Tragedi Kandang Ayam
Gruubug... Gruubug... Keok.. Keok.. Suara lengkingan ayam yang di paksa keluar dari kandang mengusik tenangnya malam yang sunyi.
Hanya berselang satu menit. “Wooyy ... Siapa disana?!” Darwin celingak celinguk memperhatikan setiap celah yang ada di kebun belakang rumahnya.
Sorot lampu senter yang sangat terang Darwin tunjukan pada kandang ayam tingkat dua miliknya. Tampak sesosok manusia mengenakan kaos oblong berwarna hitam sedang berjongkok di depan kandang ayam kampung miliknya. Aktivitasnya mendadak terhenti, ayam yang di genggamnya menjadi tenang karena tekanan dan paksaan pada tubuhnya terasa begitu longgar saat ini.
“Heh! Siapa kamu?! Mau maling ya?! Eh kamu beneran mau malingnya?” Darwin garuk-garuk kepala dan tubuhnya bergetar karena gugup. “Ibu... cepat kesini Bu!” ada yang lagi maling ayam kita!” teriak Darwin histeris.
Seorang wanita paruh baya lari tergopoh mendekati sumber suara. “Ada apa Pak? ada apa? Ada maling? Cepat tangkap!” teriak Winarsih yang sama histerisnya.
Kedua pasangan suami istri itu lantas bergegas mendekati sosok yang belum di kenalinya itu. Pria itu sedang sibuk memasukkan ayam betina berbadan gemuk ke dalam karung yang di dalamnya sudah tertimbun lebih dari sepuluh ekor ayam kampung jantan dan betina. Seorang bertubuh kekar khas pria dan memakai kain penutup kepala khas seorang pengecut yang suka mengambil sesuatu yang bukan haknya itu sempat menoleh hingga memutuskan untuk lari dan membiarkan ayam betina gemuk itu lepas.
Darwin mengambil batu bata yang ada di dekat kakinya. Dengan kekuatan penuh ia melempar batu bata itu tepat di kepala sang predator ayam miliknya. Lemparan nya tidak menimbulkan efek apa pun, predator itu tetap melangkah cepat melewati semak di kebun belakang milik pak RT, hingga batu asli berwarna hitam yang padat dan berukuran sebesar kepala bayi itu melayang dari hempasan tangan Winarsih dan membuat tanah sedikit bergetar.
“Aaaawwww... Sakiiittt!” Jeritan dari seorang predator ayam itu memecah keheningan malam yang sunyi.
“Nah kena Bu! Ih ibu pinter!” celoteh Darwin sambil berlari mendekati sosok yang telah menggondol ayam peliharaannya.
Sunggingan bibir Winarsih terbias. “Aku memang keren toh ... ototku ku ini memang tiada tandingannya ... Cuma masalah seperti ini mah libas,” ucapnya bangga sambil membuntuti langkah sang suami.
Darwin langsung menindih sosok predator ayam yang sedang sibuk memegang kepalanya yang abis di toyor batu alam. Winarsih yang tidak kalah lincah dengan suaminya langsung melucuti kain penutup kepalanya. Tampak segurat wajah yang tidak asing bagi Winarsih dan Darwin, seorang anak yang dulunya sering di beri makan karena ibunya telah berpulang sejak ia berusia enam tahun.
“Didin Darkojin!” ucap Darwin tidak percaya dengan yang ia lihat.
Pria muda menunduk. “Diego Santiago pak RT bukan Didin,” celotehnya tanpa mengangkat wajahnya.
Plaaaakkk ... kibasan tangan Winarsih mengeplak kepala Didin. “Diego ... Diego ... ai kamu teh sejak kapan ganti nama hah?!” pekiknya gemas.
Darwin memegangi kedua tangan Didin ke belakang dan menggiringnya ke depan pintu belakang rumahnya. Sementara Winarsih sibuk memanggul karung yang berisi ayam kampung peliharaannya. Dari bibir pintu yang terbuat dari kayu jati asli tampak sesosok gadis berambut ikal cantik dan mengenakan piama tidur bernuansa polkadot mengernyitkan dahi memandang pemandangan aneh yang baru di jumpainya.
“Ada apa Pak?” tanya gadis muda dengan lembut.
“Ada yang mau maling ayam kampung kita, mana sekarung lagi!” pekik Darwin kesal sambil mendorong tubuh Didin.
“Siapa?” tanya gadis muda.
Pia muda itu mendongkak, kini pandangannya bertemu dengan sang gadis yang berdiri di depan pintu. “Diego Santiago,” ucap gadis muda dengan heran.
“He-he-he, Shinta. Apa kabar?” celoteh Diego sambil mengedipkan mata.
Shinta berlari kecil mendekati sang ayah dan pemuda yang baru mengejutkannya dengan tuduhan pencurian ayam itu. Shinta mematung, menatap setiap detail dari wajah dan kondisi tubuh Diego. Tampak benjolan di kening kiri Diego karena batu alam yang melayang itu.
“Ah Diego ... Diego ... Didin namanya, gimana ceritanya jadi Diego?!” pekik Darwin kesal.
Shinta yang sibuk memperhatikan dan meraba benjolan di kening Diego tidak menghiraukan ucapan ayahnya. Winarsih menghampiri sesaat setalelah seluruh ayamnya kembali ke kandangnya masing-masing. Diego yang masih di pegangi Darwin langsung di tarik Winarsih yang tubuhnya dua kali lebih besar di banding Darwin.
Bruukk ... tubuh Diego terhempas ke tanah.
“Kenapa kamu nekat mencuri?!” tanya Winarsih tegas.
Shinta menarik pelan tubuh besar ibunya beberapa langkah ke belakang. “Ibu, ibu jangan sentak-sentak Diego, aku yakin dia tidak bersalah,” lirih Shinta memohon.
“Ih ai kamu tu sehat apa terlampau sehat Shinta?” bola mata Winarsih membulat sempurna. “Ngga bersalah? Dilihat dari mananya tidak bersalah hah?” decak Winarsih kesal.
“Diego kan ngga punya orang tua Bu, barangkali dia sedang kepepet tidak memiliki uang untuk makan? Bukankah kita yang berdosa jika tetangga kita ada yang sampai kelaparan? Hingga berbuatan ini terjadi aku yakin, ayah dan ibu sebagai ketua di lingkungan ini akan di tuntut pertanggung jawabannya nanti di akhirat,” tegas Shinta.
“Shinta kamu kenapa?” tanya Darwin heran. “Yang kamu sebut kelaparan itu seperti apa? Coba kamu lihat, dia pemuda yang kekar, dia juga punya kendaraan bakal dia mengojek tiap harinya, dia masih punya ayah dan ibu sambung, kakak dan iparnya juga masih ada, kenapa kamu malah memojokkan kita dan bela dia?”
cecar Darwin kesal.
Shinta terdiam, netranya berkaca. “Ayah, ibu kan ayamnya juga ngga jadi diambil, itu ayam kan udah kembali lagi ke kandangnya,” lirih Shinta menitikkan air mata.
“Ya iyalah ngga jadi di bawa, kan ibu gagalin! Udah kamu ke dalam sekarang juga! Maling ya tetap maling, harus berani bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia kerjakan tanpa pikir panjang! Di kira ngga capek apa mengurusi ayam hidup? Itu bukan satu dua ekor loh, kamu tahu ngga berapa ekor ayam yang ada di dalam karung Shinta? Ada sebelas ekor!" bentak Winarsih sambil melotot ke arah putrinya.
Darwin menarik Diego agar berdiri. “Bangun kamu! Aku bawa kamu ke bale desa biar di arak keliling desa! Tuman!” pekik Darwin.
Diego hanya menunduk, dan sesekali mendelik curi-curi pandang dengan gadis pak RT. Wajahnya memelas dan di sudut keningnya terlihat kucuran dar*h mengalir tipis di pelipis. Shinta yang melihat kondisi itu langsung sujud di kaki ayahnya.
“Ayah please jangan bawa Diego ke bale desa, maafin dia ayah. Aku janji aku mau kuliah kedokteran sesuai keinginan ayah dan ibu kalau gitu,” lirih Shinta memohon.
Darwin dan Winarsih salung bertatapan, kemudian keduanya menatap Shinta. “Serius kamu mau daftar kuliah kedokteran?” tanya Winarsih penasaran.