Keramaian di dalam mall semakin padat menjelang siang. Musik instrumental yang mengalun dari speaker langit-langit bercampur dengan suara langkah kaki para pengunjung, suara kasir, dan hiruk-pikuk kesibukan para pegawai toko. Namun bagi Alvaro, semua suara itu seperti meredup, teredam oleh sesuatu yang jauh lebih penting: gadis yang kini berada di sampingnya.
Amanda.
Gadis yang dulu begitu jauh dari jangkauannya—cantik, populer, elegan. Namun kini, ia menempel pada lengan Alvaro, seolah itu tempat yang paling aman di dunia.
Dan tepat beberapa meter di depan mereka, pria bernama Baron, si tubuh kurus tetapi bermulut besar, kembali memandang Amanda dengan tatapan penuh nafsu yang membuat darah Alvaro mendidih.
Situasi semakin memanas.
Dan ketika ancaman samar muncul dari arah Baron, Alvaro akhirnya bergerak.
Tanpa peringatan apa pun, Alvaro meraih pinggang Amanda dan menarik tubuh ramping gadis itu hingga menempel erat ke sisinya.
“A..Alvaro?!”
Amanda tersentak, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tubuhnya menegang, matanya membesar seperti hendak meloncat keluar.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Amanda dengan suara nyaris tak terdengar.
Alvaro merendahkan kepalanya, bibirnya mendekat ke telinga Amanda. Nadanya rendah, tetapi penuh ketegasan dan keyakinan.
“Kita harus meyakinkan pria kurus itu kalau kita memang benar-benar pacaran.”
Amanda terdiam sejenak. Nafasnya tercekat. Dia tak bisa membantah… karena sejak tadi, Baron terus mendekat, terus memaksa, terus mengganggunya. Dan anehnya, dekapan Alvaro membuat jantungnya berdetak tak beraturan.
Baron berhenti tepat di depan mereka. Ekspresi jijik bercampur kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
“Kau…” Baron menatap Alvaro dari bawah ke atas. “Siapa bilang kau boleh memeluk dia seperti itu? Lepaskan!”
Alvaro membalas dengan tatapan dingin, seolah Baron hanyalah debu di bawah sepatunya.
“Si kurus,” ucap Alvaro pelan namun penuh tekanan. “Mundur. Atau kau akan mendapat masalah.”
Kedua mata Baron membelalak.
“b******n!” geramnya. “Berani sekali anak miskin bicara begitu padaku!”
Namun sebelum Baron dapat melanjutkan makiannya, Alvaro sudah lebih dulu meraih tangan Amanda dan menariknya berjalan maju menuju toko Hermes.
“Aku tak mau dengar ocehan anjing kurus,” ucap Alvaro datar.
Amanda terpana.
Baron mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan amarah, dan berjalan lunglai mengikuti dari belakang.
Mereka tiba di depan toko Hermès terbesar di mall itu—toko dengan kaca bening, lampu kuning hangat, dan deretan tas mahal yang dipajang seperti artefak museum.
Sebelum masuk, Amanda menghentikan langkah Alvaro dengan suara lirih yang terdengar sangat panik.
“Varo… kamu bisa kalah.”
Alvaro menatapnya, sedikit mengangkat alis.
“Apa maksudmu?”
“Dia kaya… sangat kaya. Kamu… kamu tak mungkin bisa membeli tas Hermès lebih mahal darinya.” Suara Amanda bergetar. “Jangan lakukan ini demi aku.”
Alvaro tersenyum tipis. Senyum yang entah kenapa membuat d**a Amanda berdesir.
“Jangan khawatir. Aku punya uang.”
“Tapi… itu mungkin uang masa depanmu. Jangan hambur”
Alvaro berhenti. Menatap Amanda sejenak.
Dalam tatapannya ada sesuatu yang membuat Amanda tiba-tiba terdiam dan tak melanjutkan ucapannya.
“Dia gadis yang baik…” batin Alvaro. “Dan dia bukan cewek matre.”
Tangan Alvaro menggenggam tangan Amanda. hangat, stabil, dan tegas.
“Ikut aku.”
Mereka bertiga masuk.
“Selamat datang di toko Hermès, ada yang bisa saya bantu?” sapa pegawai toko dengan ramah.
Baron langsung melangkah maju tanpa sopan santun dan bas abasi.
“Tunjukkan tas Hermès yang paling mahal yang kalian punya!” katanya sambil melirik Amanda penuh nafsu dan kesombongan. “Aku beli untuk gadis cantik ini.”
Pegawai toko terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Baik, Tuan. Silakan tunggu sebentar.”
Ia kembali membawa sebuah tas yang terbungkus plastik merah marun—sangat eksklusif, sangat mahal.
“Ini tas paling mahal di sini, Tuan.”
Baron menatap tas itu dengan mata berbinar… lalu …
“Harganya satu miliar rupiah, Tuan.”
Dan semuanya berubah.
“Satu… miliar?” Baron terperanjat. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini memucat.
Keringat dingin muncul di pelipisnya.
“A…ah… satu miliar? Untuk tas kecil seperti itu?” gumamnya gugup.
Amanda yang tadinya panik melihat duel absurd ini, kini memandang Baron dengan tatapan tak percaya.
“Sial… kenapa aku minta yang paling mahal?! Ayahku bisa bunuh aku kalau tahu,” pikir Baron panik.
Pegawai itu menunduk sopan.
“Bagaimana, Tuan? Apakah Anda ingin membelinya?”
Baron menelan ludah.
“A..apa… ada tas yang lebih murah dari ini?” suaranya kecil, seperti bisikan kalah.
Pegawai itu mengangguk profesional. “Berapa harga yang Anda inginkan, Tuan?”
Baron menunduk malu.
“Mungkin… Hermès… lima puluh juta…”
Ruangan langsung jadi hening.
Hening yang memalukan.
“Apa?” suara tegas Alvaro memecah keheningan.
Semua mata menoleh ke arah Alvaro.
“Hanya lima puluh juta… dan kau berani menantangku?”
Baron memerah karena malu. “b******n! Kau pikir pria miskin sepertimu bisa mengeluarkan lima puluh juta?!”
Alvaro tidak menjawab.
Ia hanya melangkah maju.
Dengan tenang.
Tatapannya percaya diri. Tangan kirinya menggenggam tangan Amanda—seolah memastikan gadis itu tetap berada di sisinya.
Ia menunjuk tas Hermès pertama.
“Bungkus dua tas itu.”
Semua terdiam.
Semua tercengang.
“D—dua, Tuan?” Pegawai itu bahkan kehilangan suaranya.
“Ya,” jawab Alvaro santai. “Dua.”
Amanda seperti kehilangan keseimbangan.
“Dua? Dua tas Hermès paling mahal? Dia benar-benar membeli dua?!”
Wajahnya pucat bercampur merah. Nafasnya tersendat.
“Apa dia sudah gila? Atau… atau ini semua hanya sandiwara? Alvaro dulu… semiskin itu. Tidak mungkin—”
Namun tatapan Alvaro terlalu tenang untuk disebut sandiwara.
Di sisi lain, Baron tampak lebih parah. Dia mundur setengah langkah, tubuhnya gemetar.
“Gawat… siapa dia sebenarnya? Jangan-jangan dia… anak orang super kaya?”
Desas-desus mulai terdengar di antara para pengunjung.
“Gila… dua tas Hermès paling mahal?”
“Cowok itu siapa?”
“Kok bajunya biasa saja?”
“Mungkin dia crazy rich tapi nyamar!”
Kerumunan makin ramai.
Sang manajer toko datang, terkejut melihat suasana tegang.
“Totalnya dua miliar rupiah, Tuan,” ucap sang manajer dengan suara setenang mungkin.
“Baik.”
Alvaro mengeluarkan ponsel.
Beberapa ketukan jari… dan—
[Pembayaran berhasil.]
“U…uangnya sudah masuk, Tuan!” seru manajer dengan suara bergetar. “Kami akan segera membungkus kedua tas ini!”
Amanda menutup mulutnya. Baron terjatuh duduk.
Kerumunan di luar toko meledak seperti konser.
Alvaro berdiri tenang.
“Saya bilang… saya akan membelinya.”
[Anda mendapatkan tambahan 80 poin. Total Poin Alvaro: 452 Poin]
Panel notifikasi sistem muncul di hadapan Alvaro.
Ia tersenyum kecil.
“Bagus.”
Tapi sesuatu yang tidak disadarinya terjadi.
Senyum itu,..senyum tipis yang calm, percaya diri, dan entah bagaimana… hangat..
Masuk ke hati Amanda.
Untuk pertama kalinya, pandangannya terhadap Alvaro berubah.
Sesuatu di dadanya berdebar, lebih keras dari sebelumnya.
Bukan karena takut. Bukan karena cemas. Tapi karena… kagum. Sangat kagum.