BAB 9 Harga dari Sebuah Kesombongan

1209 Words
Baron tidak pernah menyangka pagi itu akan berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan harga dirinya. Semula ia datang dengan d**a membusung, yakin bahwa menantang Alvaro di depan banyak orang adalah keputusan tepat—apalagi setelah ia melihat penampilan Alvaro yang masih sederhana, seolah-olah anak miskin yang sedang numpang lewat. Tapi sekarang? Yang tersisa hanya ketakutan, penyesalan, dan wajahnya yang memucat seperti kain yang diperas habis warnanya. Kerumunan di dalam butik mewah itu masih berbisik-bisik, sebagian menahan tawa, sebagian lagi tak peduli menutupi ekspresi geli mereka. Baron berdiri di sudut ruangan, tubuhnya kaku, matanya tak berani menatap siapa pun. Sesekali ia melirik ke arah pintu keluar, begitu dekat, namun terasa seperti ribuan kilometer jauhnya. Ia menelan ludah. “Kalau aku jalan pelan-pelan… mungkin saja tak ada yang sadar,” gumamnya lirih. Dengan langkah selembut mungkin, ia mulai menyelinap ke arah pintu. Napasnya ditahan, keringat dingin mengalir di pelipis. Setiap langkah terasa seperti tindak kejahatan—seolah ia sedang kabur dari medan perang setelah kalah telak. Namun baru dua langkah… Suara Alvaro terdengar, tenang namun dingin, menusuk dari belakang. “Baron.” Langkah Baron membeku. Suasana langsung hening. Semua mata beralih pada Alvaro. “Bukannya kamu ingin menantangku tadi?” lanjut Alvaro tanpa meninggikan suara. Kata-katanya sederhana. Tapi efeknya seperti palu godam jatuh ke ubun-ubun. Beberapa pelanggan mulai menutup mulut menahan tawa. Para pegawai butik saling sikut, menahan ekspresi geli. Baron menggigit bibirnya, wajah memerah menahan malu. “A-aku cuma… bercanda, bro,” katanya terbata-bata. “Bercanda?” Alvaro mengangkat alis. “Tadi kamu yang paling keras teriak, kan? Di depan banyak orang pula.” Gelombang tawa pecah. Ada yang tepuk meja. Ada yang sampai membungkuk sambil menahan perut. Baron ingin menghilang saat itu juga. “A… aku… ya…,” ia menggaruk tengkuknya. “Se… sepertinya aku ada urusan mendadak.” Alvaro menatapnya lama, lalu berkata datar: “Pergi sana. Tapi ingat tantanganmu hari ini sudah lunas… dengan rasa malu.” Tawa kembali pecah. “Wooooh!!” “Baron k.o. mental!” “Gila, baru lihat wajah orang semalu itu!” Baron menunduk sedalam-dalamnya—mungkin lebih rendah dari harga dirinya. Kemudian ia kabur, benar-benar kabur, tanpa menoleh sedikit pun. Ia nyaris tersandung pintu otomatis yang belum sempat terbuka penuh. Kerumunan kembali tertawa lebih kencang dari sebelumnya. “Kasihan banget,” ujar seorang ibu-ibu. “Pantas sombong,” sahut yang lain. “Makanya jangan nantang orang kalau nggak yakin,” tambah pegawai sambil menutup mulutnya. Dan begitu Baron lenyap dari pandangan, suasana perlahan kembali normal. Tak lama kemudian, Manager butik itu menghampiri Alvaro sambil membawa dua buah tas Hermes eksklusif yang dibungkus rapi dengan pita emas. “Tuan, ini tas yang Anda beli,” ucapnya sopan sambil menundukkan kepala. Alvaro menerima tas itu tanpa banyak bicara. Ia kemudian menoleh ke arah Amanda, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya. Amanda terlihat gugup. Ada sesuatu di matanya, campuran antara kagum, takut, dan entah apa lagi yang bahkan ia sendiri tak paham. Alvaro mengangkat salah satu tas Hermes. “Amanda, ini untukmu.” Seolah petir menyambar, Amanda langsung terpaku. “Ta-tapi Varo… ini terlalu mahal! Aku… aku nggak bisa menerimanya!” Suaranya bergetar. Pipinya memanas. Hermes. Tas yang harganya bahkan bisa sama dengan biaya hidup satu keluarga selama setahun. Dan ia diberi begitu saja? “Tidak apa-apa,” jawab Alvaro pelan, namun tegas. “Kamu layak endapatkannya.” Wajah Amanda semakin memerah. Matanya membesar. Langkahnya goyah, seperti tak tahu harus berbuat apa. “Varo…” ia hampir tak bisa berbicara. Ada ketulusan aneh yang mengalir dalam intonasi Alvaro, tidak seperti orang yang sedang pamer atau menggoda. Justru itu yang membuat Amanda semakin terpukul oleh perasaannya sendiri. Dan orang-orang di dalam butik? Semua berhenti dan memperhatikan. Hening. Lalu bisik-bisik yang diikuti tatapan iri mulai terdengar. “Lihat pasangan itu…” ujar seorang perempuan. “Astaga, mereka cocok banget.” “Sumpah, iri!” sahut temannya. “Cowok setampan itu, sekaya itu, ngasih Hermes pula…” “Ini baru definisi laki-laki kelas atas. Bukan kayak Baron tadi.” Beberapa pegawai yang tadi berbisik-bisik langsung pasang wajah manis, takut jika giliran mereka dihukum nasib sama dengan Baron. Amanda semakin salah tingkah. Pipinya memerah seperti buah ceri. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seakan ingin meloncat keluar. Ia menunduk, menggenggam tas itu dengan tangan gemetar. “Varo… kenapa kamu baik banget sama aku?” tanyanya lirih, hampir seperti bisikan. Alvaro tersenyum tipis. Bukan senyum menggoda. Bukan pula senyum kemenangan. Senyum itu dingin… tetapi tidak jahat. Lebih mirip seseorang yang sangat terbiasa mengambil keputusan besar tanpa ragu. “Karena… kamu pantas.” Kalimat itu menghantam Amanda lebih keras daripada semua perasaannya selama ini. Alvaro kemudian menoleh ke pintu luar. “Ayo,” katanya sambil mengangguk kecil. Amanda menurut begitu saja. Seolah kakinya bergerak sendiri mengikuti langkah Alvaro. Mereka berjalan berdampingan, melewati lorong butik yang panjang. Tiba-tiba… Alvaro meraih tangan Amanda. Amanda terkejut. Ia hampir menjatuhkan tas Hermes-nya. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhnya menghangat tak karuan. Tangan mereka bergenggaman. Kokoh. Mesra. Seolah mereka adalah pasangan yang sedang menikmati momen paling romantis dalam hidup mereka. Pengunjung butik terdiam melihatnya. Beberapa bahkan merekam dengan ponsel. “Cute banget…” bisik seorang remaja perempuan. “Cowok itu… astaga, dia gentleman banget.” “Cewek itu beruntung sumpah.” Amanda menunduk. Senyumnya kecil namun bahagia. Ia tak pernah memimpikan momen semacam ini. Terlebih dengan seseorang seperti Alvaro—yang dulu sering diejek sebagai siswa termiskin di sekolah, namun kini… entah sejak kapan berubah menjadi pria dengan aura misterius dan kekayaan luar biasa. Mereka keluar dari butik. Meninggalkan gumaman iri di belakang mereka. Saat mereka sudah berjalan cukup jauh dari keramaian, Alvaro perlahan melepaskan genggaman tangannya. Amanda mendongak. Kebahagiaan yang tadi memancar dari wajahnya perlahan pudar. Tatapannya bingung. Alvaro berhenti. Wajahnya… kembali datar. ak ada kelembutan seperti saat di butik. Tak ada senyum simpul. Hanya ekspresi hambar, seolah menutup semua emosi. “Kita sudah cukup jauh,” katanya singkat. Amanda menelan ludah. “K-kamu… kenapa berhenti menggenggam tanganku?” Alvaro menatapnya tanpa emosi. “Amanda, itu cuma… bagian dari membantumu.” Kalimat itu seperti batu besar yang jatuh dari tebing—menghancurkan seluruh harapan gadis itu dalam sekejap. “Ini sudah cukup membantumu kan?” tambah Alvaro sambil bersiap pergi. “Sabar… apa?” Amanda memegangi tas Hermes itu kuat-kuat. Matanya mengerjap cepat, menahan sesuatu yang ingin pecah dari dalam dadanya. Alvaro memalingkan wajah. Ia mulai melangkah. “Kalau begitu… aku pergi dulu.” “Tunggu, Varo!” suara Amanda terdengar putus asa. Alvaro berhenti. “Bagaimana dengan tas ini?” tanyanya bingung, suaranya hampir pecah. “Apa aku harus mengembalikannya? Ini terlalu mahal. Aku… aku nggak enak.” Alvaro tidak menoleh. Jawabannya keluar datar, bahkan lebih dingin dari sebelumnya. “Itu untukmu.” Hening. “Anggap saja… kamu sedang beruntung.” Lalu ia berjalan menjauh. Tanpa melihat ke belakang. Tanpa meninggalkan apa pun kecuali bayangan punggungnya yang tegap. Amanda berdiri mematung. Angin mall yang berembus lembut pun tak mampu mengusir dingin yang menyelimuti dadanya. Ia menatap tas Hermes itu. Matanya berkaca-kaca. Bahagia? Ya. Tersentuh? Sangat. Tapi hatinya… terasa nyeri. Seolah ada jarak tak terlihat antara dirinya dan Alvaro. Jarak yang begitu jauh… begitu dingin… dan begitu tak tersentuh. “Apa… sebenarnya yang kamu sembunyikan, Varo?” gumamnya lirih. Namun Alvaro sudah menghilang di balik keramaian mall. Bersama misteri yang semakin sulit ditebak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD