“Ayo mulai!” “Eh, tunggu, Om!” Gendhis menahan Bhumi yang hampir memeluknya, dengan cara mendorong dadanya. Saat ini keduanya sudah berada di dalam bilik asmara fertilitas center. “Kenapa? Kamu nggak mau?” Ditebak seperti itu, Gendhis gugup dan serba salah. Apalagi jika melihat raut wajah suaminya yang berkerut tak suka. “Bukannya nggak mau. Tapi, saya canggung banget kalau harus begituan disini. Saya malu, Om.” “Nggak ada orang yang melihat kita. Kenapa harus malu? Petugas medis di luar itu juga sudah punya sumpah, menjaga rahasia pasiennya.” “Bukan itu, Om. Tapi, saya nggak nyaman. Em…” Gendhis nampak gugup. “Saya tahu kita sudah pernah berhubungan, tapi saya benar-benar bingung kalau nggak dalam pengaruh obat. Apalagi, posisi kita lagi di rumah sakit.” “Kalau begitu, kita lakuka

