BAB 20 Sebuah Panggilan

898 Words
Pagi itu masih muda ketika Alvaro berdiri di lantai dua sebuah kafe besar yang baru saja ia kunjungi. Aroma kopi, suara gelas beradu, serta gumaman para pelanggan menjadi latar yang samar di belakang punggungnya. Pelayan yang tadi menemuinya kini berdiri di samping seorang pria paruh baya berperawakan tegas. Rambutnya memutih di sisi, namun sorot matanya masih tajam, menandakan pengalaman panjang sebagai pebisnis. “Pak, ini pemuda yang tadi bilang tertarik membeli kafe,” ucap pelayan itu sedikit ragu. Pemilik kafe yang dipanggil orang sebagai Pak Surya mengalihkan pandangannya kepada Alvaro. Ia memindai anak muda itu dari ujung rambut ke ujung kaki. Kaus polos, celana jeans biasa, sepatu yang tak mencolok. Tidak ada gelang emas, tidak ada jam tangan ratusan juta, tidak ada aroma orang yang sedang memegang puluhan miliar. Justru Itulah yang membuat Pak Surya mengangkat alis. “Kamu… mau beli kafe ini?” tanyanya. Nada suaranya seperti seseorang yang sudah terlalu sering dikecewakan calon pembeli yang hanya bisa menawar, tapi tak punya uang. Alvaro mengangguk santai. “Iya, Pak. Saya tertarik.” Pak Surya terkekeh kecil. “Nak, kafe ini bukan harga ratusan juta. Banyak orang, bahkan yang datang pakai mobil mewah—kabur setelah saya sebutkan harganya. Kamu yakin?” “Saya tidak datang untuk menawar,” jawab Alvaro tenang. “Hanya ingin memastikan apakah masih bisa dibeli.” Pemilik itu bersedekap. “Harganya lima belas miliar. Itu harga pas. Tidak bisa kurang. Sertifikat hak milik, bangunan dua lantai, semua perabot, lisensi usaha, dan catatan keuangan saya serahkan.” Pelayan yang mendengarkan hanya bisa menatap Alvaro seperti menunggu ia menyerah dan pamit. Namun Alvaro hanya mengucapkan satu kalimat: “Baik. Saya beli.” Pelayan itu refleks terbatuk. Pak Surya terdiam beberapa detik, lalu tertawa pendek seolah memastikan telinganya tidak salah bekerja. “Heh… katamu apa tadi?” “Saya beli. Lima belas miliar. Hari ini juga.” Pak Surya menyipitkan mata. “Nak, ini bukan angka main-main. Kamu jangan buang-buang waktuku.” Alvaro merogoh ponselnya. “Kita ke notaris terdekat saja, Pak. Kalau Bapak mau.” Keheningan menggantung. Pelayan itu bahkan sampai menelan ludah keras. Dan akhirnya… “Baiklah,” kata Pak Surya sambil menghela napas panjang. “Kalau kamu benar-benar bisa bayar, kita selesaikan hari ini.” Prosesnya lebih cepat dari dugaan. Di kantor notaris, tidak ada drama, tidak ada keraguan. Alvaro menandatangani akta jual beli seolah ia hanya membeli sepasang sepatu. Tanpa berdebat. Tanpa tawar-menawar. Tanpa ekspresi berubah. Pak Surya, yang awalnya meremehkan, kini justru menatap Alvaro dengan campuran takjub dan bingung. “Anak muda sepertimu… dapat uang dari mana?” tanyanya hati-hati setelah transaksi selesai. Alvaro hanya tersenyum tipis. “Itu tidak penting, Pak. Yang penting sekarang, kafe ini sudah menjadi milik saya.” Pak Surya tidak bertanya lagi. Ada sesuatu pada tatapan Alvaro yang membuatnya memilih diam. Setelah serah terima sertifikat dan dokumen selesai, Alvaro keluar dari kantor notaris dengan langkah tenang. Matahari pagi memantulkan cahaya ke wajahnya, membuat sorot matanya tampak lebih dalam. Begitu ia melangkah, suara notifikasi muncul di udara, suara yang hanya bisa ia dengar. [Transaksi diterima. Anda mendapatkan 600 poin.] Alvaro tersenyum kecil. “Lumayan. Ini baru awal.” Ia memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan santai menuju kampus. Angin pagi bertiup lembut, membawa bau aspal yang menghangat dan aroma dedaunan basah. Hari baru terasa damai. Namun kedamaian itu hanya bertahan beberapa langkah. Ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat dahi Alvaro mengerut pelan. Tante Mira.Mama Selena. Alvaro berhenti sejenak. Udara di sekitarnya seakan berubah lebih berat. Ia mengangkat telepon itu perlahan. “Halo, Tante.” Suaranya datar, sopan, tapi tidak hangat. Suara di seberang langsung terdengar panik. “Al… kamu sama Selena, kan? Dari hari Sabtu dia belum pulang!” suara Tante Mira terdengar gemetar. “Katanya mau kerjakan tugas kampus. Tapi setelah tante tanya ke teman-temannya… tidak ada satupun yang tahu dia di mana.” Alvaro memejamkan mata perlahan. Ada jeda sebelum ia menjawab. “Maaf, Tante. Aku benar-benar tidak tahu Selena ada di mana. Kami… sudah putus. Aku sudah tidak pernah komunikasi lagi dengan dia.” Hening. Hening panjang. “Ap—apa?” suara Tante Mira pecah. “Kalian… putus? Tapi kenapa, Al? Selena tidak cerita apa-apa! Tante pikir kalian baik-baik saja. Kamu anak baik, Al. Tante senang dia sama kamu…” Alvaro menarik napas dalam. “Keputusan Selena sendiri, Tante. Aku hanya menghormatinya.” “A..Al, tunggu dulu…” “Nanti kalau aku melihat dia di kampus, aku kabari. Itu saja, Tante. Saya harus berangkat.” Sebelum suara panik itu kembali terdengar, Alvaro menutup panggilan. Ia menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dan dari bibirnya keluar gumaman rendah: “Jadi benar… Darren membawanya pergi.” Ingatan buram malam perpisahan itu melintas jelas—Darren berdiri sambil menahan senyum kemenangan, Selena memalingkan wajah, dan ucapan yang membakar d**a Alvaro: "Mulai malam ini, Selena tidur sama gue, bro." Rahangnya mengeras. Matanya kosong sejenak. Namun setelah beberapa detik, ia mengembuskan napas perlahan, meredam sisa emosi yang coba menyusup kembali. Dia lalu berbisik, dingin, hampir tanpa perasaan: “Bukan urusanku lagi. Dia yang memilih meninggalkan semuanya demi b******n itu.” Angin pagi kembali berhembus, seolah berusaha menghapus sisa-sisa kekesalan di wajahnya. Alvaro mulai melangkah lagi menuju kampus, mantap dan tenang. Tidak terburu-buru, tidak limbung, seakan dunia bukan sedang merapatkan krisis di sekelilingnya. Di belakangnya, matahari terus naik, menerangi punggung seorang pemuda yang semakin melangkah menuju takdirnya sendiri, dengan kekuatan, ambisi, dan sebuah sistem yang terus menuntunnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD