Langkah-langkah Alvaro menjauh, meninggalkan Amanda yang masih berdiri kaku di depan toko mewah itu, menggenggam tas Hermes di dadanya seakan takut benda itu menghilang kalau ia berkedip. Napasnya naik turun, bukan karena lelah, tetapi karena ada sesuatu yang bergolak di dadanya—sesuatu yang tidak ia mengerti.
“Alvaro… dia benar-benar aneh,” gumamnya pelan.
Ia menunduk, menatap tas berwarna oranye menyala yang kini jadi miliknya. Tas yang nilainya satu miliar rupiah—dua miliar untuk 2 buah Tas, dibeli oleh laki-laki yang selama ini dianggap “siswa paling miskin di SMA Satu Nusa” dulu, yang menjadi sebab di putus pacarnya. Tidak masuk akal. Tidak bisa diterima logika siapa pun.
“Semua orang pikir dia cuma pemuda biasa… bahkan sering dibully… tapi dia beli dua tas Hermes tanpa ragu?” tatap Amanda kosong, matanya menyipit pelan. “Siapa sebenarnya dia?”
Dalam hatinya, rasa penasaran tumbuh seperti bara kecil yang tersulut angin. Bukan hanya penasaran—ada kekaguman, ada ketertarikan… mungkin sedikit takut… tapi semuanya bercampur dan membentuk sesuatu yang membuat d**a Amanda berdebar.
Dia menghembuskan napas panjang. “Aku harus menyelidiki Alvaro. Tidak mungkin anak seumur itu punya uang sebanyak itu… kecuali ada sesuatu yang ia sembunyikan.”
Dengan langkah ringan namun pikiran penuh gejolak, Amanda meninggalkan toko itu. Tas Hermes yang digenggamnya erat menjadi saksi perubahan besar dalam hidupnya—perubahan yang dimulai oleh satu nama: Alvaro Pratama.
Sementara itu, di sisi lain mall, Alvaro berjalan santai menuruni eskalator. Lampu-lampu mall yang mulai meredup tidak membuat suasana terlihat muram; justru, bagi Alvaro, malam itu terasa hangat dan tenang. Satu tangannya masih membawa kantong kertas besar berisi tas Hermes satunya lagi—yang ia beli khusus untuk Dina, adiknya.
“Dia pasti suka…” ujar Alvaro sambil tersenyum tipis.
Raut wajahnya terlihat damai, seakan semua yang terjadi hari ini—drama dengan Baron, tatapan iri orang-orang, perhatian Amanda—semuanya hanya debu kecil di pikirannya. Yang terpenting hanyalah poin… dan adiknya.
Ia berjalan semakin dalam menuju area yang sedikit lebih lengang. Musik mall mengalun lembut, lampunya memantul di lantai marmer ibarat kilau bintang.
Kemudian ia berhenti.
“Sistem, perlihatkan statusku.”
Sebuah layar holografik transparan muncul di depan matanya, hanya bisa dilihat olehnya.
[ALVARO PRATAMA] – SISTEM AKTIF
Kekuatan Fisik: 49
Kecerdasan: 40
Kecepatan: 42
Kemampuan Khusus
• Karate Mastery: Level 3
Poin Tersisa: 452
Saldo: Rp 994.000.000.000,-
Alvaro tersenyum kecil melihat nominal itu. Tidak ada rasa takjub, tidak ada rasa sombong. Seolah angka itu hanyalah bagian kecil dari hidup barunya.
“Pertama… kecerdasan. Naikkan ke 50.”
Sistem menjawab:
[Permintaan diterima. Dibutuhkan 50 poin. Lanjutkan?]
“Iya.”
[Peningkatan berhasil.]
[Kecerdasan Anda kini 50.]
Secepat itu—Alvaro merasakan efeknya.
Kepalanya seolah menjadi lebih dingin, lebih ringan. Suara-suara di sekitarnya terdengar jelas namun tidak mengganggu. Matanya tajam, seakan dunia bergerak sedikit lebih lambat sehingga ia bisa menganalisis setiap detail tanpa usaha.
Ia bisa mengingat percakapan, ekspresi orang, tata letak mall, hingga suara langkah kaki—semuanya dengan kejernihan yang menakutkan.
“Hmm… jadi ini efeknya,” gumam Alvaro sambil menyentuh pelipis. “Tidak buruk.”
Ia melangkah lagi, lalu memutuskan meningkatkan satu status lagi.
“Sistem, tingkatkan kekuatan fisikku menjadi 55.”
[Dibutuhkan 30 poin. Lanjutkan?]
“Tingkatkan.”
[Peningkatan berhasil.]
Tubuh Alvaro terasa berbeda seketika. Kedua lengannya terasa lebih kokoh, napasnya lebih stabil. Ada lonjakan kekuatan yang merembes dari otot-ototnya, sebagian besar menuju punggung dan bahunya. Ia menggenggam kantong tas Hermes dengan satu tangan, dan terasa seperti tidak membawa apa pun.
“Bagus. Lebih baik begini.”
Ia menengadah, melihat lampu-lampu mall di atas sana. Sudah hampir jam sembilan malam. Suasana lengang. Petugas kebersihan mulai muncul di sudut-sudut lorong.
“Sudahlah, cukup untuk hari ini.” pikirnya sambil menghela napas.
Di langkah-langkah akhirnya menuju pintu keluar, pikirannya mulai merencanakan hal lain: Bagaimana cara mendapatkan poin lebih banyak? Bagaimana cara enaikkan statusnya lebih cepat? Apa langkah selanjutnya agar ia bisa mengamankan hidup Dina selamanya?
Setiap langkahnya mantap, penuh tekad.
Setelah melalui pintu otomatis, angin malam menyapa wajahnya. Lampu parkiran berpendar dengan warna kuning lembut. Mobil-mobil masih berserakan, namun suasana sudah tidak terlalu ramai.
Alvaro menatap langit. “Dina pasti sudah tidur. Besok… aku harus cari cara mendapatkan poin yang lebih banyak lagi.”
Ia merapikan pegangan tas Hermes, lalu melangkah menuju tepi jalan untuk memesan transportasi online.
Pada detik itu, di tempat lain—Amanda sedang mencari tahu namanya di internet.
Baron masih ketakutan di kamarnya. Namun Alvaro tidak peduli.
Baginya malam ini hanya satu: Langkah kecil menuju takdir besar yang tengah menunggunya.
Dan dengan tenang—Alvaro berjalan pulang, menembus angin malam, meninggalkan mall yang perlahan gelap.