Curhatan Shaka

1228 Words
"Iya, nanti Shaka jemput Bunda." "Kamu dimana?" Suara di seberang sana terdengar. "Shaka baru selesai meeting sama klien, Bun." "Hati-hati, ya." "Iya. Assalamu'alaikum, Bunda." "Wa'alaikumsalam." Shaka segera menutup ponselnya. Dia berjalan menuju parkiran. Setelah menemukan mobilnya, Shaka masuk dan segera menutup pintu. Saat memakai sabuk pengamannya, Shaka menoleh ke sebelah kiri. Shaka tertegun, bayangan kejadian sebulan yang lalu kembali terlintas dalam benaknya. Shaka mendesah, ia sudah berusaha mencari siapa wanita yang menghabiskan satu malam penuh gelora bersamanya. Dia ingin bertanggung jawab karena sudah mengambil mahkotanya. Tetapi sampai hari ini hasilnya nihil. Detektif yang dia sewa belum menemukan titik terang siapa wanita itu. Wanita yang menjungkirbalikkan dunia Shaka. Wanita yang setiap malam membuat Shaka harus merelakan tubuhnya tersiram air dingin demi menetralkan panas tubuh akibat hasrat biologisnya. Shaka mengumpat, mengutuk pikirannya yang tiba-tiba menjadi kotor. Tetapi dia laki-laki. Dan ... dia baru pertama kalinya menyentuh wanita dan sayangnya wanita yang dia sentuh belumlah halal untuk dia sentuh. "Siapa kamu? Kenapa aku begitu merindukanmu? Kamu dimana? Demi Tuhan, tolong jangan bersembunyi. Ijinkan aku mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu," lirih Shaka. Dia mengetuk-ketukkan kepalanya pada stir mobil. "Aku minta maaf. Aku tak tahu kenapa aku berubah menjadi lelaki b******k. Aku benar-benar minta maaf," ucap Shaka sambil membelai kursi penumpang di sebelahnya. Shaka membelai kursi di samping seolah-olah ada wanita itu di sana. Wanita yang malam itu begitu dipuja oleh Shaka. Wanita yang semua bagian tubuhnya sudah Shaka nikmati. Dan kini ... wanita itu benar-benar begitu Shaka rindukan. "Sial! Kenapa kalau aku ingat dia, malah jadi tegang begini, sih!" umpat Shaka. Shaka menyembunyikan mukanya lagi di atas stir mobil, kepalanya pun dia ketuk-ketukan lagi di sana. Duk. Duk. Duk. Shaka frustasi, dia sedang berusaha menenangkan bagian dirinya yang kini sedang menegang. "Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Maafkan aku ya Allah, tolong hamba ya Allah. Ijinkan hamba bertanggungjawab pada apa yang sudah hamba lakukan pada wanita itu." Cukup lama Shaka berada dalam posisi menelungkup di atas stir mobil. Setelah merasa tenang, Shaka mulai menjalankan mobil menuju salon tempat bundanya kini berada. **** "Lama bener jemput Bunda." "Maaf, Bun. Tadi sedikit kena macet." "Ooooo. Kamu udah makan?" "Udah." "Yakin?" "Iya, Bun." "Syukurlah. Kamu jangan sampai telat makan ya? Bunda lihat kamu tambah kurus, nafsu makanmu juga turun drastis. Kamu sakit?" "Enggak Bun, kata Om Fadli cuma asam lambung naik aja." "Tuh, kan? Makanya jangan lupa makan. Kalau perlu cari istri sana! Bunda gak masalah kamu mau nikah sama siapa aja. Penting wanita baik-baik." Shaka hanya tersenyum tipis. Dia memilih fokus menyetir. Ajeng sendiri sesekali melirik sang putra yang belakangan ini bertingkah aneh. Dia kini lebih banyak menyendiri, bahkan sholat malamnya menjadi lebih rajin. Tak jarang, Ajeng seperti mendengar suara isakan dari kamar sang putra. Ingin rasanya Ajeng bertanya, apa yang sedang dirasakan oleh sang putra. Tetapi, Shaka selalu menghindar. Setiap Ajeng mulai bertanya, dia akan mencari berbagai alasan hingga akhirnya Ajeng menyerah untuk bertanya lagi. "Kha." "Iya, Bun." "Kamu tahu, kan? Kalau bunda sayang sama kamu. Jadi bunda akan selalu mendukung apa pun keinginan kamu asal itu baik." Hening. Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Keheningan keduanya terpecah oleh ucapan Shaka. "Bun." "Iya." "Kalau Shaka melakukan kesalahan, Bunda mau maafin Shaka, 'kan?" Ajeng menatap putranya dari samping. Terlihat ada luka di mata sang putra. "Shaka ...." "Shaka belum berani cerita sama Bunda. Shaka masih takut, Bunda." Shaka terdiam, dia fokus ke depan karena jalanan di depan berupa tikungan. Setelah kembali melewati jalanan yang lurus dan lengang, Shaka melanjutkan ucapannya. "Shaka ... Shaka benar-benar minta maaf Bunda. Shaka ... Shaka mengaku salah. Tapi Shaka akan mempertanggungjawabkan kesalahan Shaka." "Shaka? Bisa kita berhenti dulu?" pinta Ajeng. Shaka meminggirkan