Pagi merekah perlahan, seperti tirai emas yang disibakkan dari ufuk timur. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, memantulkan cahaya lembut yang menari-nari saat angin sejuk melintas. Di sudut sebuah perumahan mewah, sebuah rumah berlantai dua berdiri tenang. Dari salah satu kamar, terdengar suara gesekan kecil, Alvaro tengah merapikan kerah bajunya di depan cermin.
Ia menatap pantulan dirinya: jaket tipis, celana denim sederhana, rambut sedikit berantakan tapi tetap rapi. Seorang mahasiswa ekonomi bisnis yang dalam diam, menyimpan kekuatan dan rahasia yang bahkan teman-temannya belum pahami sepenuhnya.
“Semester satu, tapi hidup sudah tidak normal lagi,” gumamnya kecil sambil mematikan lampu kamar.
Alvaro keluar dan berjalan santai menuju ruang makan. Aroma roti bakar yang masih hangat membuat perutnya sedikit lapar.
“Pagi, Kak!” suara ceria menyambutnya.
Dina duduk manis di kursi makan, seragam sekolahnya rapi sekali, rambut dikuncir, wajah berseri. Meja itu sederhana, tapi terasa hangat: dua piring roti bakar, s**u, dan secangkir teh yang masih mengepul.
“Pagi, Din,” ucap Alvaro sambil duduk dan menggigit roti. “Nanti ke sekolah diantar Pak Mamat, ya. Dan pulangnya juga dijemput. Jangan berkeliaran sendiri.”
Dina tersenyum manja, seperti biasa setiap kali diperhatikan oleh kakaknya.
“Iyaaa, Kak… aku ingat kok. Kamu cerewet kayak mama.”
Alvaro hanya tertawa ringan.
Sarapan selesai cepat. Alvaro mengambil tasnya. Namun, baru beberapa langkah pergi dari meja, Dina berdiri terburu-buru, bahkan hampir menabrak kakaknya.
“Kak! Ehm… anu…” Dina menunduk, jari-jarinya saling meremas. “Boleh… minta uang? Aku nggak pegang uang sama sekali hari ini…”
Tatapannya memohon. Alvaro tahu adiknya bukan tipe yang suka minta macam-macam. Biasanya ia selalu menunggu diberi.
Alvaro mendesah kecil, mengeluarkan ponsel dari saku.
“Diam.”
“Eh?”
“Maksudnya diam sebentar.”
Beberapa ketukan di layar… Lalu bunyi notif: Transfer Rp100.000.000 Berhasil.
Alvaro menepuk kepala adiknya pelan. “Udah Kakak kirim. Jajan sepuasnya. Nggak apa kalau habis. Nanti Kakak transfer lagi.”
Dina membeku sejenak. Lalu, “KAAAAK!!!” Dina melonjak dan mencubit pipi Alvaro gemas. “Aku sayang banget sama Kakak!!”
Ia berlari kecil menuju mobil, masih sambil tersenyum lebar.
Namun Alvaro tidak ikut tersenyum.
Karena… tidak ada notifikasi poin.
Alvaro mengernyit dan melakukan mental command. “Sistem. Kenapa tidak ada tambahan poin?”
[Sistem]: Poin hanya diberikan apabila pengguna membelanjakan uangnya sendiri. Transfer kepada orang lain tidak terhitung sebagai aktivitas konsumsi.
“Hm… jadi begitu,” gumamnya. “Transfer nggak masuk hitungan. Berarti aku harus belanja sendiri. Dalam jumlah besar.”
Ia mulai berjalan keluar rumah, memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Di dalam mobil, Dina akhirnya membuka ponselnya. Begitu layar menyala…
“APA?! 100 JUTA?!” jeritnya tertahan.
Ponsel itu sampai terlepas dan jatuh ke kaki Pak Mamat.
“Lho, Mbak Dina? Ada apa?!” tanya sopir itu panik.
“T-t-tidak apa-apa Pak… Kak Varo… kok bisaaa?!” gumamnya sambil menutup mulutnya sendiri, antara terkejut, bahagia, dan bingung.
Alvaro memilih berjalan kaki menuju kampus. Hanya lima menit perjalanan dari rumahnya. Kalau naik mobil justru memutar.
Pikirannya sibuk mencari cara untuk membelanjakan uangnya dengan benar, bukan hanya asal membeli.
“Renovasi? Properti? Investasi fisik? Barang mewah? Apa yang bisa menghasilkan pengeluaran besar tapi tetap masuk akal…”
Langkahnya terhenti.
Di sisi jalan menuju kampus, berdiri sebuah bangunan café dua lantai. Desainnya modern, area parkirnya luas, dan sudah ramai pengunjung meski masih pagi.
yang paling menarik perhatiannya adalah:
DIJUAL
(tertera nomor WA pemilik) Tanpa perantara.
“Café… dua lantai… ramai… interior masih lengkap…” Alvaro mendekat. “Ini bisa jadi tempat belanja besar-besaran…”
Ia masuk ke dalam. Aroma kopi pekat bercampur roti panggang menyambutnya. Pelayan-pelayan sibuk. Musik lembut mengalun.
Alvaro mendekati salah satu pelayan wanita yang tengah merapikan nampan.
“Mbak,” panggilnya sopan. “Apa café ini benar dijual?”
Pelayan itu menoleh. Ia melihat Alvaro dari atas sampai bawah—kaos polos, jaket biasa, celana denim, penampilan mahasiswa biasa. Bukan calon pembeli café miliaran.
“Iya, benar,” jawabnya. “Banyak yang mau beli, tapi begitu dengar harganya… langsung mundur semua.”
“Aku tertarik untuk membelinya.” suara Alvaro datar, tapi tegas.
Pelayan itu terdiam. Menatap Alvaro lagi. Lebih lama.
“Serius, Dik? Ini… bukan murah. Ini miliaran. Kamu yakin mampu?”
Alvaro tersenyum tipis. “Jangan menilai buku dari sampulnya, Mbak.”
Pelayan itu menelan ludah. Ia tidak mengerti kenapa pemuda ini terlihat… begitu yakin.
“B-begini,” katanya ragu. “Pemilik café sedang di lantai dua. Kalau memang kamu serius, ikut saya.”
“Baik.”
Alvaro mengikuti pelayan itu menaiki tangga menuju lantai dua.
Sambil naik, matanya menangkap interior café—kursi-kursi kayu modern, lampu gantung elegan, barista sibuk meracik kopi. Semuanya masih lengkap dan terawat. Lantai dua pun penuh pengunjung. Setiap meja terisi.
“Tempat ini… sangat potensial,” gumamnya pelan.
Di kepalanya, ide-ide mulai bermunculan:
Renovasi total. Ruang VIP di lantai dua. Interior premium.
Baru kemudian membeli alat mewah—sound system, kursi impor, dekorasi mahal…
“Kalau tempat ini aku yang kelola… pengeluaran bisa dalam jumlah besar,” desisnya sambil tersenyum.
Pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu kecil dengan plakat Staff Only.
“Pemiliknya ada di dalam,” ucapnya. “Tapi… saya masih ragu, Dik. Kamu benar-benar mau beli café ini?”
Alvaro mengerling pelan. “Uang bukan masalah, Mbak. Yang penting, aku tahu apa yang ingin kulakukan.”
Pelayan itu terpana sesaat.
Alvaro kemudian membuka pintu itu perlahan…
Dengan langkah Alvaro memasuki ruang pertemuan kecil di lantai dua café, tempat takdir barunya menunggu.