Tiara menggenggam tangan Safa penuh sayang. Safa berusaha tersenyum meski senyumnya terlihat terpaksa.
"Mau cerita gak? Siapa tahu aku bisa bantu kamu."
Safa mengangguk.
"Dia datang bukan karena aku diperkosa atau karena aku mau. Aku sendiri bingung bagaimana bisa ngelakuin itu. Yang aku ingat, Fandi mengajakku ke acara temannya di puncak. Kami ketemu Dimas. Fandi sama Dimas hampir terlibat adu jotos. Aku memaksa Fandi pulang, tapi Fandi beralasan sudah malam. Akhirnya kami menginap tapi aku memaksa tidur di vila terpisah, Fandi awalnya menolak tapi akhirnya menerima usulku karena aku mengancam akan pulang sendiri. Dimas tiba-tiba datang, mengetuk pintu vila yang aku tempati. Bodohnya aku malah membukakan pintu. Dia minta waktu untuk bicara. Dia terus memaksaku agar kembali padanya. Aku gak mau. Dimas hampir cium aku tapi gak kejadian karena Fandi datang. Dimas mengamuk dan mengataiku w************n. Dan mengejek Fandi dapat bekasnya dia. Mereka berkelahi, Fandi menang."
Tiara mendengar cerita Safa tanpa membantah. Safa melanjutkan ceritanya.
"Fandi membawaku ke vila yang dia tempati. Awalnya kami diam tetapi entah kenapa dia mencoba cium aku. Aku menolak. Hiks hiks dia menarik bajuku. Aku takut dan memukulnya dengan lampu tidur. Aku lari keluar. Muter-muter di luar. Sampai aku ketemu seorang lelaki. Aku minta tolong sama dia, nangis-nangis. Dia nolongin aku. Dia membawaku ke vila yang dia tempati. Ngasih aku minum lalu dia mengantarku dengan mobilnya. Gak tahu kenapa, aku merasa panas. Lelaki itu juga kepanasan. Dia berhenti. Kami berhenti di tempat yang sepi sampai kami ... hiks hiks, aku gak ngerti Tiara. Aku sama dia akhirnya melakukan zina. Aku gak ngerti kenapa kami melakukan itu. Saat aku sadar aku langsung pergi, naik angkot hiks hiks hiks. Aku sampai bayar pake kalung dari mamah. Hiks hiks hiks."
Safa menghambur ke pelukan Tiara. Tiara tidak mampu berkata-kata. Dia hanya mampu memeluk sang sahabat sambil berurai air mata.
"Sabar ya, Fa. Ada aku."
"Aku takut. Hiks hiks hiks. Aku gak berani bilang sama mamah, sama Mas Revan juga. Aku udah bikin mereka malu. Hiks hiks hiks. Makanya aku ke sini, aku mau menenangkan diri. Sebenarnya aku takut akan kayak gini, Tiar. Aku takut aku hamil. Dan ternyata aku hamil. Aku inget kita gak cuma ngelakuin sekali, berkali-kali Tiar, semalaman dan dia ... dia masukin di dalam. Aku gak ngerti Tiara, aku gak ngerti kenapa aku gak mukul dia, marahin dia. Justru aku ... aku ... pasrah bahkan seperti mendamba untuk disentuh, hiks hiks hiks. Tiara aku kotor, aku kotor." Safa semakin histeris, Tiara sendiri semakin erat memeluk Safa.
Keduanya larut dalam tangisan. Tanpa mereka sedari tadi ada sosok lelaki yang menatap keduanya dengan perasaan iba.
Gilang yang mendapati berita jika Tiara menemani Safa di rumah sakit segera meluncur ke sana. Sebelumnya dia mampir ke rumah orang tuanya. Menengok Malika. Setelah puas kangen-kangenan dengan Malika. Gilang segera menuju ke rumah sakit.
****
Tiara merasa nyaman dalam pelukan suaminya. Beban yang sempat dia rasakan sedikit berkurang. Apalagi Tiara sudah mengatakan semuanya pada Gilang.
"Udah mendingan?"
"Lumayan."
"Syukurlah. Kamu tenang aja. Nanti kita bantu Safa. Kita bisa minta bantuan Mbak Iyem buat nyariin saudara atau tetangganya yang mau kerja jadi ART sekaligus jaga Safa. Kita gak mungkin tinggal bersama sama Safa, Tiar. Akan banyak fitnah kalau itu kita lakukan."
"Tiara ngerti Mas. Tiara manut Mas Gilang aja. Yang terbaik menurut Mas Gilang, lakukan aja. Bagi Tiara asal kita bisa bantu Safa."
"Iya."
Gilang mengeratkan pelukannya pada sang istri. Sesekali mengecup kepala Tiara.
Sementara di dalam kamar rawatnya. Safa sedang menatap foto hasil USG calon anaknya yang berusia lima minggu. Ada perasaan takjud dalam kesedihannya. Safa merasa jatuh cinta pada calon bayinya.
"Kamu memang terjadi karena kesalahan mamahmu, Nak. Tapi mamah berjanji akan melahirkanmu dengan selamat, merawat dan membesarkan kamu. Memberikan semua cinta dan kasih sayang mamah untukmu. Meski tanpa lelaki yang menyebabkan kamu ada," lirih Safa sambil mengelus perutnya penuh sayang.
Meski ada ketakutan di hati Safa. Tapi Safa mencoba bersikap tegar seperti biasa.
*****
Seorang wanita cantik sedang berlari guna menghampiri sosok lelaki yang sejak sebulan lalu ingin ditemuinya.
"Mas! Mas Shaka tunggu!"
Pria yang dipanggil oleh Diana memilih abai dan terus berjalan tanpa menoleh apalagi berhenti.
"Mas. Mas Shaka! Mas Shaka berhenti. Mas Shaka berhenti. Mas Shaka aku hamil," teriaknya membuat beberapa orang yang berpapasan menghentikan langkah bahkan menoleh ke arah Diana.
Shaka menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras. Dia langsung berbalik, mendekati Diana dengan wajah murka. Diana bergetar karena ketakutan.
"Sekali lagi kamu ngomong sembarangan, aku buka kedok kamu yang sebenarnya. Pilih diam atau menanggung malu. Ingat status ayahmu!" Setelah mengucap ancaman pada Diana, Shaka berlalu tanpa menoleh lagi. Sedangkan Diana menangis sampai jatuh terduduk.
Orang-orang hanya menatap Safa penuh selidik, tetapi tak ada satu pun yang mau mendekati Safa.
Sebuah uluran tangan terukur di depan Diana. Diana kaget lalu mendongak.
"Ayok, aku antar pulang. Jangan permalukan dirimu di sini."
Diana meraih tangan itu. Menuruti aksi lelaki yang sejak dulu mencintainya tetapi selaku ia tolak. Karena Diana jatuh cinta pada lelaki dingin bernama Arshaka.
"Sudah lebih baik?"
"Iya."
"Mau aku anter pulang?"
"Sebentar lagi."
Radit tidak memaksa. Dia menunggu sampai Diana merasa lebih baik. Radit dan Diana sedang berada di sebuah taman kota. Karena tempatnya sejuk dan bersih. Sangat pas untuk menenangkan hati yang sedang sedih atau terluka.
"Aku kurang apa ya, Dit? Kok Mas Shaka gak bisa suka sama aku?"
"Kamu cantik, kok. Buktinya aku cinta sama kamu. Mendekati bucin malah." Radit menjawab sambil terkekeh membuat Diana sedikit kesal.
"Aku lagi serius, Dit?"
"Aku juga serius. Saking seriusnya, aku tuh gak peduli kami tolak terus. Karena aku yakin, suatu saat kamu akan memalingkan muka dari Shaka dan berpaling padaku."
"Itu gak mungkin, Radit. Sudah berulangkali kubilang, aku cuma nganggap kamu temen, kakak terbaikku. Tapi sama Mas Shaka? Aku merasakan jatuh cinta. Cinta Radit.'
"Itu bukan cinta, Di. Tapi obsesi. Kalau kamu cinta, kamu gak mungkin pakai cara kotor seperti yang kamu lakukan waktu di puncak. Demi mendapatkan Shaka."
"Itu ... itu hanya caraku agar bisa memiliki Mas Shaka, Dit. Itu ...."
"Itu menunjukkan kualitas cinta kamu. Itu bukan cinta tapi obsesi. Kalau kamu mencintai Shaka, kami pasti akan meraih hatinya lewat doa, lewat Allah, bukan seperti yang kamu lakukan kemarin."
Diana terdiam, Radit melanjutkan bicaranya.
"Satu kesalahan fatal yang bikin kesempatan kamu hilang, Diana. Andai kamu gak melakukan hal kotor sama Shaka, mungkin Shaka masih menerima kehadiranmu. Minimal sebagai sahabat."
Diana tak bisa bersuara, tetapi matanya tampak berkaca. Radit merasa iba pada Diana.
"Udahlah. Pikirkan pelan-pelan aja. Renungi kesalahanmu, perbaiki diri kamu. Siapa tahu masih ada kesempatan buat dapatin Shaka. Ayok pulang udah sore."
Radit berdiri, hendak berjalan tetapi lengannya dipegang oleh Diana.
"Kenapa kamu gak marah sama aku? Padahal aku cuma manfaatin kamu, karena kamu dekat dengan Mas Shaka."
"Karena aku tulus cinta sama kamu. Aku gak akan maksa kamu nerima aku. Karena bagiku, kebahagiaan kamu adalah yang utama. Dan ... itu adalah caraku mencintaimu."
Diana terdiam. Dia sedih. Andai hatinya bisa dengan mudah beralih, ingin dia mengalihkan semuanya pada Radit. Dari pada mengharapkan Shaka yang entah akan berbalas atau tidak.