Perdebatan Tiga Gadis

1067 Words
“Bang Diego Santiago!” teriak Shinta yang menggelegar bak petir di siang bolong. Namun bukan hanya Diego yang menoleh, tetapi dua gadis yang sedang bersamanya juga ikut menoleh ke sumber suara. Mata Diego berbinar, dan dengan spontan telapak tangannya di tempelkan di bibirnya yang sexy kemudian di bentangkan ke arah Shita yang sedang mematung. Lambaian tangannya seolah menyuruh Shinta mendekat. Dengan degup jantung yang seperti genderang akan perang, Shinta mendekati meja mie ayam. Di tatapnya dua gadis berseragam SMA itu dengan tatapan sinis. Tangan Shinta mengepal keras, gatal ingin memberi pelajaran pada dua gadis SMA yang duduk di kanan dan kirinya Diego, sementara Diego langsung keluar dari meja dan mendekati penjual mie ayam. Plaakkk ... tamparan mendarat di pipi Aulia salah satu dari dua gadis yang sedang makan bersama. “Aww sakit!” jerit Aulia. “Itu akibatnya kalau menggatal sama pria yang ngga seharusnya sama kalian! Kalian itu anak ingusan! Belajar aja yang bener! segala pengen makan bareng Diego! Gatal! Gatal! Gatal kalian berdua ini!” pekik Shinta. “Ih dasar ngga tau malu! Kamu yang seharusnya tahu diri! Kamu bukan siapa-siapanya Bang Diego kenapa ngatur-ngatur kami! Ngga usah kecentilan dan kecantikan kamu ya!” timpal Aulia tak mau kalah. Rahma mendorong tubuh Shinta. “Bilang aja kamu miskin Ngga bisa ajak Bang Diego makan!” “Ehhh bocil ... gegabah banget kamu ya! Uang aku banyak ya, emang kalian! Modal bekel jajan sekolah dan ngboongin orang tua buat beli buku aja belagu!” pekik Shinta gemas. Diego hanya tersenyum di dekat gerobak dan tangannya membentang melarang penjual mie ayam yang mau melerai tiga gadis yang sedang bertikai untuknya itu. Sambil menyedot air mineral kemasan, Diego membereskan rambut jambul yang tertiup angin. Sungguh pemandangan yang sangat membuat mood Diego menjadi mode on kembali. “Alah ... buktinya Bang Diego sangat menikmati waktu makan mie bersama kita! Itu artinya Bang Diego nyaman bersama kita!” bentak Aulia sambil menunjuk-nunjuk wajah Shinta dengan jari telunjuknya. Shinta langsung menepis jati telunjuk Aulia. “Nih lihat ya yang aku bawa! Ini ku bawa untuk Bang Diego! Baru jajanin Bang Diego mie ayam saja kalian sudah sombong!” pekik Shinta sambil menunjukkan kantong plastik berisi beras dan sembako ke wajah Aulia dan Rahma. Dengan langkah yang sedikit tergesa, Shinta mendekati Diego yang kini sedang tersenyum lebar kepadanya. Shinta menyodorkan kantong plastik berisi beras dan sembako itu kemudian kembali lagi mendekati dua anak SMA. “Kalian lihat! Orang tuaku sudah sangat sayang sama Diego! Mereka selalu memberi bahan-bahan makanan untuknya, tidak seperti kalian! Jadi jangan terlalu bermimpi kalian bisa dapat simpati lebih dan terlebih cintanya! Karena cintanya bang Diego itu hanya untuk aku ya!” pekik Shinta sambil berkacak pinggang. “Alah ... modal duit dan kebaikan orang tuanya aja belagu ya kamu! Kamu itu produk gagal! Kamu kakak kelas yang sudah lulus yang ngga ada kejelasan kuliah ngga, kerja apalagi, bisanya Cuma ngehalu bisa bersanding dengan bang Diego ha-ha-ha kasihan!” Aulia menjulurkan lidahnya, matanya membulat sempurna meledek Shinta. Diego hanya tersenyum-senyum melihat ketiga gadis itu berdebat. Dan membisikan ke telinga penjual mie ayam bahwa dia memang terlahir dan di takdirkan menjadi seorang pemuda tampan idaman banyak kembang desa. Ketika sedang tertawa dengan stamennya, Diego melihat Indah Rembulan lewat mengendarai sepeda listrik, tanpa tapi dan nanti Diego langsung berlari ke pangkalan ojek sambil menjinjing kantong plastik dari Shinta dan menancapkan gas untuk membuntuti Indah tanpa mempedulikan perdebatan yang masih berlangsung diantara ketiga gadis muda itu. Setelah sampai di dekat rumah Indah, Diego langsung membunyikan klakson untuk memberi kode kepada Indah agar menepi. Indah yang cukup kaget dengan suara klakson serak dari motor Diego segera menoleh ke belakang dan berhenti. Senyum merekah dari Diego yang memang paling tampan di kampung di sambut hangat oleh Indah. “Alhamdulillah kamu mau menepi juga cantik,” ucap Diego sambil membuka helm warna hitamnya. Indah tersenyum manis, gigi gingsul dan lesung pipit di pipi kirinya membuat ayu yang unlimited tersuguh sempurna di wajahnya. “Dikira siapa ih, kamu dari mana? Dan mau ke mana?” tanya Indah tersimpuh malu. “Ih kamu ini segala nannya mau ke mana lagi, aku sengaja mengikuti kamu cantik, apa kabar? Udah lama ngga ketemu?” tanya Diego sambil merapikan jambul rambutnya, dan mengetes napasnya, dengan meniupkan udara ke telapak tangan yang di dekatkan ke hidungnya. “Eeehhh ... istimewa sekali aku sampai di ikuti sama kumbang desa,” kekeh Indah sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan. “Iya kamu atuh yang ke mana saja? Kamu ngga pernah kontak aku sekarang, sombong ih,” rajuk Indah sambil manyun. “Aaahhh kumbang desa, serasa terbang menuju neraka ini, eh menuju surga maksudnya he-he-he, maaf cantik aku tu suka gugup kalau ngobrol sama bidadari surga seperti kamu,” celoteh Diego sambil turun dari motor dan mendekati Indah.. “He-he-he, kamu dari dulu ngga pernah berubah Bang, selalu saja humoris,” kekeh Indah. “Ke mana saja atuh kamu teh selama ini? Aku suka nungguin chat dari kamu tapi ngga pernah ada.” Indah menggerutu sambil turun dari sepeda listrik, dan memasang standar kendaraan ringannya. “Itu dia, saya kesini mau minta nomor kontak neng Indah yang cantiknya seperti apotek tutup, gada obat aaaiiiiihhh ...,” Diego terkekeh sambil membuang wajahnya ke samping. “Maklum kalau bujangan tuh kadang lupa sama kebutuhan sendiri, ponsel yang dulunya rusak Neng, tapi catat di disini saja ya, sekarang abang ngga bawa ponsel,” ungkap Diego sambil menyodorkan sebuah buku diary kecil dan bolpoin. Indah mengangguk kecil sambil tersenyum mengambil buku diary dan bolpoin dengan lembut. Namun satpam melaporkan apa yang terjadi di dekat pintu gerbang rumah yang seperti istana ini kepada sang pemiliknya. Sosok wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan berpenampilan elegan berdiri di samping pos satpam. Rambut panjangnya di gerai, dress soft pink yang senada dengan kulit putih mulus tubuhnya sangat elok untuk di pandang. Dengan tatapan tajam dan langkah jenjangnya menghampiri Diego dan Indah yang sedang asyik bercengrama. Indah yang menyadari lebih dulu kehadiran sosok wanita di belakang Diego langsung mematung. Lidahnya kelu, senyum getirnya terbias, dan mengangguk pelan sambil menatap wanita itu. “Siapa yang izinin kamu berhenti di luar?! Siapa yang izinin kamu mengobrol dengan orang kampung di luar?!” bentak wanita paruh baya. “Ma ... maaf Mah, aku salah,” lirih Indah sambil menunduk ketakutan. Diego menoleh ke belakang perlahan. Plaaakkk ... tamparan keras mendarat tepat di pipi Diego. “Jangan berani-berani dekati anak saya, orang kampung!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD