Udara pagi di kampus Universitas Cakra Nusantara masih terasa sejuk, embun di rerumputan belum sepenuhnya menguap ketika Alvaro melangkah melewati gerbang utama. Cahaya matahari menimpa rambutnya, menciptakan siluet tenang yang kontras dengan pikiran yang sebenarnya sedang penuh intrik. Langkahnya mantap, seperti biasa—dingin, terkontrol, namun tetap meninggalkan aura yang sulit diabaikan.
Belum jauh ia masuk, sebuah suara lembut memanggil dari belakang.
“Hei… Al!”
Alvaro menoleh pelan.
Dina—bukan adiknya, melainkan Dinda, gadis yang sejak SMA sulit didekati siapa pun—berdiri di sana dengan senyuman manis yang mengembang lembut. Kerudungnya tertiup angin pagi, memberikan kesan anggun yang sulit didefinisikan. Dinda berjalan cepat menyusulnya, wajahnya berseri seperti baru saja memetik matahari.
“Dinda,” ujar Alvaro datar namun ramah. “Bagaimana kondisi ayahmu?”
Senyum Dinda semakin lebar, matanya sedikit berkaca—bukan sedih, tetapi bahagia.
“Sudah jauh lebih baik, Al,” jawabnya dengan suara lembut. “Operasinya lancar… dokter bilang kondisinya stabil. Terima kasih… bener-bener terima kasih. Tanpa kamu, aku… aku nggak tahu harus bagaimana.”
Alvaro mengangguk pelan. “Syukurlah. Aku senang mendengarnya.”
Mereka mulai berjalan berdampingan. Mahasiswa lain berlaluan, tapi seakan dunia memperlambat ritmenya ketika dua orang itu menyusuri jalan setapak kampus.
Dinda memeluk buku di dadanya, jari-jarinya memainkan ujung sampul seolah menyembunyikan kecanggungan kecil yang manis.
“Al… terima kasih ya. Kata ibu, kalau bukan karena kamu…” Ia berhenti sesaat, mencoba mengatur napas. “Ayahku mungkin… nggak selamat.”
Alvaro menggeleng kecil. “Nggak usah dibahas lagi, Din. Aku memang ingin membantu.”
Senyum Alvaro—yang jarang muncul—menjadi pemandangan langka yang membuat jantung Dinda seketika meloncat pelan. Pipinya memerah tanpa ia sadari. Ada hangat lembut yang mengalir di dadanya, seperti embun yang tersapu sinar matahari.
Namun kemudian, ekspresinya berubah canggung.
“Tapi soal uang itu…”
Belum sempat ia selesai bicara, Alvaro memotong dengan nada tenang:
“Kamu nggak perlu mikirin buat ganti. Aku ikhlas.”
“Tapi Al… uang itu satu—”
“Sebagai gantinya,” Alvaro menyisip cepat, “traktir aku makan aja.”
Langkah Dinda terhenti setengah detik, matanya membesar.
“Kamu… serius?” Ia hampir kehilangan suara. “Tapi uang yang kamu kasih itu besar sekali, Al…”
Alvaro berhenti berjalan. Ia menatap Dinda langsung—tatapan yang tenang, dalam, dan membuat Dinda nyaris lupa bernapas.
“Dinda.”
Nada suaranya lembut namun tegas, seperti guratan pena yang tak bisa diganggu-gugat.
“Aku membantu karena aku mau. Karena kamu temanku. Bukan karena aku ingin imbalan apa pun. Jadi…” Ia menepuk pelan buku yang dipeluk gadis itu.
“Jangan bikin itu jadi beban. Oke?”
Dinda menunduk.
Pipinya semakin merah.
“Baiklah…” bisiknya — suara yang nyaris hilang tertiup angin.
Mereka kembali berjalan. Tapi kini ada jarak yang lebih… hangat. Seperti langkah mereka sinkron tanpa disadari. Mahasiswa lain yang lewat bahkan beberapa kali menoleh — jarang melihat Dinda berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki, apalagi dengan ekspresi lembut begitu.
Dalam hati kecilnya, Dinda berkata pelan:
“Alvaro… kok dia terlihat makin dewasa ya… makin tenang.Dan… entah kenapa… dia kelihatan jauh lebih tampan dari dulu…”
Pikirannya kacau.
Jantungnya tak karuan.
Ia menunduk memandangi ujung sepatunya sendiri, berusaha menyembunyikan pipinya yang makin memanas. Ini bukan perasaan yang biasa ia rasakan. Bahkan di SMA dulu, ketika banyak laki-laki mencoba mendekatinya, ia tak pernah sekalipun merasakan detak secepat ini.
Sementara itu, Alvaro tetap berjalan dengan ekspresi tenang. Seolah ia tidak menyadari bagaimana gadis di sampingnya berjuang menutupi kegugupan.
“Oh iya Din,” ucap Alvaro tiba-tiba, “ntar sore ada kelas ekonomi mikro, kan?”
“Iya… aku ikut kelas itu.” Dinda menjawab cepat, terlalu cepat, dan ia menutup mulutnya karena malu.
Alvaro menoleh sedikit. “Kamu kenapa? gugup?”
“Eh!? Ngg—nggak! Siapa juga yang gugup…”
Alvaro tersenyum tipis. “Kalau kamu mau, kita bisa belajar bareng nanti.”
Langkah Dinda langsung terhenti sejenak — seperti tubuhnya tidak menerima perintah dari otaknya.
“Be… belajar bareng?”
“Iya.”
Alvaro melanjutkan berjalan. “Aku tahu kamu sibuk jaga ayahmu akhir-akhir ini, pasti ketinggalan materi sedikit.”
Dinda buru-buru menyamakan langkahnya.
“A-aku mau! Maksudku… boleh… kalau kamu nggak keberatan…”
“Nggak masalah. Nanti hubungi aku aja.”
Dalam hati Dinda, bunga-bunga kecil seperti bermekaran. Tanpa ia sadari, senyum manis menghiasi wajahnya sepanjang jalan.
Mereka melangkah melewati gerbang tengah kampus. Cahaya matahari memantul dari kaca gedung fakultas, menyinari dua sosok yang berjalan berdampingan — satu dengan langkah tenang dan tatapan dingin, satu lagi dengan pipi merona dan senyum yang sulit disembunyikan.
Bagi mahasiswa lain yang melihat, pemandangan itu menimbulkan bisik-bisik kecil.
Namun bagi Dinda — pagi itu terasa seperti awal dari sesuatu yang ia sendiri belum mengerti.
Perasaan yang selama ini tak pernah ia izinkan masuk… kini mulai mengetuk perlahan.
Dan bagi Alvaro… Meski dia tidak menunjukkan apa-apa, langkahnya menjadi sedikit lebih ringan dari sebelumnya.