Hamil

1203 Words
Hampir satu bulan Safa tinggal di Purwokerto. Dia kini bekerja di salah satu sekolah taman kanak-kanak yang cukup terkenal. Safa pun memilih ngekost. Aslinya Tiara meminta Safa tinggal di rumahnya. Tetapi atas saran Gilang dan didukung oleh Safa, akhirnya Tiara membiarkan Safa ngekost. "Aku tuh aslinya pengen kamu tinggal di rumahku. Tapi ...." "Tapi akan banyak fitnah kalau aku tinggal di sana, Tiar. Ada Mas Gilang. Meski aku yakin Mas Gilang itu tipe suami setia dan aku pun gak berniat jadi pelakor tetapi namanya mulut orang kan kita gak tahu." Tiara mendesah. Memang benar apa yang diucapkan Safa. Terlalu beresiko jika Safa tinggal di rumahnya. Meski Tiara yakin kalau Gilang dan Safa tak mungkin berbuat macam-macam, tetapi namanya setan pasti selalu menggoda. Dan memang lebih baik seperti ini, Safa ngekost tetapi Tiara dan Safa masih bisa bertemu dan seringnya tanpa Gilang. "Gak usah dipikir, aku baik-baik saja kok." Safa dan Tiara masih berjalan mengelilingi stand-stand. Tiara dan Safa sedang menikmati suasana mall di hari minggu bersama Malika juga. Gilang sendiri sedang ada pekerjaan di Jakarta. "Kamu kok kelihatan pucat, Fa? Kamu sakit?" Tiara baru menyadari sang sahabat terlihat tidak sehat. Wajahnya pucat. "Beberapa hari ini aku sering merasa pusing, Tiar. Lemes juga. Kadang perut terasa mual. Apa maagku kambuh ya?" "Mau periksa?" Safa menggeleng. "Aku ke apotek aja, beli obat yang biasa aku minum." "Kamu yakin kita gak perlu ke dokter?" "Iya." "Ya sudah. Tapi kalau ada apa-apa kamu harus hubungi aku loh." "Iya." "Kita makan yuk!" "Ayok." Tiara dan Safa menuju ke area food court. Keduanya memutuskan memesan makanan Korea untuk porsi dua orang. "Anakmu anteng ya?" Safa menatap penuh sayang pada Malika yang sedang tertidur di stroller. "Alhamdulillah, anakku termasuk gak rewel. Masih lumrah kalau lagi rewel. Kamu pengen ya?" Tiara menatap Safa dengan kerlingan menggoda. Safa mengangguk. "Iya, aku pengen punya anak yang banyak, minimal tiga hehehe." "Cari suami sana!" "Udah, dua kali malah. Tapi sayang, aku salah pilih calon terus," desah Safa terlihat pasrah. Tiara mengambil tangan kiri Safa kemudian menggenggamnya erat. "Sabar ya. Pasti akan ada rencana terindah dari Allah untuk kamu. Seperti ceritaku. Allah begitu baik dengan menghadirkan Gilang. Suatu saat, aku yakin Allah akan mengirim malaikat tak bersyap yang akan menemani kamu dalam suka duka hingga tua." "Amin." Kedatangan waiters menghentikan obrolan Tiara dan Safa. Tiara mengucapkan terima kasih lalu menaruh minyak di tempat khusus untuk memasak, mengambil sumpit, mengaduk-aduk irisan daging sapi dengan bumbu, dan memasaknya. Bau daging sapi bercampur bumbu yang sedang dimasak oleh Tiara mulai tercium. Safa yang awalnya sangat antusias dan hendak ikutan memasak tiba-tiba merasa mual. "Hoehmppp ...." Safa segera menutup mulutnya. Tetapi rupanya tak berhasil. Perutnya malah semakin mual dan rasanya ingin muntah. Safa memutuskan berlari menuju ke kamar mandi. "Safa ...! Safa kamu mau kemana?" teriak Tiara. Tiara ikut berdiri, dengan mendorong stroller Malika, dia berjalan menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi, Safa masih terus muntah. Bahkan kini Safa bisa merasakan rasa pahit pada cairan berwarna kuning yang keluar dari mulutnya. "Ya Allah, aku kenapa? Hoek ... Hoek." Safa benar-benar merasa lemas dan tidak bertenaga ketika keluar dari kamar mandi. Safa mencoba tersenyum kepada Tiara yang terlihat cemas. "Kamu kenapa? Kita ke dokter ya?" Safa menggeleng, menolak ajakan Tiara. "Gak usah." "Tapi kamu pucet banget, ayok kita ke dokter aja." Safa menggeleng, tapi gelengan kepalanya justru membuat Safa merasa semakin pusing dan akhirnya Safa roboh. Tiara berteriak. Teriakan Tiara menarik perhatian pengunjung toilet. Dengan bantuan beberapa orang, Tiara bisa membawa Safa ke mobilnya. "Ke rumah sakit, Pak." Tiara meminta sopir pribadinya mengantar dia dan Safa ke rumah sakit. Di perjalanan Safa menelepon ayahnya untuk menjemput Malika. ****** Tiara hanya bisa duduk sambil menunduk. Bersyukur, Malika tadi dibawa oleh sang papah jadi dia bisa mengurus Safa. Dan tambah bersyukur lagi karena Malika terbiasa minum ASI plus sufor jadi Tiara tak perlu cemas jika Malika lapar. Ada pembantunya dan sang papah yang bisa menangani Malika. Pikiran Safa saat ini justru lebih kepada sang sahabat. Lima belas menit yang lalu, Tiara baru saja diberitahu oleh dokter yang menangani Safa kalau ada kemungkinan Safa hamil. Tiara kaget tentu saja. Pasalnya, Safa belum menikah jadi bagaimana dia bisa hamil? Apa dia diperkosa atau melakukannya karena suka sama suka. Ah, berbagai dugaan jelek mampir di otak Tiara. Tiara merutuki dirinya sendiri. Selama ini Tiara memang berusaha memancing cerita dari Safa perihal alasan dia pergi ke Purwokerto. Meski Safa bilang untuk menghindari masalah dengan Dimas, Rudi dan Mariana, tetapi Tiara bisa melihat kalau Safa masih menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang akhirnya kini berubah menjadi kekagetan bagi Tiara. "Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Fandi?" guman Tiara. "Apa mungkin ini anaknya Fandi?" Suara lenguhan di atas ranjang mengagetkan Tiara. Tiara segera menghampiri sang sahabat. "Ti-ar," lirih Safa. "Safa ... kamu mau minum?" Safa mengangguk, tenggorokannya kering hingga tak bisa bicara. Dengan telaten, Tiara membantu Safa meminum air. Safa menghabiskan separuh gelas air putih. Setelah selesai. Tiara membaringkan Safa lagi di tempat tidur. "Aku kenapa?" guman Safa lirih. "Kamu pingsan." Safa hanya memejamkan mata, dia masih merasa pusing. Tiara membiarkan Safa beristirahat tanpa membahas tentang kehamilannya. Tiara berpikir nanti ada saatnya dia akan memberitahu Safa. Safa tertidur kembali sedangkan dengan setia Tiara menjaga Safa. Tengah malam Safa terbangun. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Sepi, hanya terlihat Tiara yang sedang tertidur di sofa. Safa merasa bersalah pada Tiara. Pasti Tiara menjaganya semalaman, sedangkan Malika dia titipkan pada papahnya atau ibu mertuanya. Safa mencoba berdiri, gerakannya menimbulkan decitan di ranjang. Membuat Tiara yang mendengarnya terbangun. "Eh, kamu mau kemana?" "Toilet." "Sini aku bantu." "Tapi, Tiar ...." "Gak ada tapi-tapian, aku cuma nemeni sampai di luar kok, gak ikut masuk." Safa pasrah karena dia sendiri masih merasa lemas. Tiara membantu memapah Safa sambil memegang kantung infus. Sampai di kamar mandi, Tiara keluar untuk memberi ruang pada Safa yang ingin menuntaskan hajatnya. Setelah selesai, Tiara membantu Safa kembali ke tempat tidur. "Kamu tadi udah ketemu dokter, Tiar?" "Udah." "Dokter bilang sama kamu gak? Aku ini kenapa?" Tiara mendesah. "Besok kita tanya dokter aja ya?" Tiara berkata dengan sangat lembut. "Iya, deh." "Ya udah, istirahat yuk." "Tapi ... Malika?" "Tenang, Malika bukan anak yang cengeng kok. Dia bayi yang pengertian. Ada ibu mertuaku sama Hana yang menjaganya. Kamu gak usah khawatir. Yang penting kamu sembuh dulu." Safa mengangguk dan menuruti kata-kata Tiara. Dia pun akhirnya tertidur kembali. **** Hancur. Adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hati Safa saat ini. Menyesal? Itu pasti. Andai dia bisa membalik waktu, dia ingin merubah masa lalunya agar tak ada penyesalan. Patah? Jelas. Bukankah sejak mengetahui kelakuan Dimas kemudian berlanjut dengan Fandi, dirinya sudah dua kali dibuat patah hati? Jadi ... meski dirinya kini hancur, menyesal dan patah hati, Safa memilih berusaha tegar dengan keadaan yang sedang dia alami. Safa hamil. Ingin rasanya dia tertawa dan memaki-maki. Tapi itu berarti dia menertawakan kebodohannya sekaligus memaki-maki diri sendiri yang tidak punya malu. Tidak kuat menahan rasa, Safa menangis. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. Sebuah rengkuhan hangat menyapa Safa. Safa pun balas memeluk sang sahabat. "Aku kotor, Tiar. Aku kotor. Hiks hiks hiks." Tiara hanya diam sambil sesekali mengusap punggung sang sahabat. Tiara pun ikut berurai air mata. Bagaimana pun yang terjadi, Safa adalah sahabatnya. Tiara akan selalu berada di sisinya baik dalam suka atau duka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD