“Hahaha! Ayolah, Bung, jangan bercanda!” Senyum jumawa Bhumi lenyap saat Bara menepuk tangannya yang terulur, seolah-olah sudah lama kenal. “Siapa yang bercanda?” Wajah Bhumi berkerut sewot. Merasa diremehkan oleh lelaki muda di depannya. Bara berusaha menghentikan tawanya. “Oke… sorry sorry. Tapi, saya rasa, anda ini memang suka humor, Bung. Sama seperti Gendhis.” lelaki itu sedikit sungkan, tapi masih mempertahankan senyumnya. “Saya tidak sedang melucu. Yang mananya yang kamu anggap humor?” Bara menatap Gendhis dengan ekspresi bingung bercampur sungkan. Mungkin, lelaki itu merasa Bhumi cukup sulit ditebak. “Maafkan saya. Saya hanya sedang mengimbangi anda, Pak.” pada akhirnya, Bara mengambil jalan aman. “Memangnya, apa yang saya lakukan sampai kamu harus mengimbangi saya?” sayang

