Mentari pagi menyeruak masuk ke celah-celah kamar yang biasanya gelap dengan gorden. Tubuh kekar yang menggeliat di atas kasur lantai yang sudah sangat dekil dan lusuh. Di lihatnya ponsel jadul yang di ikat dengan karet karena baterainya mengembung.
Huuuaaa ... rahangnya terbuka lebar dan tampak rona merah tenggorokannya. Netranya yang cukup rapat dengan kotoran mata di kucak-kucak dengan kasar. Tubuh lelahnya di paksa untuk duduk meskipun batinnya menginginkan istirahat lebih lama.
“Hmm ... sudah jam tujuh saja,” ucapnya sambil melihat layar ponsel jadulnya. “Hah ... jam tujuh ... shi*t aku kesiangan,” decaknya kesal.
Bergegas Diego melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dengan secepat kilat dia berganti pakaian dan menyisir rambut dengan hati-hati karena benjolan di keningnya masih terlihat sangat besar dan segar. Dengan senyum manis di depan kaca Diego memasang kacamata frame gold favoritnya.
“Yuuuuhuuu abang datang sayang!” teriaknya sambil menarik pedal gass pada kuda besi berwarna merah metalik.
Hanya berselang beberapa menit, Diego sudah stand by di pangkalan ojek tempat yang biasanya di gunakan untuk menjemput rezeki. Kawannya lebih banyak pria paruh baya yang sudah mulai mengerut kulit tubuhnya. Terpantau beberapa dari pria tua yang datang lebih dulu sedang menyantap sarapannya.
Kriiuukkk ... perut yang mengode untuk di beri haknya berbunyi cukup nyaring. Diego mengelus-elus perutnya pelan, matanya melirik ke dua orang pria paruh baya yang sedang asyik menyantap nasi uduk. Dia tersenyum getir sambil menunduk dan merogoh saku celananya yang tersisa hanya dua keping uang logam lima ratusan.
“Bang ... Bang Diego ... anterin Neng ke Sekolah ya.” Suara lembut membuyarkan lamunan Diego.
Wajahnya mendongkak, dan tampak sosok gadis cantik berseragam SMA berdiri di depannya dengan senyuman manis mengembang. “Ah Aulia cantik nan rupawan, tumben jam segini baru berangkat? Dikira abang Diego sudah kehilangan harapan untuk mengantarmu ke ruangan yang penuh dengan ilmu dan keceriaan,” cengir Diego sambil mengedipkan mata.
Aulia tersimpuh malu, “Iihh Abang, aku bangunnya kesiangan ini, bisa antar dengan kecepatan di luar rata-rata? Aku takut gerbang tertutup sebelum kita sampai,” papar Aulia sambil mencolek pinggang Diego.
“Aahhh itu mah soal gampang cinta, yang penting Neng Aulia berpegangan dengan erat pada pinggang Abang Diego yang tampan dan rupawan ini,” celoteh Diego sambil merapikan jambul rambutnya.
“Gasskeunn Bang ganteng,” timpal Aulia sambil menaiki kuda besi dengan cepat.
Kuda besi Diego melaju dengan kecepatan penuh untuk mengejar waktu yang hanya tersisa sepuluh menit hingga pagar sekolah di tutup. Rok seragam pendek yang di kenakan Aulia sedikit berkibar karena hembusan angin yang ditimbulkan oleh kecepatan kendaraan. Mata genit Diego melirik ke arah rok yang diabaikan Aulia karena sibuk memeluk pinggangnya efek kecepatan yang luar biasa.
Hanya lima menit perjalanan yang biasanya di tempuh dengan waktu sepuluh menit. Aulia merapikan rok dan rambut panjangnya. Sementara Diego nikmat menandangi wajah cantik Perempuan lugu di depannya.
“Ihhh Bang Diego kenapa liatin aku kayak gitu?” tanya nya malu sambil menepuk tangan Diego.
“Ngga apa-apa Sayang, kamu cantik banget sih Aulia, sudah punya pacar belum? “ tanya Diego sambil menggigit ujung bibir bawahnya.
Aulia tersimpuh malu, tangannya merogoh uang di saku baju seragamnya. “Aulia belum punya pacar Bang, ini uangnya terima kasih ya udah diantar tepat waktu,”
Diego melirik genit dan memajukan bibirnya, dan melihat uangnya ternyata pecahan lima pulih ribu. “Neng, uangnya lebihan banyak ini!” teriak Diego.
“Ngga apa-apa itu buat Abang, pulangnya jangan lupa jemput lagi ya Bang!" Teriak Aulia sambil melambaikan tangan.
Diego mencium uang itu dan kembali ke pangkalan dengan cepat untuk membeli sarapan. Ketika menikmati enaknya nasi bungkus dan tegukan teh hangat tawar, Diego melihat pemuda yang seusianya sedang membawa belanjaan ibunya yang sudah cukup sepuh dan berbadan sedikit bungkuk. Air matanya tidak terasa tanpa komando menetes dengan cukup deras mengingat mendiang almarhumah ibunya.
“Mak ... apa kabar mamak di surga? Mamak ingat ngga sama Diego? Sekarang Diego sudah besar mak ... Diego kesepian, kangen Mamak,” batin Diego sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.
***
Praaangg ... piring berisi nasi goreng hancur berkeping di lantai setelah di banting Darwin.
“Mau nya kamu apa? Semalam kamu minta ibu dan ayah bebasin itu maling! Sekarang kamu minta uang buat beli beras dan sembako buat dia! Shinta! Kamu sing eling! Dulu ayah dan ibu ngga pernah absen beri dia makan, kadang biaya sekolah dan beli buku pelajaran saja ayah bantu, tetapi apa balasannya?! Dia mau ambil satu karung piaraan ayah dan ibu!” teriak Darwin sambil melotot menatap Shinta.
Shinta menunduk sambil meremas telapak tangannya. “Perkara seperti itu harusnya tidak di bahas ayah, itu sudah kewajiban kita saling tolong menolong sesama manusia, apalagi kita tetangga dan ayah sebagai ketua RT selama dua puluh tahun."
Di ujung ruang tamu, tempat Shinta dan ayahnya berdebat, Winarsih berdiri memperhatikan. Sunggingan senyum yang terbias di bibir tebalnya sungguh sangat tampak jelas. Dengan helaan napas panjang langkah kaki kekar bak sumonya mendekat.
“Yang seharusnya menafkahi Didin itu ayahnya, dia masih punya ayah, bukan kita Shinta! Kamu paham tidak! Ibu rasa kamu memiliki rasa sama dia, kamu suka sama dia?” tanya Winarsih menginterogasi.
Shinta menoleh pelan ke arah ibunya. “Ibu, harusnya ibu paham sebagai seorang ibu bagaimana hancur hidupnya! Ayahnya menikah lagi dan kakak semata wayangnya sudah menikah, dia dari kecil sudah hidup mandiri ibu! Bahkan dia pernah ngamen untuk bisa makan dan sekolah!” Shinta berteriak kesal.
“Hmm ibu tahu kok, ibu bahkan lebih paham dia di banding kamu! Kamu lahir setelah dia, sedangkan ayah dan ibu kenal dia sebelum dia brojol dari rahim emaknya!” pekik Winarsih.
Darwin tidak ingin ada keributan di rumahnya. Kakinya melangkah ke tempat penyimpanan beras dan kembali dengan sekantung Kresek beras juga empat butir telur dan sebotol minyak goreng yang di gabung di keresek itu. Disimpannya keresek di atas meja tamu.
“Pergilah, temui dia dan sampaikan padanya, jika ingin pekerjaan yang layak, banyakin salat dan berdoa, dan jangan lupa doakan almarhum ibunya juga,” ucap Darwin yang kemudian melangkah menuju kamar meninggalkan Shinta dan Winarsih yang masih adu argumen.
“Pergilah temui dia, semoga dia bisa berubah,” timpal Winarsih yang kemudian menyusul suaminya.
Shinta menghembus napas kasar, kemudian mengambil plastik merah yang disiapkan ayahnya. “Hmm ribet amat jadi tua itu rupanya,” celotehnya sambil melenggang pergi.
Di tempat pangkalan ojek Shinta hanya melihat sepeda motor Diego. Di telusurinya sekeliling pangkalan ojek namun belum tampak juga, hingga Shinta bertanya kepada pria paruh baya kawan Diego dimana Diego berada. Pria paruh baya itu menunjuk ke arah kedai mie ayam yang sedang banyak tamunya.
Betapa kagetnya Shinta ketika melihat apa yang terjadi. “Bang Diego Santiago!” teriaknya.