulan semua anak saya laki-laki, dan cucu saya juga laki-laki semua.” Elvina terus memberikan pertanyaan, dan Renata selalu menjawabnya dengan asal. Ternyata Elvina sangat ramah, berbeda dari wanita berada lainnya. Posisi Elvina adalah Nyonya Besar di atas Nyonya Besar, berkat marga Abizard yang sudah sangat terkenal. Tapi, sikapnya sangat rendah hati, jauh dari kata sombong. Usai Elvina pulang, Renata merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan nyaman. Ternyata ada rasa penasaran yang sejak tadi menghantuinya, yaitu melihat video keluarga Abizard saat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Radela. Renata segera memutar video satu per satu, dan yang ia putar berulang kali adalah rekaman yang memperlihatkan Rasyadan. Pria yang sangat tampan dan berkharisma itu terlihat tulus mengucapkan selamat ulang tahun kepada Radela, putrinya yang tidak ia ketahui. Renata menyukainya? Hampir mustahil ada wanita yang tidak menyukai sosok Rasyadan, pria yang nyaris sempurna dari segi apa pun, baik rupa maupun materi. Tapi, rasa suka itu hanya sebuah kekaguman atau ketertarikan, bukan berarti ada keinginan untuk memiliki. Rasyadan terlalu tinggi untuk Renata, dan Renata juga tidak bermimpi akan memiliki suami seperti pria itu. Tapi, entah mengapa ia merasa kebanggaannya memiliki putri seperti Radela berkali-kali lipat setelah mengetahui siapa ayah gadis itu. Di tempat lain, keluarga Abizard sedang makan malam bersama. Namun, kali ini Rasyidan tidak ikut dikarenakan sedang menemui kekasihnya. Juga, anak bungsu Abizard yang bernama Ricky memang tak suka makan bersama. “Cantiknya,” puji William saat melihat potret Radela di ponsel Elvina. Bola matanya bergerak ke arah Rasyadan yang sedang sibuk melahap makan malamnya. “Papa yakin, gadis ini keturunan Turki.” “Tapi nggak kok, ayahnya orang Indonesia. Cuma pas lagi hamil, katanya Renata suka nonton drama Turki.” Elvina membantah dugaan sang suami, sesuai dengan apa yang diketahuinya. “Besok bawa ke sini, Ma, Papa mau ketemu langsung.” William begitu semangat ingin bertemu Radela. “Katanya lagi sakit, Pa.” Elvina mengeluh melalui nadanya. “Itu gak kenapa-kenapa.” William menunjuk potret Radela yang terlihat baik-baik saja. “Kelihatannya emang sehat-sehat aja, kayak gak sakit apa-apa, tapi aslinya dia gak bisa banyak bergerak, gampang capek.” Elvina mengungkapkan. “Kasihan. Penyakit apa?” William merasa iba. “Jantung bawaan,” jawab Elvina apa adanya. “Jantung bawaan itu apa, Nek?” Rafi tak mengerti. “Jantungnya Radela ada masalah, sakit.” Elvina bingung menjelaskan secara rinci. “Kasian, dia gak boleh lari-larian sama Ibu Nata. Dia juga gak sekolah kayak aku.” Wajah Rafi cemberut, merasa kasihan kepada Radela. Rasyadan tak berkomentar apa pun, tetap sibuk dengan makanannya, begitu pun dengan Rafa yang sejak tadi hanya diam. “Rafa, Rafi, Kakek mau bicara sesuatu sama Papa kalian.” William memberikan isyarat agar kedua cucunya pergi, dan mereka segera pergi tanpa berani bertanya. “Rasya, kamu tau siapa ibunya anak-anak?” William menatap penuh selidik. “Nirina,” jawab Rasyadan tanpa menatap lawan bicaranya. “Papa serius, Sya.” William tampak kesal. “Ada apa?” Rasyadan baru mengangkat wajahnya, balas menatap kesal. “Papa cuma tanya, apa kamu tau siapa ibu anak-anak?” William mengulangi pertanyaannya. “Anjar yang tau.” Rasyadan kembali menunduk tak peduli. “Dan kamu gak tau?” tebak William geram. “Pa—” William mengangkat tangannya agar Elvina tidak ikut bicara. “Apa urusannya, Pa? Langsung ke inti.” Rasyadan tak suka basa-basi. “Papa gak pernah permasalahkan tentang keputusan kamu, tentang tiba-tiba Anjar bawa dua bayi ke rumah ini sebagai anak kamu, tentang kamu yang ....” William malas menyelesaikan ucapannya, malah memijat keningnya yang sedikit berdenyut. “Pa, jangan bahas ini.” Elvina mengusap lengan sang suami, mengerti keadaan begitu serius seolah ayah dan anak itu akan melakukan peperangan. “Seenggaknya dia tau siapa ibu dari anak-anaknya, Ma.” William menunjuk wajah Rasyadan yang duduk di sebrangnya. “Anjar tau apa yang harus dia lakuin, gak mungkin dia asal-asalan pilih perempuan buat ngandung anak-anak aku.” Rasyadan tetap bernada tenang meski wajahnya tidak. “Permasalahannya adalah kamu yang gak tau sama sekali ibunya anak-anak!” William tak habis pikir. “Papa kenapa, sih? Memangnya ada apa?” cecar Elvina penasaran. “Papa cuma tanya.” William menggelengkan kepalanya. “Ya, tapi dasarnya apa Papa tiba-tiba tanya soal ibunya anak-anak? Mereka udah mau lima tahun sama kita, dan Papa baru tanya soal ini?” tanya Elvina bertubi-tubi. “Papa pikir Rasya gak sembarangan kayak gitu, Ma.” William mengeluh kecewa. Curiga? Ya, William sedikit curiga terhadap Renata, terutama setelah melihat wajah Radela. Elvina yang mengambil potret gadis kecil itu, ingin memperlihatkan kepada sang suami dan berharap pendapatnya sama, yaitu Radela persis keturunan Turki. Namun, hal itu malah membuat William tersadar akan sesuatu, siapa ibu Rafa dan Rafi? Sebagai keturunan Turki, tentu ia sangat tahu wajah khas Turki, apalagi wajah yang diturunkan dari keluarganya. Tapi, William juga tak bisa mengutarakan dugaannya tanpa bukti, ia harus mencari tahu dulu sebelum berucap. “Mama, kenapa Dela gak punya papa kayak Rafa sama Rafi?” Radela mengeluh. Di tangannya, ada ponsel sang ibu yang sedang mempertontonkan video keluarga Abizard yang terus ia putar. “Rafa sama Rafi juga gak punya mama,” sahut Renata dengan santai, padahal hatinya dirasa sangat perih. “Tapi Dela juga gak punya nenek, kakek, om—” “Sayang, semua orang punya takdirnya masing-masing. Apa pun yang kita punya, belum tentu orang lain juga punya, begitu pun sebaliknya. Intinya, kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang,” potong Renata dengan cepat, tak ingin mendengar kata-kata yang begitu menusuk hatinya bagai belati. “Katanya, mamanya Rafa sama Rafi udah meninggal. Berarti, papa Dela juga udah meninggal? 'Kan Dela juga gak pernah ketemu papa, sama kayak Rafa sama Rafi, gak pernah ketemu mamanya.” Radela hanya ingin memastikan, karena itulah pendapatnya sebagai 'anak kecil' yang tak mengerti apa-apa. Renata menggeleng pelan, memaksakan senyumnya yang kaku, lalu berkata, “Papa Dela masih hidup. Dia ... Papa cuma belum bisa ketemu sama Dela.” “Kenapa?” Mata Radela tak bisa berbohong, tersimpan harapan bisa bertemu sang ayah jika memang ayahnya masih hidup. Bunyi notifikasi membuyarkan suasana tegang itu. Renata langsung memeriksa ponselnya, dan mendapati adanya pesan yang dikirim Anjar. Anjar Kamu udah melangkah lagi, mendekati mautmu, Renata. 19:20 Renata Saya gak bersalah, Ibu Elvina yang berkunjung tanpa diminta! 19:21 Anjar Kayaknya kita harus ketemu, Renata. Tolong kemasi pakaian anak kamu, dan saya siapkan uang satu milyar. Kita ketemu di hotel malam ini juga. 19:22 Renata Langsung aja, apa maksud Pak Anjar? 19:22 Anjar Apa lagi? Cepat tinggalkan Jakarta! Renata, apa yang kamu lakukan itu berbahaya buat kita berdua. Jangan pikir Abizard gak akan mencium rahasia ini. Asal kamu tau, kekuatan Abizard sangat besar. Jangan sepelekan masalah ini. Hanya ada dua pilihan, pergi atau kamu akan kehilangan segalanya. Bukan cuma putrimu, tapi segalanya! 19:24 Renata memandang lurus dengan tatapan kosong. Sebelum Anjar mengingatkan, ia memang sudah merasa bahwa keadaannya kini seolah terancam. Tepatnya saat Elvina bertemu Radela tadi, bagaimana jika wanita itu memikirkan kemiripan serta kesamaan Radela, Rafa, dan Rafi? Renata Lusa, saya akan pergi. Pak Anjar tenang aja. Tapi sebelum itu, izinkan saya hadir di pesta ulang tahunnya Rafa dan Rafi, setelah itu saya pergi. 19:47 Anjar Saya pegang ucapanmu, Renata. 19:50 Renata tidak asal membual, ia memang sudah memutuskan untuk pergi dari Jakarta secepatnya. Tapi, ia harus melakukan sesuatu sebelum kepergiannya. Elvina telah bertemu Radela, bukan tidak mungkin keluarga lainnya juga akan bertemu gadis kecilnya. Berada tetap di Jakarta sama saja menunggu waktu rahasianya terbongkar. Abizard tidak mungkin mengusulkan Rasyadan untuk menikahi Renata, yang terjadi pastilah Radela akan dibawa mereka, dan Renata tak akan pernah membiarkan siapa pun membawa putrinya. Abizard bisa memberikan apa pun, Renata yakin itu. Tapi, pada kenyataannya uang bukanlah segalanya. Ia sudah pernah merasakan kesuksesan, dan kini kesuksesaannya lenyap. Berbeda dengan seorang anak, yang akan tetap menemani hidupnya dalam keadaan apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD