Markas besar Geng Kobra terletak di sebuah gudang tua di pinggiran Kota Bandung — bangunan besar dengan atap seng berkarat dan tembok penuh coretan simbol ular berkepala dua. Biasanya tempat itu ramai oleh suara musik keras, tawa bar-bar anggota geng, dan deru motor. Namun malam ini berbeda.
Malam ini, udara dipenuhi ketegangan.
Di tengah aula, sekitar seratus anggota Geng Kobra berdiri membentuk lingkaran besar. Tatapan mereka tertuju pada seorang pria berbadan kekar dengan rambut cepak dan tatapan setajam parang. Dialah Bobby Pradipta, pemimpin utama Geng Kobra, pria yang namanya ditakuti geng-geng lain di wilayah barat Bandung.
Tangan Bobby mengepal. Otot-ototnya mengeras seolah siap meledak. Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh kurus namun tinggi — Dino, pemimpin cabang Geng Kobra yang sebelumnya memimpin tiga puluh anggota saat menghadapi Alvaro.
Tangan dan wajah Dino penuh memar, namun bukan karena Alvaro — melainkan karena amarah Bobby tadi.
“Jadi,” suara Bobby menggelegar, mengisi ruangan dingin itu, “kau bilang kalian tidak kalah, hanya karena polisi datang menyalak seperti anjing?”
Dino menelan ludah. “K-ketua… kami hampir menang. Tapi ….”
PLAARRR!
Tamparan Bobby mendarat keras di pipi Dino. Kepala Dino terpelintir ke samping. Darah menetes dari sudut bibirnya.
“Hampir menang?” Bobby menggeram. “Kalau benar mau menang, mana kemenangannya? Mana Alvaro? Mana buktinya?”
Ia mengambil remote kecil dan menyalakan proyektor portabel yang menyorot ke dinding. Video mulai diputar.
Gambar yang muncul adalah rekaman Alvaro — sendirian — menghajar puluhan anggota Geng Kobra seorang demi seorang dengan gerakan cepat dan mematikan. Potongan video itu telah viral di media sosial sejak subuh tadi.
Terdengar suara riuh tawa dari komentar netizen.
“Geng Kobra keren apa cupu sih?” “SMA aja kalah ngelawan sendirian HAHAHA.” “Bubar aja lah geng kaleng-kaleng.”
Bobby menahan napas, rahangnya bergetar.
Ia menunjuk video itu dengan tatapan membunuh. “Lihat baik-baik! Mereka tertawa! Tertawa karena kalian dipermalukan!”
Dino merunduk. “Ketua… kami disergap, kami ….”
BUK!
Satu pukulan telak mendarat di perut Dino. Pria itu terjatuh, terbatuk keras, tubuhnya terlipat kesakitan.
Bobby mendekat perlahan, langkahnya berat seperti derap kemarahan. “Tiga puluh anak buahmu tumbang… baru satu orang, Dino. SATU. ORANG.”
Ia menunduk, menatap Dino yang mengerang.
“Dan kau menyalahkan polisi?” Nada suaranya rendah, dingin, berbahaya.
Dino memejam, ketakutan. “M-maaf, ketua… aku tak bermaksud—”
Bobby menggertakkan gigi. “Alvaro…” namanya saja sudah membuatnya muak. “Anak b******k itu berani mempermalukan Geng Kobra—di depan masyarakat—seperti kita ini sampah!”
Tepat setelah kata itu terlontar, seluruh anggota Geng Kobra berteriak serentak, dipenuhi adrenalin.
“HUOOOOO!!!”
Beberapa menghentakkan kaki, beberapa mengacungkan knuckle dan rantai besi. Nafsu dendam menggelegak seperti bara dalam ruang sempit.
Bobby mengangkat tangan, dan ruangan langsung hening.
“Mulai malam ini,” katanya tajam, “kita tidak hanya mencari Alvaro.”
Ia menatap ke seluruh penjuru, memastikan setiap mata melihat dan mendengar.
“Kita akan memburunya. Kita akan membuatnya menyesal lahir ke dunia ini.”
Geng bergemuruh. Teriakan simpang siur memenuhi udara:
“Ratakan dia!” “Balas harga diri kita!” “Cari dia sampai ketemu!”
“Hajar!”
Bobby mengangkat ponselnya, memperlihatkan video Alvaro yang memukul jatuh anggota-anggota Geng Kobra.
“Video ini sudah menyebar ke mana-mana. Semua geng sekarang menertawakan kita. Mereka bilang Kobra sudah ompong… mereka bilang kita sudah kalah… mereka bilang kita LEMAH!”
Nada Bobby naik drastis pada kata terakhir.
Seluruh ruangan bergolak.
Dino yang tersungkur berusaha berdiri lagi, walau tubuhnya gemetar. “Ketua… beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan—”
Bobby mendengus. “Satu kesempatan? Kau sudah menggunakan tiga.”
Dino bergidik.
Bobby lalu memutar video bagian lain: rekaman wajah Alvaro yang tak terpengaruh meski dikerubuti belasan orang. Ketenangan Alvaro, sorot matanya yang dingin, dan caranya menangkis serangan dengan presisi membuat beberapa anggota Geng Kobra menelan ludah.
Ketua itu menunjuk layar. “Lihat baik-baik muka itu. Tatap sampai namanya terukir di otak kalian.”
Ia menurunkan jarinya perlahan.
“Dia musuh Geng Kobra. Dan musuh Geng Kobra… tidak boleh dibiarkan hidup tenang.”
Anggota geng kembali berteriak, lebih brutal dari sebelumnya.
“ALVARO MATI! ALVARO MATI! ALVARO MATI!”
Bobby mengangkat kedua tangannya, menghentikan teriakan itu.
“Kita akan menyisir setiap sudut Bandung. Rumah kontrakannya sudah kosong—bagus.”
“Kita akan cari ke sekolahnya.” “Kita akan cari ke kampusnya.”
“Kita akan cari ke teman-temannya.”
Ia menatap tajam ke arah Dino.
“Dan jika kau gagal lagi, Dino… kau tidak perlu kembali ke markas ini.”
Dino menunduk dalam-dalam, wajahnya pucat pasi. “Aku mengerti, Ketua…”
Bobby kemudian berbalik dan berbicara lantang.
“Untuk semua anggota—mulai malam ini, operasi pencarian dimulai! Tidak ada yang tidur sebelum menemukan jejak Alvaro!”
Seluruh anggota Geng Kobra berteriak seperti kawanan hewan buas.
“KOBRA!!!”
“VENOM!!!” balas yang lain.
Bobby mengacungkan tangan, menyatukan semangat mereka.
“Kita akan membuktikan pada seluruh kota… bahwa Kobra tidak pernah kalah. Tidak akan pernah.”
Seratus anggota mengangkat senjata masing-masing rantai, tongkat baseball, dan besi tumpul , lalu menghentakkan ke lantai dengan irama menggetarkan.
DUM!
DUM!
DUM!
Bobby tersenyum bengis.
“Bersiap. Pemburuan dimulai… sekarang.”
Dan malam itu, markas Geng Kobra mengaum penuh kebencian. Ratusan motor mulai dinyalakan. Raungan mesin memecah kesunyian malam.
Perburuan terhadap Alvaro kembali dimulai.
Dan mereka tidak akan berhenti… sampai salah satu dari mereka tumbang.