Aku duduk di meja makan, mengamati Farhan yang tampak begitu lahap menikmati setiap suap makanan yang kusajikan. Senyuman kecil tersungging di bibirku melihatnya. Rasanya seperti sebuah penghargaan yang tulus, melihat orang lain menghargai masakanku. Papa dan Tante Seina juga terlihat menikmati makanan mereka. "Masakannya enak sekali, aku suka," ujar Farhan di antara suapan, matanya sejenak menatapku dengan hangat. Ada sesuatu dalam cara dia memujiku yang membuat pipiku sedikit merona, meski aku berusaha menutupinya dengan menyibukkan diri makan. “Masakan Asya memang terbaik,” tambah Papa. “Tambah lagi, Farhan,” kata Tante Seina yang lebih dulu menambah lauk ke piringnya. Makan siang itu berlalu dengan hangat, penuh canda dan obrolan ringan. Aku merasa begitu nyaman. Setelah makan, ak

