“Kasian Farhan, Adek. Dia anak hilang,” ujar Mas Zein dari seberang sana. Kata Tante Seina, Farhan disaranin oleh Mas Zein untuk menginap di rumah ini selama dia di Shinjuku. Papa dan juga suami Tante Seina setuju. Aneh, kenapa juga pada setuju. “Jangan cari kesempatan, ya, Adek. Nanti langsung dibawa ke KUA kayak Ganda,” lanjutnya mengingatkanku melalui sambungan video call. Zein tersentak saat dilempar gumpalan tisu, aku yakin Ganda yang melakukannya. Saat ini mereka sedang ngopi ganteng di G Coffee. “Sudah, Asya mau tidur. Matiin video call-nya,” kataku dan Zein mengangguk setuju. “Oke, Adek. Ingat jangan cari kesempatan—” “Harus memanfaatkan kesempatan dong, mana boleh dilewatkan,” pangkasku mengedipkan sebelah mataku, nakal—membuat Zein membulatkan matanya. Saat dia hendak protes,