mobilnya. Dia kembali menyembunyikan mukanya di atas stir. Punggungnya bergerak, suara isakan terdengar. Ajeng bingung dengan kelakuan sang putra. "Shaka jahat, Bunda. Shaka jahat." "Hei, kamu jahat kenapa? Cerita sama bunda." Shaka kemudian mendongakkan wajah, dia menatap bundanya dengan wajah berurai air mata. Shaka menceritakan semua yang terjadi di puncak. Bagaimana dia menghadiri acara sang sahabat dengan Diana, ulah Diana yang menggodanya dan yang lebih parah memberinya minuman yang Shaka yakin sudah diberi sesuatu hingga membuat Shaka dan wanita yang akan ditolongnya malah melakukan Zina. "Shaka minta maaf, Bunda. Tolong jangan benci Shaka, tolong jangan kutuk Shaka, Bunda. Shaka minta maaf." Ini pertama kalinya, Ajeng melihat sang putra terpuruk. Dulu, saat Farhan menghina putranya sendiri demi menutupi aib. Shaka terlihat tegar tapi kali ini, Shaka terlihat rapuh. "Shaka minta maaf Bunda. Maafkan Shaka, Shaka udah jadi pria b******k. Sama seperti lelaki itu ... Shaka minta maaf, Bunda." Shaka menangis di pangkuan Ajeng. Ada kemarahan dalam diri Ajeng, tetapi kemarahan itu bukan ia tunjukkan pada sang putra melainkan pada Diana. Pantas, Diana begitu terlihat salah tingkah di depan Shaka. Pantas saja, Diana terlihat manis di depan Ajeng. Ternyata .... "Kamu sudah menemukan wanita itu?" Shaka menggeleng. "Dia menghilang, Bunda. Waktu Shaka sadar, Shaka di mobil sendirian dengan kondisi ... Shaka kotor Bunda, Shaka pezina." "Sssttt, udah gak papa. Nanti kita minta bantuan Ayah. Ayah mempunyai koneksi yang bagus. Mungkin dia bisa bantu. Kamu ... kamu malu jika Ayah tahu?" Shaka menggeleng. "Shaka tak peduli dengan omongan orang. Sejak kecil, Shaka sudah sering dihina punya bapak tukang selingkuh. Shaka cuma malu sama Bunda. Shaka gak bisa jaga perasaan Bunda. Shaka malu sama Tania dan Tristan. Karena menjadi sosok kakak yang gak baik." "Sssttt, kata siapa? Kamu adalah kakak terbaik untuk Tristan dan Tania. Dan satu hal yang perlu kamu tahu, bunda selalu bangga punya anak seperti kamu." "Makasih, Bunda." Kedua ibu dan anak saling memeluk dengan sayang. Ajeng menyalurkan rasa kasihnya kepada Shaka pun dengan Shaka. Meski tanpa ucap, keduanya paham jika mereka akan saling mendukung dan menguatkan. **** Safa menatap bangunan sederhana yang sudah disiapkan oleh Gilang dan Tiara. Ada Mbok Atun yang akan menemaninya di sini. "Fa, ayo masuk." Safa mengangguk dan mengikuti langkah Tiara dan Gilang. "Vilanya bagus, punya siapa?" "Milik temanku, ayo masuk Fa. Aku sama Mbok Atun bawain barang-barang kamu dulu." "Makasih, Mas Gilang." "Sama-sama." Gilang dan Atun membawakan barang-barang milik Safa. Sementara Safa dan Tiara menuju ke dalam rumah. "Gimana, Fa? Tempatnya nyaman, 'kan?" Safa mengangguk. "Makasih, ya Tiar. Aku gak tahu mesti ngomong apa. Kalian udah baik banget sama aku." "Ish, gak usah dipikirin. Penting kamu betah dan jangan banyak pikiran. Pokoknya kalau ada apa-apa telepon aku, ya. Maaf kalau beberapa waktu ke depan mungkin aku jarang berkunjung. Mas Gilang ada perjalanan dinas ke Singapura, dia minta aku sama Malika ikut." "Iya, gak papa. Ini ngomong-ngomong kok kayak honeymoon tertunda ya?" Tiara tertawa menyadari kebenaran dalam kalimat Safa. Semenjak menikah, Tiara dan Gilang memang belum sempat bulan madu. "Hehehe. Ya gitu deh." "Semua barang milikmu udah aku masukin ke dalam, Fa." Gilang datang bersama dengan Mbok Atun. "Kita langsung pamit, Fa. Soalnya Mamah ada arisan keluarga, kita disuruh dateng. Kamu gak papa kan kalo ditinggal?" "Gak papa, Mas Gilang. Makasih ya. Maaf merepotkan." "Gak masalah, anggap aja aku abang kamu. Jangan sungkan." "Makasih Mas. Makasih ya Tiar." "Udah ah, dari tadi ngucap makasih terus." "Hehehe." "Ya udah, kita pamit ya Fa." Gilang dan Tiara berpamitan, Safa dan Atun mengantar kepergian keduanya di halaman rumah. "Masuk yuk Mbak, Mbak Safa harus banyak istirahat." Safa menuruti perkataan Atun. Atun sudah diberi tahu oleh Mbak Iyem, Gilang maupun Tiara tentang keadaan Safa. Dia pun bersimpati dengan keadaan Safa. Atun pun sudah berjanji akan menjaga dan merawat Safa dengan baik. Selain itu karena tugasnya sebagai ART juga karena rasa kemanusiaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD